Natal dan Refleksi Pelayanan Pendidikan di Manado
Ibadah Natal keluarga besar Dikbud Manado menjadi ruang refleksi moral dan spiritual bagi para pendidik dalam membentuk generasi berkarakter

FORUMADIL, Manado – Suasana khidmat menyelimuti Gereja GMIM Zaitun Karombasan, Wilayah Manado Selatan Empat, Ranotanaweru, Jumat (19/12/2025). Keluarga besar Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) Kota Manado berkumpul dalam ibadah menyambut Natal Yesus Kristus, sebuah momentum yang tidak sekadar ritual keagamaan, tetapi juga ruang refleksi bagi para pendidik tentang makna pelayanan dan tanggung jawab moral dalam dunia pendidikan.

Ibadah Natal ini dihadiri jajaran pimpinan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Manado, para pengawas sekolah, kepala sekolah, guru, serta staf tenaga kependidikan di lingkungan Pemerintah Kota Manado. Kebersamaan lintas jenjang dan peran tersebut memperlihatkan satu kesadaran bersama: pendidikan bukan hanya kerja administratif dan akademik, melainkan panggilan nilai.
Ibadah dipimpin oleh Ketua Jemaat GMIM Bukit Zaitun Karombasan Ranotanaweru, Pdt. Djenny Lexi Batok, S.Th. Dalam khotbahnya, ia mengajak seluruh insan pendidikan untuk menempatkan peristiwa kelahiran Yesus Kristus sebagai cermin etika dan spiritual dalam menjalankan tugas sehari-hari.

Menurutnya, kelahiran Kristus membawa pesan kerendahan hati, kasih, dan pengabdian—nilai-nilai yang sangat relevan dengan dunia pendidikan yang kini dihadapkan pada tantangan zaman, perubahan sosial, serta krisis keteladanan.
“Pendidikan tidak hanya mentransfer pengetahuan, tetapi membentuk manusia. Natal mengingatkan kita bahwa pelayanan yang sejati lahir dari hati yang mau melayani,” ujar Batok dalam khotbahnya.
Suasana ibadah semakin hidup melalui puji-pujian yang dibawakan oleh pimpinan dan staf Dikbud, para kepala sekolah, guru, serta pengawas. Nyanyian rohani yang mengalun menambah suasana syahdu, memperkuat pesan kebersamaan dan pengharapan di tengah tugas besar dunia pendidikan.
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Manado, Peter K. B. Assa, S.T., M.Sc., Ph.D, dalam sambutannya menegaskan bahwa perayaan Natal harus dimaknai lebih dari sekadar agenda tahunan. Ia menyebut Natal sebagai momentum evaluasi batin bagi para pendidik.

“Momen Natal ini bukan sekadar seremonial, melainkan pengingat bagi kita semua sebagai pendidik untuk terus menjadi terang dan pembawa damai bagi anak-anak didik kita di Kota Manado,” kata Assa.
Ia juga menekankan bahwa tantangan pendidikan ke depan tidak bisa dijawab hanya dengan kebijakan dan kurikulum, tetapi juga dengan keteladanan, integritas, serta komitmen moral para pendidik.
Pemilihan lokasi ibadah di GMIM Zaitun Karombasan Ranotanaweru dinilai memiliki makna simbolik. Kehadiran institusi pendidikan di ruang ibadah menunjukkan kedekatan dunia pendidikan dengan masyarakat dan lembaga keagamaan dalam membangun karakter bangsa. Sinergi ini dipandang penting untuk memperkuat nilai-nilai kemanusiaan, toleransi, dan tanggung jawab sosial.
“Pendidikan bukan hanya soal kognitif, tetapi juga soal hati. Melalui ibadah bersama ini, kita mempererat tali kebersamaan agar sinergi dalam memajukan pendidikan di Kota Manado semakin kuat,” lanjut Assa.
Ibadah Natal ditutup dengan sesi foto bersama dan ramah tamah. Momen tersebut menjadi penanda kebersamaan seluruh elemen pendidikan Kota Manado, sekaligus simbol harapan agar nilai-nilai Natal dapat terus hidup dalam praktik pendidikan sehari-hari.

Di tengah dinamika dan tantangan dunia pendidikan, ibadah Natal keluarga besar Dikbud Manado ini menjadi pengingat bahwa pendidikan pada akhirnya adalah soal membentuk manusia seutuhnya—cerdas secara intelektual, matang secara emosional, dan kuat secara moral. (Jendry)



