Event Skala Nasional, Rasa Daerah: Catatan dari Paskah Nasional di Manado
Perayaan di Kawasan Pohon Kasih Megamas memperlihatkan kontras antara skala nasional dan eksekusi teknis di lapangan.

MANADO- Paskah Nasional 2026 di Manado seharusnya menjadi panggung besar kebangkitan iman sekaligus simbol kekuatan Indonesia Timur. Namun, pelaksanaan di lapangan justru memunculkan pertanyaan mendasar: mengapa event berskala nasional terasa seperti kegiatan daerah?
Ribuan umat yang hadir di kawasan Pohon Kasih Megamas menunjukkan antusiasme tinggi. Tetapi di balik semangat tersebut, sejumlah kekurangan teknis terlihat jelas—mulai dari ukuran panggung yang tidak proporsional, kualitas audio yang kurang maksimal, hingga keterbatasan fasilitas visual seperti videotron.
Dalam standar event nasional, aspek teknis bukan sekadar pelengkap, melainkan penentu utama pengalaman peserta. Namun yang terjadi, banyak jemaat justru harus berjuang mengikuti jalannya ibadah, baik karena jarak pandang yang terbatas maupun kualitas suara yang kurang jernih.
Panggung Nasional, Standar Lokal
Salah satu sorotan utama adalah ukuran panggung yang dinilai tidak sebanding dengan skala kegiatan. Secara visual, panggung lebih menyerupai kegiatan tingkat kabupaten atau kota, bukan event nasional yang melibatkan ribuan peserta lintas daerah.
Padahal, dalam event berskala nasional, panggung berfungsi sebagai pusat komunikasi visual dan simbol representasi acara. Ketika ukuran dan desainnya tidak maksimal, dampaknya langsung terasa pada kualitas keseluruhan kegiatan.
Kenyamanan Peserta Terabaikan
Faktor lain yang tidak kalah penting adalah kenyamanan peserta dan pelayan ibadah. Di lokasi terbuka seperti Megamas, paparan sinar matahari menjadi tantangan utama.
Dari sejumlah titik, terlihat peserta harus menggunakan payung untuk melindungi diri dari panas. Bahkan, pelayan ibadah (khadim) juga tidak sepenuhnya terlindungi.
Hal ini menunjukkan bahwa perencanaan teknis belum sepenuhnya mengantisipasi kondisi lapangan.
Audio Visual Minim, Pengalaman Terganggu
Keterbatasan videotron dan kualitas sound system menjadi catatan penting lainnya.
Dalam event dengan jumlah peserta besar:
- visual harus menjangkau semua arah
- audio harus terdengar jelas hingga titik terjauh
Namun yang terjadi:
- layar terbatas dan tidak merata
- suara terdengar kurang stabil
Akibatnya, sebagian jemaat kesulitan mengikuti jalannya ibadah secara utuh.
Antara Perencanaan dan Realitas
Kondisi ini memunculkan dugaan bahwa perencanaan event belum sepenuhnya matang atau tidak dieksekusi dengan standar profesional yang seharusnya.
Padahal, event seperti ini melibatkan banyak pihak, termasuk pemerintah dan aparat seperti Kepolisian Daerah Sulawesi Utara yang telah menyiapkan ribuan personel untuk pengamanan.
Ironisnya, ketika aspek keamanan dipersiapkan secara serius, justru aspek teknis dan kenyamanan peserta menjadi titik lemah.
Lebih dari Sekadar Seremonial
Paskah bukan sekadar acara, melainkan refleksi nilai kebangkitan, pembaruan, dan kesungguhan.
Karena itu, pelaksanaannya pun seharusnya mencerminkan nilai tersebut—termasuk dalam hal profesionalisme, perencanaan, dan penghargaan terhadap peserta.
Jika tidak, maka yang tersisa hanyalah seremoni besar tanpa pengalaman yang bermakna.
Kesimpulan
Paskah Nasional 2026 di Manado memperlihatkan satu hal penting:
Skalanya nasional, tetapi eksekusinya masih terasa daerah.
Ini bukan sekadar kritik, tetapi pengingat bahwa event keagamaan nasional harus dikelola dengan standar terbaik—bukan hanya untuk terlihat besar, tetapi benar-benar dirasakan oleh umat.
Oleh: Redaksi ForumAdil



