BERITA TERBARUTEKNO

Menguji Sabut Kelapa, Mencari Material Komposit Masa Depan Indonesia

Penelitian Jonathan Oroh dan kawan-kawan menguji kekuatan serat sabut kelapa sebagai material komposit. Dengan dukungan riset lanjutan, bahan lokal ini dinilai berpotensi dikembangkan hingga aplikasi proteksi berketahanan tinggi.

FORUMADIL, Manado – Jonathan Oroh dan kawan-kawan memulai penelitian ini dari satu kegelisahan yang sering luput dibicarakan di ruang kebijakan: mengapa Indonesia yang kaya serat alam justru bergantung pada material komposit impor. Dari laboratorium Teknik Mesin Universitas Sam Ratulangi, mereka menengok sabut kelapa—limbah yang selama ini lebih sering berakhir sebagai bahan bakar atau keset—sebagai kandidat material rekayasa masa depan.

Penelitian berjudul Analisis Sifat Mekanik Material Komposit dari Serat Sabut Kelapa ini diarahkan untuk menjawab satu tujuan utama: menemukan komposisi dan perlakuan serat yang mampu menghasilkan kekuatan lentur optimal, sekaligus memperbaiki ikatan antarmuka antara serat dan matriks resin. Dengan orientasi serat lurus dan variasi fraksi volume hingga 70 persen, riset ini menempatkan sabut kelapa tidak lagi sebagai bahan tradisional, melainkan sebagai material teknik yang dapat direkayasa secara ilmiah.

“Yang diuji bukan sekadar kuat atau tidak kuat,” demikian arah riset ini dapat dibaca. “Tetapi bagaimana serat lokal bisa bekerja secara struktural ketika diperlakukan dengan metode yang tepat.” Melalui perlakuan alkali NaOH selama dua jam dan pengujian bending berstandar ASTM D 6110, tim peneliti berupaya memetakan titik optimal kekuatan lentur sekaligus memahami pola kegagalan material, dari fiber pull-out hingga patahan serat.

Hasil pengujian menunjukkan perbedaan yang tegas. Serat tanpa perlakuan cenderung gagal karena lemahnya ikatan dengan matriks, sementara serat yang diperlakukan alkali menunjukkan ikatan antarmuka yang lebih solid. Pada fraksi volume 30 persen serat dan 70 persen resin, komposit menunjukkan peningkatan signifikan pada modulus elastisitas dan kekuatan lentur. Temuan ini mengafirmasi tujuan awal penelitian: sabut kelapa bukan sekadar alternatif murah, melainkan kandidat serius material komposit struktural.

Namun bagi Jonathan Oroh dan kawan-kawan, penelitian ini belum dimaksudkan sebagai titik akhir. Ia justru dibaca sebagai fondasi awal. Dengan pengembangan lanjutan—baik pada jenis matriks, orientasi serat, metode laminasi, maupun uji balistik—material komposit berbasis sabut kelapa dinilai memiliki peluang dikembangkan menjadi komposit berketahanan tinggi, termasuk untuk aplikasi proteksi, seperti panel tahan benturan dan peluru.

Di titik inilah riset ini menuntut kehadiran negara. Pengembangan komposit berbasis serat alam hingga level material tahan peluru tidak mungkin hanya ditopang laboratorium kampus dengan dana terbatas. Ia membutuhkan dukungan kebijakan, pendanaan riset berkelanjutan, serta kolaborasi dengan lembaga pertahanan dan industri strategis nasional. Tanpa topangan pemerintah sebagai sponsor riset, sabut kelapa akan terus berhenti sebagai potensi. Dengan dukungan negara, ia berpeluang menjadi material komposit unggulan—kuat, lokal, dan berdaulat secara teknologi.

Oleh : YONATHAN DEIVID OROH, ST., M.Ag

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button