BERITA TERBARUSULUT

Dua Hari Setelah Pertamax Naik, Harga Kebutuhan Pokok di Sulut Masih Terkendali

Meski Pertamax melonjak 32 persen menjadi Rp16.250 per liter, harga beras, gula, minyak goreng, telur, dan daging ayam di Sulawesi Utara belum menunjukkan kenaikan signifikan. Cabai dan bawang masih menjadi komoditas paling fluktuatif akibat faktor pasokan.

MANADO – Kekhawatiran bahwa kenaikan harga Pertamax akan segera memicu lonjakan harga kebutuhan pokok di Sulawesi Utara sejauh ini belum terbukti. Dua hari setelah BBM nonsubsidi tersebut resmi naik dari Rp12.300 menjadi Rp16.250 per liter pada 10 Juni 2026, kondisi pasar tradisional di Sulut masih relatif stabil.

Pemantauan harga sejumlah komoditas pangan menunjukkan beras, gula pasir, minyak goreng, telur ayam ras, hingga daging ayam masih berada pada kisaran harga yang tidak jauh berbeda dibandingkan sebelum kenaikan Pertamax diberlakukan.

Baca juga: Harga Pertamax Naik 32 Persen, Sulawesi Utara Waspadai Efek Berantai Logistik dan Pangan

Kondisi tersebut memberikan sinyal bahwa dampak langsung kenaikan BBM nonsubsidi terhadap harga pangan belum terlihat, meskipun pelaku usaha dan distributor mulai memperhitungkan potensi kenaikan biaya operasional dalam jangka menengah.

Beras dan Kebutuhan Pokok Utama Masih Stabil

Sejumlah komoditas utama yang menjadi indikator daya beli masyarakat masih menunjukkan kestabilan harga.

Beras premium masih diperdagangkan pada kisaran Rp12.000 hingga Rp15.000 per kilogram. Gula pasir bertahan di sekitar Rp18.000 per kilogram, sementara minyak goreng masih berada pada rentang Rp20.000 hingga Rp22.000 per liter.

Telur ayam ras dan daging ayam juga belum mengalami perubahan harga yang berarti. Kondisi ini menunjukkan rantai distribusi pangan utama di Sulawesi Utara masih berjalan normal meskipun terjadi penyesuaian harga BBM nonsubsidi.

Bagi masyarakat, stabilitas harga tersebut menjadi kabar baik di tengah meningkatnya biaya transportasi bagi sebagian pengguna kendaraan pribadi dan pelaku usaha yang menggunakan Pertamax.

Cabai dan Bawang Masih Menjadi Penyumbang Gejolak Harga

Berbeda dengan komoditas pokok lainnya, cabai rawit dan bawang merah masih menjadi komoditas yang paling berfluktuasi di pasar tradisional Sulawesi Utara.

Harga cabai rawit di sejumlah pasar masih bertahan pada level tinggi, demikian pula bawang merah yang dalam beberapa pekan terakhir mengalami pergerakan harga yang cukup tajam.

Namun kondisi tersebut lebih banyak dipengaruhi faktor pasokan, cuaca, serta distribusi hasil panen dari daerah sentra produksi dibandingkan dampak kenaikan Pertamax.

Karena itu, gejolak harga pada komoditas hortikultura belum dapat dijadikan indikator adanya efek berantai dari kebijakan penyesuaian harga BBM nonsubsidi.

Dampak Ekonomi Belum Terlihat di Tingkat Konsumen

Pengamat ekonomi menilai kondisi ini masih tergolong normal. Kenaikan BBM nonsubsidi umumnya tidak langsung tercermin pada harga barang di tingkat konsumen dalam hitungan satu atau dua hari.

Pelaku distribusi biasanya membutuhkan waktu untuk menghitung ulang biaya operasional sebelum melakukan penyesuaian tarif angkutan maupun biaya logistik.

Di Sulawesi Utara, sebagian besar distribusi kebutuhan pokok juga masih ditopang kendaraan berbahan bakar solar subsidi atau Biosolar sehingga dampak kenaikan Pertamax tidak langsung memengaruhi seluruh rantai pasok pangan.

Meski demikian, potensi efek lanjutan tetap perlu diwaspadai apabila biaya transportasi dan distribusi mengalami penyesuaian dalam beberapa minggu ke depan.

Pariwisata dan Jasa Transportasi Mulai Menghitung Biaya

Sektor yang lebih cepat merasakan dampak kenaikan Pertamax justru diperkirakan berasal dari jasa transportasi, rental kendaraan, serta industri pariwisata.

Pelaku usaha di sektor tersebut memiliki ketergantungan yang lebih besar terhadap kendaraan berbahan bakar bensin beroktan tinggi sehingga kenaikan harga BBM berpotensi meningkatkan biaya operasional mereka.

Meski belum terjadi penyesuaian tarif secara luas, sejumlah pelaku usaha mulai melakukan evaluasi terhadap struktur biaya untuk menjaga keberlanjutan usaha.

Inflasi Sulut Masih Terkendali

Hingga pertengahan Juni 2026, kondisi inflasi Sulawesi Utara masih tergolong terkendali. Belum terlihat tekanan signifikan pada kelompok makanan, minuman, dan kebutuhan rumah tangga yang dapat dikaitkan langsung dengan kenaikan Pertamax.

Pemerintah daerah juga terus melakukan pemantauan harga serta menjaga kelancaran distribusi pangan guna mengantisipasi kemungkinan munculnya tekanan inflasi pada semester kedua tahun ini.

Kesimpulan

Dua hari setelah Pertamax naik 32 persen menjadi Rp16.250 per liter, harga kebutuhan pokok di Sulawesi Utara masih berada dalam kondisi yang relatif terkendali. Beras, gula pasir, minyak goreng, telur ayam ras, dan daging ayam belum menunjukkan lonjakan harga yang signifikan.

Meski dampak langsung belum terlihat di pasar, pelaku usaha tetap mencermati perkembangan biaya distribusi dan logistik yang berpotensi memengaruhi harga barang dan jasa dalam beberapa pekan mendatang. Bagi Sulawesi Utara sebagai provinsi kepulauan, stabilitas biaya transportasi tetap menjadi faktor penting dalam menjaga daya beli masyarakat dan mengendalikan inflasi daerah.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button