Ketika Bencana Alam Datang, Iman Diuji
Membaca Ulang Bencana sebagai Peringatan dan Tanggung Jawab Manusia

FORUMADIL, Manado — Banjir bandang yang menerjang sejumlah wilayah di Indonesia pada akhir tahun lalu kembali menyisakan duka mendalam. Namun, di balik angka korban dan rumah yang hanyut, bencana juga membuka pertanyaan lama: apakah manusia sungguh mendengar peringatan dari alam—dan dari Tuhan?
Banjir bandang yang terjadi pada akhir November lalu bukan hanya memutus akses jalan dan aliran listrik. Di sebuah kampung di Aceh Tengah, peristiwa ini membuka kembali trauma lama warga yang belum sepenuhnya pulih sejak gempa besar tahun 2013. Lumpur dan air bah seolah membawa ingatan pahit bahwa bencana tidak pernah benar-benar pergi—ia hanya menunggu saat yang tepat untuk kembali.
Data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menunjukkan skala tragedi yang lebih luas. Hingga Jumat (26/12) pukul 21.00 WIB, tercatat 1.137 korban jiwa akibat rangkaian bencana di tiga provinsi di Sumatra. Aceh mencatat 504 korban meninggal, disusul Sumatra Utara 371 jiwa, dan Sumatra Barat 262 jiwa. Angka-angka ini bukan sekadar statistik; ia merepresentasikan keluarga yang tercerabut, komunitas yang kehilangan, dan luka sosial yang membutuhkan waktu panjang untuk disembuhkan.
Bencana serupa juga terjadi jauh dari Sumatra. Pada Senin (5/1) dini hari, banjir bandang melanda Kabupaten Kepulauan Siau Tagulandang Biaro (Sitaro), Sulawesi Utara. Hujan berintensitas tinggi sejak dini hari menyebabkan sungai meluap secara tiba-tiba sekitar pukul 02.30 WITA. Empat kecamatan—Siau Timur, Siau Tengah, Siau Barat, dan Siau Barat Selatan—terdampak langsung.
Akibatnya, 16 orang meninggal dunia, tiga orang masih dinyatakan hilang hingga Selasa (6/1) pukul 14.00 WIB, dan ratusan warga terpaksa mengungsi. Infrastruktur rusak, aktivitas ekonomi lumpuh, dan masyarakat kembali dihadapkan pada kenyataan bahwa mereka hidup berdampingan dengan alam yang semakin sulit diprediksi.
Alam yang Rusak, Manusia yang Lalai
Dalam banyak diskusi publik, bencana kerap dipahami semata sebagai fenomena alam: hujan ekstrem, perubahan iklim, atau kontur wilayah. Namun dalam perspektif iman—khususnya iman Kristen—bencana juga dapat dibaca sebagai tanda relasi yang retak antara manusia, alam, dan Sang Pencipta.
Mazmur 121:1–2 mencatat pengakuan iman yang sederhana namun kuat:
“Aku melayangkan mataku ke gunung-gunung; dari manakah akan datang pertolonganku?
Pertolonganku ialah dari Tuhan, yang menjadikan langit dan bumi.”
Ayat ini bukan ajakan untuk mengabaikan realitas, melainkan pengingat bahwa manusia bukan pusat semesta. Dalam teologi Kristen, alam bukan sekadar objek eksploitasi, melainkan ciptaan yang dipercayakan untuk dijaga.
Kerusakan lingkungan—deforestasi, alih fungsi lahan, pengelolaan sungai yang abai, hingga tata ruang yang serampangan—menunjukkan kegagalan manusia menjalankan perannya sebagai khalifah atau penjaga bumi. Ketika hujan deras turun dan sungai meluap, yang runtuh bukan hanya tanggul, tetapi juga tanggung jawab moral.
Antara Penghakiman dan Peringatan
Tidak semua bencana layak disebut sebagai hukuman ilahi. Alkitab membedakan antara penghakiman langsung dan penderitaan sebagai konsekuensi dari dunia yang telah rusak oleh dosa. Rasul Paulus dalam Roma 8:19–21 menggambarkan seluruh ciptaan “mengeluh” karena berada dalam kondisi yang tidak semestinya.
Dalam kerangka ini, bencana lebih tepat dipahami sebagai peringatan, bukan vonis. Ia adalah bahasa keras yang memaksa manusia berhenti sejenak dari rutinitas, menggoyahkan ilusi keamanan, dan mengajukan pertanyaan mendasar tentang arah hidup dan pembangunan.
Gereja di Tengah Puing
Di tengah puing-puing dan pengungsian, muncul pertanyaan penting: di mana peran gereja dan komunitas iman?Bagi banyak korban, kehadiran relawan, bantuan logistik, dan dukungan psikososial justru menjadi wujud paling nyata dari iman yang hidup.
Teologi Kristen tidak menempatkan Tuhan sebagai sosok jauh yang hanya “mengirim” bencana, tetapi sebagai Allah yang hadir di tengah penderitaan. Dalam konteks ini, bencana menjadi ujian bagi gereja: apakah hanya lantang berkhotbah, atau juga tanggap melayani.
Harapan di Tengah Ketidakpastian
Meski bencana terus berulang, iman Kristen menyimpan keyakinan yang bertahan lintas zaman: penderitaan bukan kata akhir. Harapan akan Kerajaan Allah—langit dan bumi yang baru—menjadi jangkar di tengah ketidakpastian. Harapan ini bukan alasan untuk pasrah, melainkan dorongan untuk bertindak lebih bertanggung jawab hari ini.
Bencana alam, dengan segala kedukaannya, menyisakan pesan yang tidak boleh diabaikan. Ia memanggil manusia untuk bertobat secara personal, berbenah secara sosial, dan bertindak secara ekologis. Pertanyaannya bukan lagi apakah alam sedang marah, melainkan apakah manusia bersedia mendengar—dan berubah—sebelum peringatan berikutnya datang.

Penulis: Pdm.Nasaretsa F.G Mailangkay STT EL-SHADDAI Manado



