SBY Tegaskan “Matahari Demokrat Hanya Satu, Mas AHY”
Pernyataan Susilo Bambang Yudhoyono tentang kepemimpinan tunggal AHY dibaca sebagai pesan konsolidasi internal Partai Demokrat sekaligus penegasan arah politik pasca transisi kekuasaan nasional.

“Matahari Demokrat cuma satu, Mas AHY,”
FORUMADIL, Jakarta – Tegas Ketua Majelis Tinggi Partai Demokrat, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), dalam sambutan pada Perayaan Natal dan Tahun Baru Partai Demokrat di Jakarta. Pernyataan langsung mantan Presiden RI tersebut disampaikan saat ia menjadi pembicara utama mewakili AHY yang sedang bertugas di luar negeri.
Dengan menekankan “Saya boleh dikatakan seorang mentor senior, mataharinya hanya satu di Partai Demokrat, Mas AHY,” SBY menutup spekulasi tentang kepemimpinan ganda dalam partai.
Di tengah momen konsolidasi internal tersebut, PD memang gencar menyolidkan struktur organisasi. Pada akhir Maret 2025, Ketua Umum AHY mengumumkan susunan kepengurusan PD periode 2025–2030 yang disebutnya disusun “mempertimbangkan kapasitas, integritas, dan loyalitas para kader” demi “memperkuat Demokrat agar semakin solid” menghadapi agenda politik mendatangmendatang.
Pesan SBY tentang “matahari” tunggal ini dinilai para pengamat sebagai sinyal tegas penutupan ruang bagi dualisme kepemimpinan. Situs Dirgantara Online misalnya menyimpulkan bahwa pernyataan SBY bukan sekadar klarifikasi struktural, tetapi “terbaca sebagai sinyal konsolidasi dan afirmasi kepemimpinan AHY, sekaligus penegasan bahwa tidak ada ‘matahari kembar’ di tubuh Demokrat”.
Langkah-langkah konsolidasi itu menunjukkan upaya Demokrat menegaskan kesolidan internal terutama sebagai mitra koalisi pemerintahan yang setia menerapkan prinsip “country first, the people first” dalam bekerja sama dengan pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.
Penegasan kepemimpinan tunggal itu juga mencerminkan tradisi loyalitas struktural di tubuh Demokrat. Dalam budaya partai, loyalitas kepada pimpinan sering dianggap mutlak. Sebelumnya, Anas Urbaningrum – eks Ketua Umum PD – pernah menegaskan bahwa meski ada perbedaan kebijakan, “loyalitas saya kepada partai, loyalitas struktural Ketum dengan Dewan Pembina… tetap sama, tidak ada yang aneh”.
Kini, AHY menindaklanjuti normanya dengan menekankan kriteria loyalitas saat merombak kepengurusan. Ia menegaskan bahwa susunan baru itu dibuat untuk menguatkan kesolidan partai. Penekanan pada loyalitas kader membantu meredam gesekan internal dan memperkuat hirarki, selaras dengan posisi SBY yang secara resmi mengambil peran sebagai “mentor senior” daripada pesaing kepemimpinan AHY.
Meskipun demikian, isu demokrasi internal tetap menjadi tantangan. Pengamat politik Arfianto Purbolaksono mencatat rendahnya mekanisme demokrasi di Demokrat, terlihat dari praktik favoritisme. Contohnya, pemilihan AHY sebagai Ketua Umum menggantikan ayahnya, SBY, sempat dipersoalkan oleh beberapa pihak sebagai pelanggaran Anggaran Dasar/Anggaran Rumah Tangga partai.
Ia menyoroti bahwa tudingan itu dilatarbelakangi aturan internal partai yang ketat tentang syarat kandidat ketum. Kasus-kasus seperti itu menunjukkan friksi lama di Demokrat yang bersumber pada kendali kader lama dan dominasi “kelompok pendiri”. Dengan otoritas partai yang terkonsentrasi pada pemimpin tunggal, penguatan institusionalisasi partai menjadi penting agar regenerasi berjalan terbuka dan transparan.
Sebagai Ketua Umum sekaligus pejabat negara (Menkoinfra), peran AHY saat ini diakui vital. SBY pun dengan rendah hati menyerahkan sepenuhnya panggung utama partai kepada AHY. Dalam pidatonya SBY menegaskan bahwa seharusnya “yang menyampaikan sambutan utama adalah pemimpin Partai Demokrat, Bung Agus Harimurti Yudhoyono… mataharinya hanya satu di Partai Demokrat, Mas AHY”.
SBY menjelaskan bahwa absennya AHY pada acara itu karena AHY sedang mendampingi Presiden Prabowo Subianto dalam kunjungan kerja – menekankan sikap “negara dulu, rakyat dulu, baru partai” sebagai prioritas Demokrat. Dengan demikian, PD menampilkan AHY sebagai pemimpin yang loyal kepada pemerintahan sekaligus mempertegas garis kepemimpinan internal.
Pengamat politik memandang penegasan figur tunggal ini sebagai upaya ganda. Di satu sisi, konsolidasi figur sentral dapat menguatkan kohesi organisasi dan menyatukan kader di bawah visi bersama. Namun di sisi lain, terlalu terpusatnya kekuasaan dapat membatasi dinamika demokrasi internal. Peneliti dari Citra Institute bahkan berpendapat AHY seharusnya semakin fokus melakukan konsolidasi internal agar “konflik tak meluas” daripada mencari perlindungan eksternal, karena bergantung pada dukungan luar justru mencerminkan kepemimpinan yang belum optimal.
Dengan masa transisi menuju pemilu mendatang, paradigma “matahari tunggal” ini dinilai efektif menegaskan soliditas Demokrat dalam koalisi, namun pengamat menekankan perlunya menjaga mekanisme demokratis agar aspirasi akar rumput tetap terakomodasi.
Sumber: Percakapan pidato SBY dan pernyataan resmi Partai Demokrat; editorial kepartaian dan analisis pengamat.



