Ketika Kesombongan Berujung Kejatuhan: Pelajaran Kekuasaan dari Raja Babel hingga Zaman Kini
“Demikian jugalah kamu, hai orang-orang muda, tunduklah kepada orang-orang yang tua. Dan kamu semua, rendahkanlah dirimu seorang terhadap yang lain, sebab: ‘Allah menentang orang yang congkak, tetapi mengasihani orang yang rendah hati.’” (1 Petrus 5:5 – PB)

Tuhan Menentang Orang yang Congkak, tetapi Mengasihi Orang yang Rendah Hati
FORUMADIL, Manado – Dari kisah Nebukadnezar dalam Kitab Daniel, Alkitab merekam bagaimana kekuasaan absolut, ketika kehilangan kerendahan hati, justru menjadi jalan menuju kehancuran—bahkan bagi penguasa terbesar sekalipun.
Kekuasaan, Kesombongan, dan Peringatan yang Diabaikan
Dalam sejarah kuno Timur Tengah, nama Nebukadnezar II menempati posisi istimewa. Ia adalah Raja Babel yang membawa kerajaannya ke puncak kejayaan global pada abad ke-6 SM. Militer Babel ditakuti, tembok kotanya disebut-sebut sebagai salah satu keajaiban dunia, dan wilayah kekuasaannya membentang luas.
Namun Kitab Daniel—bagian dari teks Ibrani yang juga diakui dalam tradisi Kristen—menyajikan sudut pandang berbeda: kejayaan politik tidak selalu sejalan dengan kerendahan hati spiritual.
Alkitab mencatat bahwa di tengah kekuasaannya, Nebukadnezar mengalami serangkaian mimpi yang mengusik ketenangan batinnya. Salah satunya adalah mimpi tentang patung raksasa berkepala emas—yang oleh Daniel ditafsirkan sebagai simbol dirinya sendiri. Namun mimpi itu juga membawa pesan yang tidak nyaman: kejayaan itu bersifat sementara dan berada di bawah otoritas ilahi.
Pesan itu tegas: kekuasaan bukan hasil kebesaran manusia semata, melainkan pemberian Tuhan. Tetapi seperti banyak peringatan dalam sejarah, pesan tersebut didengar tanpa benar-benar ditaati.
Dari Pengakuan Bibir ke Kesombongan Terbuka
Alih-alih merendahkan diri, Nebukadnezar justru melangkah lebih jauh. Ia membangun patung emas raksasa dan mewajibkan rakyatnya untuk menyembahnya. Perintah itu bukan hanya tindakan religius, tetapi juga pernyataan politik: kekuasaan raja tidak boleh dipertanyakan.
Tiga pejabat Yahudi—Sadrakh, Mesakh, dan Abednego—menolak perintah tersebut. Konsekuensinya jelas: hukuman mati di dalam perapian yang menyala-nyala.
Namun narasi Alkitab mencatat kejadian yang mengejutkan. Ketiganya tidak mati terbakar. Bahkan Nebukadnezar melihat sosok keempat di dalam api, yang ia gambarkan “seperti Anak Allah”. Peristiwa itu membuat sang raja kembali mengakui kebesaran Tuhan Israel.
Tetapi pengakuan itu, sekali lagi, tidak berlanjut pada perubahan sikap.
Mimpi Pohon Tumbang dan Kejatuhan Sang Penguasa
Peringatan berikutnya datang melalui mimpi lain: sebuah pohon besar yang ditebang, menyisakan tunggul. Daniel—yang menafsirkan mimpi itu—disebutkan menangis. Tafsirannya jelas dan personal: Nebukadnezar sendiri adalah pohon itu.
Ia akan kehilangan kewarasannya, hidup seperti binatang, dan direndahkan di hadapan semua orang—hingga ia mengakui bahwa Yang Mahatinggi berkuasa atas kerajaan manusia.
Daniel bahkan menyarankan pertobatan segera. Namun Alkitab mencatat bahwa Nebukadnezar menunda.
Puncaknya terjadi ketika sang raja berdiri di atas istana Babel dan berkata dengan penuh kebanggaan:
“Bukankah ini Babel yang besar, yang dengan kekuatan tanganku dan untuk kemuliaan namaku kubangun?”
Kalimat itu belum selesai diucapkan ketika, menurut Kitab Daniel, keputusan ilahi dijatuhkan. Dalam sekejap, raja kehilangan akalnya. Ia hidup terasing, makan rumput seperti lembu, dan tubuhnya dibiarkan tanpa perawatan—sebuah simbol jatuhnya martabat kekuasaan absolut.
Pemulihan yang Dimulai dari Kerendahan Hati
Menariknya, kisah Nebukadnezar tidak berakhir pada kehancuran total. Alkitab mencatat bahwa setelah “waktu yang ditentukan”, kewarasannya kembali. Tindakan pertamanya bukan memulihkan istana atau memperkuat militer, melainkan mengangkat matanya ke langit.
Nebukadnezar kemudian mengeluarkan pengakuan publik yang dicatat dalam Daniel 4:37:
“Aku memuji, meninggikan dan memuliakan Raja Sorga, karena segala perbuatan-Nya adalah benar dan jalan-jalan-Nya adil, dan Ia sanggup merendahkan orang yang hidup dalam keangkuhan.”
Bagi penulis Kitab Daniel, pesan utamanya tegas: Tuhan bukan hanya menjatuhkan penguasa yang congkak, tetapi juga memulihkan mereka yang akhirnya merendahkan diri.
Relevansi bagi Kekuasaan Modern
Kisah ini sering dibaca sebagai teks rohani. Namun bagi sebagian teolog dan pengamat agama, Daniel 4 juga dapat dibaca sebagai kritik kekuasaan. Ia memperlihatkan bagaimana absolutisme, kultus individu, dan glorifikasi diri sendiri kerap menjadi awal keruntuhan.
Ayat dalam 1 Petrus 5:5 menggemakan pesan serupa:
“Allah menentang orang yang congkak, tetapi mengasihani orang yang rendah hati.”
Dalam konteks kekinian—ketika kekuasaan politik, ekonomi, bahkan keagamaan kerap terpusat pada figur tertentu—kisah Nebukadnezar kembali menemukan relevansinya. Kesuksesan tanpa kerendahan hati, menurut teks Alkitab, bukan tanda berkat, melainkan peringatan dini.
Antara Berkat dan Ujian
Dalam tradisi Kristen, kenaikan derajat hidup sering dipahami sebagai anugerah. Namun kisah Nebukadnezar menunjukkan bahwa berkat juga bisa menjadi ujian: apakah manusia akan tetap sadar bahwa segala sesuatu berasal dari Tuhan, atau justru membangun “Babel” versi modern untuk memuliakan diri sendiri.
Alkitab menutup kisah ini dengan nada reflektif, bukan heroik. Seorang raja kafir justru menjadi contoh bahwa kerendahan hati adalah fondasi kekuasaan yang sejati.

Penulis: Pdm.Nasaretsa F.G Mailangkay STT EL-SHADDAI Manado



