AGAMABERITA TERBARU

Hukum Dunia: “Nyawa Ganti Nyawa”Iman Kristen dan Hukum Kasih

Ketika dunia menuntut balasan, iman Kristen menghadirkan jalan yang lebih tinggi: pengampunan yang membebaskan.

MANADO – Sejak zaman kuno, manusia mengenal prinsip keadilan yang keras: mata ganti mata, nyawa ganti nyawa. Prinsip ini lahir dari kebutuhan untuk menegakkan keadilan dan mencegah kekacauan.

Namun dalam praktiknya, prinsip ini sering berubah menjadi lingkaran balas dendam yang tidak pernah berakhir. Luka dibalas luka. Kebencian dibalas kebencian.

Di tengah dunia yang penuh konflik, kekristenan memperkenalkan sesuatu yang berbeda—sebuah hukum yang melampaui keadilan manusia: hukum kasih.

Salah satu kisah paling kuat tentang hal ini datang dari kehidupan Corrie ten Boom.

Kisah Nyata Pengampunan yang Mengguncang Dunia

Pada masa World War II, Corrie ten Boom dan keluarganya di Belanda mempertaruhkan nyawa mereka untuk menyembunyikan orang-orang Yahudi dari pengejaran Nazi.

Tindakan kasih itu akhirnya terbongkar. Corrie dan keluarganya ditangkap dan dikirim ke kamp konsentrasi Ravensbrück concentration camp.

Di sana Corrie menyaksikan penderitaan yang luar biasa. Ia kehilangan anggota keluarganya dan mengalami perlakuan kejam dari para penjaga kamp.

Namun peristiwa paling menggetarkan terjadi setelah perang berakhir.

Dalam sebuah pertemuan pelayanan, seorang pria datang menghampirinya. Pria itu adalah mantan penjaga kamp yang pernah menjadi bagian dari penderitaannya.

Pria itu mengulurkan tangan dan meminta pengampunan.

Dalam sekejap Corrie bergumul. Secara manusia, kebencian terasa lebih mudah. Namun pada akhirnya ia memilih melakukan sesuatu yang tidak masuk akal bagi dunia: Ia mengampuni.

Pengampunan dalam Ajaran Kristus

Pengampunan bukanlah konsep yang lemah dalam iman Kristen. Justru sebaliknya, pengampunan adalah inti dari ajaran Kristus.

Jesus Christ mengajarkan dalam doa yang sangat dikenal:

Matius 6:12

“Dan ampunilah kami akan kesalahan kami, seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami.”

Ia juga menegaskan:

Matius 6:14–15

“Karena jikalau kamu mengampuni kesalahan orang, Bapamu yang di sorga akan mengampuni kamu juga.”

Pengampunan bukan berarti melupakan kejahatan atau membenarkan dosa.
Pengampunan adalah keputusan untuk melepaskan dendam dan mempercayakan keadilan kepada Tuhan.

Rasul Petrus menulis:

1 Petrus 4:8

“Kasih menutupi banyak sekali dosa.”

Teladan Pengampunan dari Para Martir

Contoh luar biasa tentang pengampunan juga terlihat dalam kisah Saint Stephen.

Dalam Acts of the Apostles pasal 7, Stefanus dirajam hingga mati karena imannya.

Namun di tengah penderitaan itu ia berseru:

“Tuhan, janganlah dosa ini Engkau tanggungkan atas mereka.”

Doa ini mengingatkan pada perkataan Yesus saat disalibkan:

“Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat.”
(Lukas 23:34)

Pengampunan ini bukanlah kelemahan. Ini adalah kemenangan kasih atas kebencian.

Kasih yang Membebaskan

Dunia mungkin terus berkata:

“Balaslah kejahatan dengan kejahatan.”

Namun iman Kristen mengajarkan sesuatu yang lebih besar:

  • Mengampuni tanpa batas
  • Melepaskan kebencian
  • Mempercayakan keadilan kepada Tuhan

Karena pengampunan bukan hanya membebaskan orang yang bersalah.

Pengampunan membebaskan hati orang yang mengampuni.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button