AGAMABERITA TERBARU

Stunting Fisik dan Stunting Rohani dalam Perspektif Pembangunan Manusia

Upaya negara menekan angka stunting fisik terus digencarkan. Namun di balik krisis gizi yang terukur oleh data, muncul persoalan lain yang tak kalah serius: stunting rohani, ketika pertumbuhan iman dan kedewasaan spiritual tertinggal dan berdampak pada kehidupan sosial masyarakat.

Oleh: Pdm. Reza Nasaretsa F.G Mailangkay

FORUMADIL, Manado – Stunting masih menjadi tantangan besar dalam pembangunan manusia Indonesia. Di kawasan Asia Tenggara, Indonesia menempati posisi kedua atau ketiga tertinggi prevalensi stunting, dengan angka berkisar antara 19,8 hingga 22 persen. Fakta ini menunjukkan bahwa persoalan gizi, kesehatan ibu dan anak, serta pola asuh masih menjadi pekerjaan rumah yang belum tuntas.

Stunting didefinisikan sebagai gangguan pertumbuhan dan perkembangan anak akibat kekurangan gizi kronis, terutama pada 1.000 hari pertama kehidupan. Dampaknya tidak hanya terlihat pada tinggi badan yang lebih pendek dari standar usia, tetapi juga pada perkembangan kognitif, metabolisme, hingga daya tahan tubuh. Dalam jangka panjang, stunting berpotensi menurunkan kualitas sumber daya manusia dan produktivitas sosial-ekonomi bangsa.

Pemerintah merespons persoalan ini melalui berbagai kebijakan, mulai dari intervensi gizi spesifik dan sensitif, penguatan Posyandu, perbaikan sanitasi dan akses air bersih, hingga Program Makan Bergizi Gratis. Target penurunan prevalensi stunting hingga 14 persen menjadi indikator keseriusan negara dalam membangun manusia secara fisik dan kesehatan dasar.

Namun, pembangunan manusia sejatinya tidak hanya berbicara tentang tubuh yang sehat dan tumbuh optimal. Sejumlah kalangan menilai, di tengah fokus pada stunting fisik, ada persoalan lain yang kerap luput dari perhatian, yakni stunting rohani.

Namun, tahukah kita bahwa selain stunting fisik, ada kondisi lain yang tak kalah berbahaya, yaitu stunting rohani?

Stunting rohani (spiritual stunting) adalah kondisi terhambatnya pertumbuhan iman dan kedewasaan rohani seseorang. Usia rohani tidak sebanding dengan lamanya seseorang mengenal iman, ditandai dengan ketidakmampuan menerima pengajaran yang lebih dalam, kemalasan rohani, dan sikap hati yang masih kekanak-kanakan.

📖 Stunting Rohani Menurut Perspektif Iman Kristen?

✝️ Ibrani 5:12–14(TB)

Sebab sekalipun kamu, ditinjau dari sudut waktu, sudah seharusnya menjadi pengajar, kamu masih perlu lagi diajarkan asas-asas pokok dari penyataan Allah, dan kamu masih memerlukan susu, bukan makanan keras.Sebab barangsiapa masih memerlukan susu ia tidak memahami ajaran tentang kebenaran, sebab ia adalah anak kecil.Tetapi makanan keras adalah untuk orang-orang dewasa, yang karena mempunyai pancaindera yang terlatih untuk membedakan yang baik dari pada yang jahat.”

Ayat ini menggambarkan menggambarkan orang-orang yang secara waktu seharusnya sudah dewasa, namun masih membutuhkan “susu”, bukan “makanan keras”. Gambaran ini menunjukkan ketidakmatangan rohani—ketidakmampuan memahami kebenaran yang lebih dalam dan membedakan yang baik dari yang jahat. Teguran ini bukan dimaksudkan untuk menghakimi, melainkan untuk menyadarkan bahwa iman yang tidak dilatih akan berhenti bertumbuh.

Dampak stunting rohani tidak hanya bersifat personal, tetapi juga sosial. Individu yang tidak bertumbuh secara rohani cenderung kehilangan kepekaan moral, mudah terseret arus kebencian, hoaks, dan konflik, serta sulit membangun relasi yang sehat di tengah masyarakat majemuk. Dalam skala luas, stunting rohani dapat melahirkan krisis nilai, rapuhnya etika publik, dan menurunnya kualitas kehidupan bersama.

Jika stunting fisik disebabkan oleh kekurangan gizi dan lingkungan yang tidak sehat, maka stunting rohani kerap lahir dari kemalasan belajar, minimnya pendalaman iman, serta kecenderungan mengandalkan pemahaman instan. Iman tidak lagi diproses, melainkan dikonsumsi secara dangkal.

Pertumbuhan iman, sebagaimana pertumbuhan fisik, menuntut proses. Alkitab menekankan pentingnya latihan rohani—mendalami firman Tuhan, terlibat dalam komunitas iman, serta mempraktikkan nilai-nilai kebenaran dalam kehidupan sehari-hari. Kedewasaan rohani ditandai bukan hanya oleh pengetahuan, tetapi oleh kemampuan bersikap bijak, mengasihi, dan menghasilkan buah dalam kehidupan sosial.

Langkah-Langkah Keluar dari Stunting Rohani

Agar pertumbuhan rohani menjadi sehat dan dewasa, berikut beberapa langkah yang perlu ditempuh:

  1. Beralih dari “Susu” ke “Makanan Keras”
    Jangan terus-menerus bertahan pada ajaran dasar. Mulailah mempelajari firman Tuhan secara lebih mendalam agar iman tidak mudah digoyahkan oleh ajaran yang keliru.
  2. Aktif dalam Komunitas Orang Percaya
    Pertumbuhan rohani tidak bisa berjalan sendiri. Keterlibatan dalam kelompok kecil, persekutuan, dan pelayanan gereja menolong iman bertumbuh secara seimbang.
  3. Melatih Indera Rohani
    Kedewasaan iman dibentuk melalui praktik firman Tuhan dalam kehidupan sehari-hari, sehingga hati dan pikiran terlatih membedakan yang baik dan yang jahat.
  4. Mengatasi Kemalasan Rohani
    Stunting rohani sering bersumber dari sikap hati yang lamban dan enggan bertumbuh (Ibrani 5:11). Dibutuhkan kerendahan hati dan kesungguhan untuk terus belajar dan melayani.
  5. Menghasilkan Buah dan Memberitakan Injil
    Iman yang dewasa akan berdampak. Kehidupan yang berbuah dan kesediaan bersaksi menjadi tanda pertumbuhan rohani yang sehat.

Kedewasaan rohani, sebagaimana kedewasaan fisik, tidak terjadi secara instan. Ia dibentuk melalui proses panjang: belajar, diuji, jatuh, dan bangkit kembali. Tanda kedewasaan itu bukan sekadar pengetahuan, melainkan hidup yang berbuah dan memberi dampak bagi sesama.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button