Event Nasional di Megamas: Siap Teknis atau Sekadar Seremonial?
Pemilihan Kawasan Megamas Manado sebagai pusat Paskah Nasional diuji oleh kesiapan teknis, termasuk pengamanan besar-besaran dari aparat kepolisian.

MANADO – Kawasan Megamas di Manado akan menjadi pusat perayaan Paskah Nasional 2026. Lokasi strategis ini dipilih karena mampu menampung ribuan peserta, namun sekaligus menghadirkan tantangan besar dari sisi teknis dan pengamanan.
Sebagai ruang terbuka di pusat kota, Megamas dikenal memiliki tingkat kepadatan tinggi. Potensi kemacetan, keterbatasan akses keluar-masuk, serta pengelolaan massa menjadi isu krusial yang harus diantisipasi secara matang.
Dalam menghadapi hal tersebut, Kepolisian Daerah Sulawesi Utara menyiagakan sedikitnya 6.052 personel untuk pengamanan Paskah 2026. Ribuan personel ini akan disebar di berbagai titik, mulai dari gereja, lokasi acara utama, hingga jalur-jalur strategis di Kota Manado.
Selain pengerahan personel, Polda Sulut juga telah menggelar rapat koordinasi lintas instansi guna mematangkan skema pengamanan. Pengaturan lalu lintas, sterilisasi lokasi, hingga kesiapan menghadapi situasi darurat menjadi bagian dari strategi yang disiapkan.
Pengamanan bahkan ditingkatkan ke level nasional, dengan perhatian khusus pada kedatangan tamu-tamu penting melalui Bandara Sam Ratulangi. Hal ini menunjukkan bahwa Paskah Nasional di Manado bukan sekadar agenda lokal, melainkan event berskala tinggi.
Namun demikian, besarnya jumlah personel justru menandakan potensi kerawanan yang tidak kecil. Kerumunan dalam jumlah besar di ruang terbuka seperti Megamas tetap menyimpan risiko, terutama jika koordinasi di lapangan tidak berjalan optimal.
Di sisi lain, aparat juga mengimbau masyarakat untuk turut menjaga ketertiban selama kegiatan berlangsung. Keterlibatan publik ini menjadi penting, namun sekaligus memunculkan pertanyaan tentang sejauh mana sistem pengamanan dapat berdiri mandiri tanpa bergantung pada kesadaran masyarakat.
Dari sisi ekonomi, kegiatan ini diharapkan mendorong pertumbuhan sektor UMKM dan pariwisata. Namun tanpa pengelolaan yang baik, manfaat tersebut berpotensi tidak merata dan hanya dirasakan sebagian pihak.
Paskah Nasional seharusnya menjadi simbol kebangkitan, bukan hanya dalam aspek spiritual, tetapi juga dalam tata kelola dan pelayanan publik. Kini, semua mata tertuju pada Manado.
Apakah perhelatan ini akan berjalan sukses sebagai kebanggaan nasional, atau justru menyisakan catatan kritis di balik kemeriahannya?



