BERITA TERBARULENSA FORUMADIL

Jefry Pangerapan: Ratatotok dan Tatelu, Dua Wajah Tambang Emas Sulut

Di balik viralnya saweran mewah, dua desa tambang emas di Sulawesi Utara ternyata menyimpan karakter geologi yang sangat berbeda

FORUMADIL, SULAWESI UTARA —Viralnya tradisi “saweran” yang menembus ratusan juta rupiah di dua daerah tambang, Ratatotok dan Tatelu, kini menarik perhatian bukan hanya dari sisi sosial, tetapi juga dari kacamata geologi.

Praktisi pertambangan Jefry Pangerapan menjelaskan bahwa kedua wilayah tersebut sama-sama dikenal memiliki potensi emas, namun terbentuk dari struktur batuan yang berbeda secara geologis.

“Tambang di wilayah Tatelu dikenal sebagai tambang bawah tanah (underground mining) yang mengikuti urat-urat batuan pembawa emas atau vein. Sementara Ratatotok lebih dikenal sebagai tambang sedimen oksidasi dengan karakter endapan primer, namun struktur geologinya berbeda,” ujarnya.

Menurut Jefry, Tatelu memiliki kadar emas rata-rata lebih tinggi, yakni berkisar 10 hingga 15 gram per ton (g/t), sedangkan Ratatotok hanya sekitar 0,5 hingga 2 g/t. Perbedaan kadar ini menyebabkan metode pengolahan emas pun berbeda.Di Tatelu, penambang menggunakan sistem CIP (Carbon In Pulp) karena batuannya memiliki kadar emas tinggi (high grade).

Sedangkan di Ratatotok digunakan metode Heap Leach, yaitu proses penyiraman larutan sianida pada timbunan batuan rendah emas (low grade) untuk melarutkan logam berharga.

“Perbedaan karakter ini berakar dari sejarah geologi kedua wilayah. Tatelu berada di zona vulkanik muda, di mana aktivitas panas bumi membentuk urat kuarsa pembawa emas dengan tekanan tinggi. Sementara Ratatotok terbentuk dari batuan sedimen tua yang telah mengalami oksidasi dan pelapukan, menyebabkan emas tersebar lebih halus di dalam struktur batuannya,” tambahnya.

Ia menjelaskan, batuan di Tatelu umumnya bersifat vulkanik andesitik–dasitik yang keras dan padat, sedangkan di Ratatotok didominasi oleh batuan sedimen teralterasi yang lebih lapuk dan mudah tererosi.

Perbedaan ini membuat karakter tanah dan teknik penambangannya pun tidak bisa disamakan.

Jefry menilai, meningkatnya harga emas dunia yang kini menembus lebih dari Rp 2,5 juta per gram membuat sebagian masyarakat tambang menikmati hasil yang melimpah. Namun ia mengingatkan agar keberkahan itu juga disalurkan untuk kepentingan sosial.

“Fenomena saweran itu bisa dilihat sebagai simbol rasa syukur. Tapi alangkah indahnya kalau sebagian rezeki dari tambang ini juga membantu masyarakat kecil di sekitar, karena di situlah nilai berkat yang sebenarnya,” tutupnya.(Hen)

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button