AGAMABERITA TERBARU

Kornelius dan Doa Orang Benar yang Mengubah Arah Sejarah Iman

Kisah perwira Romawi dalam Kitab Kisah Para Rasul membuka babak baru keselamatan lintas batas etnis dan tradisi.

FORUMADIL, Wasian— Nama Kornelius mungkin tidak setenar Petrus atau Paulus. Namun kisahnya, yang tercatat dalam Kisah Para Rasul pasal 10, menandai salah satu titik balik paling menentukan dalam sejarah kekristenan: terbukanya pintu keselamatan bagi bangsa-bangsa non-Yahudi.

Kornelius bukan orang Yahudi. Ia adalah seorang perwira Romawi, bagian dari kekuatan militer penjajah yang kala itu dipandang sebagai simbol penindasan oleh masyarakat Israel. Namun Kitab Suci menggambarkannya sebagai sosok yang “takut akan Allah, memberi banyak sedekah kepada umat, dan senantiasa berdoa kepada Allah.”

Di tengah batas etnis, agama, dan status sosial, Kornelius justru tampil sebagai figur iman yang tulus—seorang pencari Tuhan yang belum mengenal Injil, tetapi hidupnya berkenan di hadapan Allah.

Doa dan Sedekah yang “Diingat” Allah

Puncak kisah Kornelius terjadi ketika ia sedang berdoa pada suatu siang. Dalam penglihatan, seorang malaikat menampakkan diri dan menyebut namanya.

“Doamu dan sedekahmu telah naik ke hadapan Allah dan Allah mengingat engkau.” (Kisah Para Rasul 10:4)

Ungkapan “diingat” dalam konteks Alkitab bukan sekadar diingat secara pasif, melainkan menandakan bahwa Allah memperhitungkan dan menindaklanjuti iman seseorang. Doa Kornelius tidak dipandang sebagai rutinitas kosong, melainkan sebagai kesaksian hidup yang utuh: iman yang diterjemahkan dalam tindakan nyata.

Ketaatan yang Mempercepat Sejarah

Malaikat memerintahkan Kornelius untuk memanggil Petrus dari Yope. Tanpa banyak bertanya, Kornelius segera mengutus orang-orang kepercayannya. Ketaatan itu menjadi mata rantai penting yang mempertemukan dua dunia: komunitas Yahudi dan bangsa-bangsa lain.

Pada saat yang sama, Petrus juga mengalami penglihatan yang mengguncang pemahamannya. Apa yang selama ini dianggap najis, dinyatakan Allah sebagai bersih. Pesan itu jelas: batas-batas lama sedang diruntuhkan.

Pertemuan yang Mengubah Arah Kekristenan

Ketika Petrus tiba di rumah Kornelius, ia mendapati keluarga dan sahabat Kornelius telah berkumpul. Mereka menanti, haus akan kebenaran. Petrus kemudian memberitakan tentang Yesus Kristus—tentang salib, pengampunan, dan keselamatan.

Peristiwa yang terjadi selanjutnya mengejutkan banyak pihak: Roh Kudus turun atas orang-orang non-Yahudi, sama seperti yang dialami para rasul di Yerusalem. Momentum ini menjadi dasar teologis bahwa keselamatan tidak dibatasi oleh suku, bangsa, atau latar belakang agama.

Iman yang Melampaui Identitas

Kisah Kornelius menegaskan satu pesan utama: Allah tidak menilai manusia dari asal-usul, tetapi dari hati. Dalam banyak tafsir, Kornelius justru menjadi cermin kritis bagi komunitas beriman—bahwa kedekatan institusional dengan agama tidak selalu sejalan dengan kepekaan rohani.

Figur Kornelius menunjukkan bahwa iman dapat tumbuh di luar pagar tradisi, dan bahwa doa serta kebaikan yang dilakukan dengan tulus tidak pernah sia-sia.

Warisan Doa yang Menjangkau Generasi

Iman Kornelius tidak berhenti pada dirinya sendiri. Satu rumah tangga menerima keselamatan. Satu sejarah baru terbuka bagi bangsa-bangsa lain. Dari seorang perwira Romawi, lahirlah tonggak penting misi global gereja.

Kisah ini menjadi pengingat bahwa doa pribadi dapat berdampak publik, bahkan mengubah arah sejarah keimanan dunia.

Penulis: Pdm. Reza Nasaretsa F. G. Mailangkay merupakan lulusan STT El-Shaddai Manado dan adalah pelayan gereja yang aktif dalam pelayanan serta pengajaran Alkitab, serta terlibat dalam pembinaan iman melalui rubrik rohani di Forum Adil.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button