BERITA TERBARUSULUT

Dari 5 Jiwa Menuju 437 Jiwa: 91 Tahun Iman GPdI Lahai Roi Wasian

Dirintis sejak 1935 di jalur Kema–Likupang, bertahan dari konflik, dan tumbuh menjadi 134 keluarga.

MINAHASA UTARA —Sukacita memenuhi GPdI Jemaat “Lahai Roi Wasian”, Sabtu, 28 Maret 2026. Di usia ke-91, jemaat ini tidak hanya merayakan hari ulang tahun, tetapi juga mengenang perjalanan panjang yang dimulai dari persekutuan kecil—bahkan hanya lima jiwa.

Februari hingga Maret 1935. Di jalur Kema–Likupang yang masih sunyi, pelayanan Injil mulai diperkenalkan. Tidak ada gedung gereja, tidak ada organisasi besar. Hanya perjumpaan sederhana dari rumah ke rumah.

Di masa itulah, Pdt. A. Tambuwun bersama rekan-rekan sepelayanan menanam benih iman di wilayah Wanua Wasian, yang kini dikenal sebagai Desa Wasian.

Catatan awal tidak mencatat jumlah besar. Justru sebaliknya. Dalam perkembangan awal pelayanan, salah satu kelompok yang terbentuk—Kaum Bapa Pantekosta—hanya terdiri dari lima jiwa.

Dari titik kecil itu, cerita panjang dimulai.

1946–1947: Redup dan Bangkit Kembali

Perjalanan tidak selalu lurus. Pada 1946, situasi keamanan yang tidak menentu membuat pelayanan jemaat meredup. Aktivitas persekutuan melemah, bahkan nyaris terhenti.

Namun setahun kemudian, 1947, pelayanan kembali digerakkan. Pdt. Wuisan Lumempouw bersama keluarga mengambil peran penggembalaan. Dari fase ini, jemaat mulai ditata kembali—perlahan, namun pasti.

1950: Jemaat Mulai Berbentuk

Memasuki tahun 1950, pelayanan tidak lagi sekadar persekutuan kecil. Struktur mulai terbentuk. Kaum Ibu Pantekosta hadir sebagai wadah pelayanan perempuan, memperkuat kehidupan jemaat dari dalam.

Di masa ini pula, jumlah anggota masih sangat terbatas. Namun arah pertumbuhan mulai terlihat.

1957: Peran Pemuda Muncul

Agustus 1957 menjadi salah satu titik penting. Ikatan Pemuda Pantekosta Minahasa (IPM) berdiri di Wasian, dipelopori oleh Ibu Antji Danes dan Ibu Nay Kolondam.

Perkembangan ini menandai keterlibatan generasi muda dalam pelayanan. IPM kemudian berkembang menjadi KMGPI di bawah kepemimpinan Sdr. Alfon Langkay.

Dari sini, pelayanan tidak lagi bertumpu pada satu generasi.

1960–1970-an: Estafet Penggembalaan

Memasuki dekade berikutnya, pelayanan berjalan melalui estafet para gembala. Tahun 1961, penggembalaan dilayani oleh keluarga Pdt. A. Sumampouw–Mandagi.

Tahun 1967, pelayanan dilanjutkan oleh Pdt. Din Korah.
Tahun 1971, penggembalaan diteruskan oleh Pdt. Wauran.
Sekitar 1973, pelayanan kembali dilanjutkan oleh Pdt. Y. Rawung–Sumayku.

Setiap periode membawa warna, namun satu hal tetap sama: jemaat terus bertahan.

1985–1988: Masa Peneguhan Pelayanan

Tanggal 8 Agustus 1985, Majelis Daerah Sulawesi Utara menugaskan Pdt. Joutje Tambuwun sebagai gembala jemaat. Dalam masa transisi, Pdt. Sukardi sempat melayani sebagai karateker.

Dua tahun kemudian, 2 Desember 1987, menjadi tonggak penting: gedung gereja akhirnya berdiri. Lahan itu dikorbankan oleh Bapak Dan. K. Rotinsulu.

Saat itu, jumlah jemaat tercatat 63 kepala keluarga.

Pada 11 Januari 1988, Pdt. Marry Tambuwun–Rintjap resmi dilantik sebagai gembala jemaat—pelayanan yang terus berlanjut hingga kini.

2016: Peresmian dan Pengakuan

Tanggal 28 Desember 2016, gedung gereja ditahbiskan oleh Pdt. Ibu Yvone Awuy Lantu dan diresmikan oleh Bupati Minahasa Utara saat itu, Vonny A. Panambunan.

Peristiwa ini menjadi peneguhan atas perjalanan panjang yang telah dilalui selama puluhan tahun.

2026: 91 Tahun dan Tantangan Baru

Memasuki tahun 2026, GPdI Lahai Roi Wasian genap berusia 91 tahun. Di tengah perayaan itu, jemaat kini berjumlah 437 jiwa yang tersebar dalam 134 kepala keluarga.

Dari jumlah tersebut, terdiri atas 208 laki-laki dan 229 perempuan, mencerminkan pertumbuhan yang terus terjaga dari waktu ke waktu. Kehidupan pelayanan juga terlihat aktif melalui berbagai kelompok, mulai dari 72 anak sekolah minggu, 106 pemuda dan remaja, hingga 141 kaum wanita/ibu dan 118 kaum pria.

Angka-angka itu bukan sekadar statistik, melainkan gambaran nyata bahwa jemaat yang dahulu bertumbuh dari komunitas kecil kini telah berkembang menjadi persekutuan yang hidup dan dinamis lintas generasi.

Namun di usia ke-91 ini, tantangan kembali hadir. Rencana pelebaran jalan berdampak pada keberadaan gedung gereja, sehingga jemaat dihadapkan pada kebutuhan pemugaran.

Situasi ini seakan mengulang jejak masa lalu—ketika segala sesuatu harus dimulai dari keterbatasan. Bedanya, kini jemaat berdiri dengan fondasi yang lebih kuat: pengalaman, kebersamaan, dan iman yang telah teruji selama puluhan tahun.

Dari Kecil, Menjadi Kesaksian

Sembilan puluh satu tahun lalu, hanya ada lima jiwa yang tercatat dalam pelayanan awal.

Hari ini, ratusan keluarga berdiri dalam satu jemaat.

Perjalanan itu tidak dibangun dalam semalam. Ia bertumbuh pelan, melewati konflik, pergantian zaman, dan generasi.

Dan seperti pada awalnya—
yang menjaga semuanya tetap hidup bukanlah gedung, bukan pula jumlah.

Melainkan iman yang tidak berhenti bertumbuh.

Pdt. Marry Tambuwun–Rintjap, S.Th. Gembala GPdI Lahai Roi Wasian.

Penulis: Pdt. Jerry Tambuwun. S.Th saat ini juga merupakan Wakil Gembala GPdI Lahai Roi Wasian

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button