BERITA TERBARUDUNIA

Iran di Titik Didih: Protes Besar dan Krisis Domestik Mengguncang Rezim

Krisis ekonomi yang menjerat kehidupan sehari-hari warga Iran menjelma menjadi gelombang protes nasional, membuka kembali jurang ketidakpuasan lama terhadap pemerintahan Teheran.

FORUMADIL, Teheran – Sejak akhir Desember 2025, gelombang protes besar meletus di berbagai kota—dari Teheran, Isfahan, Mashhad, hingga wilayah pinggiran yang selama ini jarang terdengar suaranya. Pemicu awalnya sederhana dan membumi: harga kebutuhan pokok yang melonjak, mata uang rial yang terus merosot, serta lapangan kerja yang makin sempit. Namun, dalam hitungan hari, tuntutan ekonomi berubah menjadi kritik terbuka terhadap sistem kekuasaan.

Di pasar tradisional Teheran, para pedagang menutup kios lebih cepat. Di kawasan industri, buruh memilih mogok kerja. Di universitas, mahasiswa turun ke jalan. Mereka menyuarakan satu keluhan yang sama: hidup semakin tak terjangkau, sementara negara tampak hadir hanya melalui aparat keamanan.

Inflasi tinggi telah memangkas daya beli warga secara drastis. Upah yang tak bergerak seiring harga pangan, obat-obatan, dan energi membuat keluarga kelas menengah terperosok ke jurang kemiskinan baru. Sanksi internasional memang lama menjadi alasan resmi pemerintah, tetapi bagi banyak warga, masalah utama justru ada di dalam negeri: tata kelola ekonomi yang buruk, korupsi, dan dominasi elite politik–militer dalam hampir semua sektor strategis.

Pemerintah Iran merespons protes dengan pendekatan keras. Aparat keamanan dikerahkan, demonstrasi dibubarkan paksa, dan ribuan orang dilaporkan ditangkap. Akses internet diperlambat bahkan diputus total di sejumlah wilayah, memutus jalur komunikasi publik dan menutup ruang dokumentasi independen. Negara kembali mengunci dirinya dari dunia luar—sebuah pola yang berulang setiap kali legitimasi kekuasaan dipertanyakan.

Namun, berbeda dari gelombang protes sebelumnya, skala dan sebaran kali ini lebih luas. Tidak hanya kelas menengah perkotaan, tetapi juga kelompok pekerja, petani, dan masyarakat pinggiran ikut bergerak. Ini menandai perubahan penting: krisis ekonomi telah merobek sekat-sekat sosial yang selama ini menjadi penyangga stabilitas rezim.

Di tengah represi, protes memang mereda di beberapa kota. Tapi ketegangan tidak benar-benar hilang. Ia hanya berubah bentuk—mengendap dalam ketidakpercayaan publik yang semakin dalam terhadap negara. Para pengamat menilai, Iran sedang menghadapi krisis domestik berlapis: ekonomi yang tercekik, legitimasi politik yang melemah, dan generasi muda yang semakin berani menantang otoritas.

Bagi Teheran, ini bukan sekadar persoalan keamanan dalam negeri. Protes besar ini adalah cermin rapuhnya kontrak sosial antara negara dan rakyatnya. Selama krisis ekonomi tidak ditangani secara struktural dan ruang kebebasan tetap dikunci, api ketidakpuasan berpotensi menyala kembali—lebih besar dan lebih sulit dipadamkan.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button