Hanya Dekat Allah Saja Aku Tenang
“Hanya dekat Allah saja aku tenang, dari pada-Nyalah keselamatanku.” (Mazmur 62:2, TB)

FORUMADIL, Manado – Mazmur ini adalah pengakuan iman Raja Daud di tengah tekanan, ancaman, dan ketidakpastian hidup. Ia menyadari bahwa ketenangan sejati tidak berasal dari kekuasaan, harta, atau relasi manusia, melainkan hanya dari kedekatan dengan Allah. Di saat segala sesuatu dapat berubah dan runtuh, Tuhan tetap menjadi sumber keselamatan yang tidak tergoyahkan.
Penulis artikel rohani Forum Adil, Pendeta Muda (Pdm) Nasaretsa F. G. Mailangkay mencoba makna ayat ini melalui Kebenaran firman yang dapat dipahami lebih dalam melalui sebuah ilustrasi rohani tentang kisah seorang raja dan keempat istrinya, yang menggambarkan perjalanan hidup setiap manusia.
Ilustrasi Kehidupan: Kisah Seorang Raja dan Keempat Istrinya
Konon, ada seorang raja di Tiongkok yang memiliki empat orang istri. Raja itu sangat mencintai istri keempatnya, karena ia paling cantik di seluruh kerajaan. Ia dimanjakan dengan hadiah mahal, perhiasan, dan berbagai kenikmatan dunia.
Raja juga sangat membanggakan istri ketiganya, seorang perempuan cerdas dan berwawasan luas. Ia kerap dipamerkan di hadapan para pejabat dan raja dari negeri lain sebagai simbol kehormatan dan prestise.
Istri kedua menjadi tempat raja mencurahkan isi hati. Ia setia mendengarkan, memberi penghiburan, dan menemani raja dalam masa-masa sulit.
Namun istri pertama justru diabaikan. Padahal dialah yang paling setia, paling banyak berkorban, dan paling giat bekerja bagi kerajaan. Kini ia tampak tua, sakit-sakitan, dan terlupakan.
Ketika raja menyadari ajalnya sudah dekat, ia memanggil keempat istrinya dan menanyakan satu pertanyaan yang sama:
“Maukah engkau menemaniku ke mana pun aku pergi?”
Tiga istri yang paling ia cintai menolak. Hanya istri pertama yang berkata,
“Aku akan bersamamu dan menemanimu ke mana pun engkau pergi.”
Dengan penyesalan mendalam, raja menyadari bahwa selama hidupnya ia telah mengabaikan yang paling setia.
Makna dari Ilustrasi ini, menurut Pdm Nasaretsa Mailangkay merupakan cermin kehidupan manusia.
Lebih dalam dijelaskannya, istri keempat melambangkan tubuh.
Tubuh sering menjadi pusat perhatian utama manusia. Kita merawatnya dengan makanan lezat, pakaian terbaik, kosmetik, perhiasan, dan kenyamanan hidup. Namun tubuh bersifat sementara. Saat kematian datang, tubuh tidak dapat ikut menyertai kita.
Istri ketiga melambangkan status, gelar, dan kebanggaan duniawi.
Pendidikan, jabatan, kekayaan, dan prestasi sering menjadi identitas utama yang kita banggakan dan pamerkan. Namun semua itu akan ditinggalkan. Status sosial tidak memiliki kuasa menyelamatkan jiwa.
Istri kedua melambangkan sahabat dan relasi.
Keluarga, teman, dan orang-orang terdekat memang sangat berarti dalam hidup. Mereka menemani kita dalam suka dan duka. Namun kesetiaan mereka memiliki batas. Pada akhirnya, mereka hanya dapat mengantar sampai liang kubur.
Istri pertama melambangkan roh.
Roh sering kali diabaikan karena tidak terlihat dan tidak memberi keuntungan duniawi secara instan. Namun justru roh adalah bagian kekal dari manusia. Saat semua yang lain pergi, roh tetap tinggal dan menghadap Allah, Sang Pencipta dan Penyelamat.
Dalam Mazmur 62:2, “Hanya Dekat Allah Aku Tenang”, Pdm. Nasaretsa Mailangkay menegaskan bahwa ketenangan sejati dan keselamatan hanya ditemukan dalam Tuhan. Daud menyebut Tuhan sebagai gunung batu dan kota benteng, tempat perlindungan yang kokoh di tengah goncangan hidup.
Ketenangan di dalam Tuhan bukan berarti hidup tanpa masalah, melainkan keyakinan bahwa Tuhan menopang dan memegang kendali penuh atas hidup kita. “Hanya pada Allah saja aku tenang, sebab dari pada-Nyalah harapanku” (Mazmur 62:6). Harapan sejati tidak terletak pada kekayaan, kekuasaan, atau manusia, tetapi pada Allah yang setia.
Karena itu, Daud mengajak setiap orang percaya untuk mencurahkan isi hati dan menyerahkan hidup sepenuhnya kepada Tuhan (bdk. Mazmur 37:5). Bersandar kepada Allah berarti mempercayakan masa kini dan masa depan kepada-Nya.
Melangkah ke Tahun Baru dengan Ketergantungan yang Benar
“Sebentar lagi kita akan meninggalkan tahun 2025 yang penuh kenangan dan memasuki tahun 2026. Firman Tuhan ini mengingatkan kita untuk mengalihkan ketergantungan dari segala sesuatu yang fana dan sementara kepada Tuhan yang kekal dan setia”, jelas Hamba Tuhan, jebolan STT EL-SHADDAI Manado dan pemilik nama lengkap Nasaretsa F. G Mailangkay.
Lanjutnya, dengan menempatkan Allah sebagai pusat hidup, kita akan mengalami kedamaian, kekuatan, berkat, dan terlebih lagi keselamatan yang sempurna, bahkan di tengah badai kehidupan.
Penutup: Perlu ditegaskan bahwa kisah tentang empat istri dalam renungan ini bukanlah fakta sejarah maupun ajaran Kristus, melainkan ilustrasi simbolik untuk menggambarkan karakter dan prioritas hidup manusia. Alkitab secara jelas mengajarkan kesetiaan dalam pernikahan dan tidak membenarkan poligami maupun perkawinan campur (bdk. Kejadian 2:24; Matius 19:4–6; 1 Korintus 7:2; 2 Korintus 6:14). Yesus menegaskan bahwa sejak semula Allah menetapkan pernikahan sebagai ikatan kudus antara satu laki-laki dan satu perempuan, mencerminkan kasih, kesetiaan, dan kekudusan hubungan antara Kristus dan jemaat-Nya. Karena itu, ilustrasi ini hendaknya dipahami semata-mata sebagai alat refleksi rohani, bukan pembenaran terhadap praktik yang bertentangan dengan firman Tuhan.
Amin.



