Di Tengah Pertimbangan dan Ketakutan Maria–Yusuf, Roh Kudus Menyatakan Kehendak Allah
Refleksi Teologis atas Matius 1:18–20 tentang iman, ketaatan, dan karya Roh Kudus dalam keheningan manusia

FORUMADIL, Manado – Tidak semua karya besar Allah dimulai dengan keyakinan yang mantap. Dalam kisah kelahiran Yesus, Injil justru mencatat sebuah fase manusiawi: pertimbangan, kebimbangan, dan ketakutan. Maria harus menerima kenyataan yang melampaui akal, sementara Yusuf bergumul dengan kehormatan, hukum, dan iman. Di tengah proses itulah Roh Kudus hadir—bukan untuk menghapus kemanusiaan mereka, melainkan untuk menyatakan kehendak Allah secara utuh dan menyelamatkan.
Pendeta (Pdt) Marry Tambuwun-Rintjap, S.Th. dalam Khotbah Natal di GPdI Lahai-Roi Wasian mengatakan peristiwa kelahiran Yesus Kristus bukan sekadar kisah Natal yang romantis. Injil Matius secara tegas menempatkannya sebagai peristiwa teologis yang lahir dari karya Roh Kudus dan ketaatan manusia.
Dalam Matius 1:18–20, jemaat diajak melihat bagaimana Allah bekerja tidak melalui panggung besar, melainkan melalui keheningan iman Maria dan ketaatan Yusuf.
Ayat ini menjadi kunci pemahaman bahwa keselamatan dunia dimulai bukan dari kekuatan manusia, tetapi dari inisiatif ilahi yang dijawab dengan ketaatan total.
Roh Kudus sebagai Inisiator Keselamatan
Matius 1:18 menegaskan bahwa kehamilan Maria “berasal dari Roh Kudus”. Pernyataan ini bukan simbolis, melainkan teologis dan fundamental.
Secara teologis, Roh Kudus tampil sebagai:
- Agen penciptaan baru, sebagaimana dalam Kejadian 1:2
- Penjamin kekudusan Inkarnasi, tanpa campur tangan kehendak manusia
- Pelaku utama keselamatan, bukan sekadar pelengkap narasi
Penjelmaan bukan hasil rencana manusia, melainkan tindakan Allah sepenuhnya. Dengan demikian, kelahiran Yesus menegaskan bahwa keselamatan bersumber dari anugerah, bukan usaha manusia.
Maria: Ketaatan yang Membuka Jalan Inkarnasi
Walau Injil Matius lebih menyoroti Yusuf, pesan kepada Yusuf tidak dapat dilepaskan dari ketaatan Maria sebelumnya.
Ketika Maria berkata:
“Sesungguhnya aku ini hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataan-Mu.” (Luk. 1:38)
ia sedang mengambil risiko besar:
- Kehilangan reputasi
- Penolakan sosial
- Ancaman hukuman hukum Taurat
Namun secara teologis, Maria menjadi model iman yang taat tanpa jaminan, kecuali janji Allah. Ia menunjukkan bahwa iman sejati bukan menuntut penjelasan lengkap, tetapi percaya pada karakter Allah yang setia.
Yusuf: Ketaatan Diam yang Menjaga Rencana Allah
Matius 1:19 menggambarkan Yusuf sebagai orang benar. Kebenaran Yusuf tidak diekspresikan melalui pidato, melainkan melalui keputusan moral dan ketaatan.
Saat malaikat Tuhan menyampaikan pesan dalam mimpi:
“Janganlah engkau takut mengambil Maria sebagai istrimu.” (Mat. 1:20)
Yusuf dihadapkan pada pilihan:
- Mempertahankan kehormatan diri
- Atau menaati kehendak Allah
Yusuf memilih ketaatan. Ia tidak banyak bicara, tetapi bertindak tepat. Secara teologis, Yusuf menjadi contoh bahwa:
- Ketaatan sering lahir dalam kesunyian
- Orang benar bukan yang paling vokal, tetapi paling taat
Di sinilah keselamatan mulai bergerak dalam sejarah.
Makna Teologis bagi Gereja dan Orang Percaya
Peristiwa ini relevan hingga hari ini. Gereja dan orang percaya dipanggil untuk:
- Percaya bahwa Allah bekerja bahkan saat tidak terlihat
- Taat meski belum memahami seluruh rencana
- Menjadi alat Allah di tengah dunia yang sering tidak adil
Maria dan Yusuf tidak memahami sepenuhnya masa depan, tetapi mereka percaya pada Allah yang memegang masa depan.
Kesimpulan
Matius 1:18–20 mengajarkan bahwa keselamatan dunia dimulai dari karya Roh Kudus dan ketaatan manusia biasa. Tanpa sorak, tanpa panggung, tanpa kekuatan politik.
Roh Kudus bekerja secara ilahi.
Maria taat secara total.
Yusuf setia secara diam.
Dari pertemuan inilah lahir Sang Juruselamat.
Keselamatan tidak dimulai dari kekuasaan, melainkan dari iman yang taat.
Oleh : Pdt. Marry Tambuwun-Rintjap, S.Th. dan saat ini terdata di Gereja Pantekosta di Indonesia Sulawesi Utara, sebagai Gembala Sidang Jemaat GPdI Lahai-Roi Wasian Kecamatan Dimembe Kabupaten Minahasa Utara.
Mengakhiri khotbah, Pdt. Marry Tambuwun-Rintjap, S.Th., mengingatkan kisah Maria dan Yusuf, bahwa Allah tidak menunggu manusia bebas dari ketakutan untuk berkarya. Justru di tengah pertimbangan, kegentaran, dan keterbatasan manusialah Roh Kudus menyatakan kehendak Allah dengan jelas. Natal menjadi kabar bahwa Allah hadir di tengah realitas hidup yang rapuh, sementara Tahun Baru mengajak kita melangkah dengan iman yang sama—percaya, taat, dan bersedia dipimpin oleh Roh-Nya, meski jalan ke depan belum sepenuhnya terlihat.
SELAMAT HARI NATAL
25 DESEMBER 2025
Kiranya damai sejahtera Allah yang dinyatakan dalam kelahiran Kristus menyertai setiap langkah hidup, keluarga, dan karya kita.
SELAMAT TAHUN BARU
01 JANUARI 2026
Semoga Roh Kudus menuntun kita memasuki tahun yang baru dengan iman yang teguh, pengharapan yang hidup, dan ketaatan yang nyata dalam setiap keputusan.



