Harga Cabai Merah di Sulut Hampir Rp20 Ribu Lebih Murah dari Nasional, Bawang Putih Masih Termahal
Perbedaan harga pangan antara Sulawesi Utara dan rata-rata nasional masih mencolok. Cabai merah dijual jauh lebih murah di Sulut, sementara bawang putih dan bawang merah tetap lebih mahal sehingga berpotensi memengaruhi pengeluaran rumah tangga.

MANADO – Harga kebutuhan pokok di Sulawesi Utara memasuki akhir pekan ketiga Juli 2026 dengan kecenderungan stabil. Meski tidak banyak mengalami perubahan dibanding pekan sebelumnya, terdapat perbedaan mencolok antara harga sejumlah komoditas di Sulawesi Utara dan rata-rata nasional.
Data harga pangan terbaru yang menjadi acuan hingga 17 Juli 2026 menunjukkan cabai merah di Sulawesi Utara diperdagangkan sekitar Rp29.400 per kilogram, atau hampir Rp20 ribu lebih murah dibanding rata-rata harga nasional yang berada di kisaran Rp48.650 per kilogram.
Sebaliknya, bawang putih masih menjadi komoditas dengan selisih harga tertinggi. Di Sulawesi Utara, bawang putih berada pada kisaran Rp56.750 per kilogram, sekitar Rp12.700 lebih mahal dibanding rata-rata nasional yang tercatat Rp44.050 per kilogram.
Sementara itu, bawang merah juga masih diperdagangkan lebih tinggi, yakni Rp53.250 per kilogram, dibandingkan harga nasional sekitar Rp44.550 per kilogram.
Distribusi dan Pasokan Jadi Penentu
Perbedaan harga tersebut menunjukkan bahwa kondisi pasar di Sulawesi Utara tidak selalu mengikuti tren nasional. Faktor distribusi, biaya logistik, serta pasokan dari sentra produksi menjadi salah satu penyebab terjadinya selisih harga antarwilayah.
Komoditas hortikultura seperti cabai dan bawang dikenal sangat sensitif terhadap perubahan cuaca, biaya angkut, dan kelancaran distribusi. Karena itu, harga di daerah kepulauan seperti Sulawesi Utara dapat bergerak berbeda dibandingkan wilayah lain di Indonesia.
Komoditas Lain Relatif Stabil
Di luar kelompok hortikultura, harga sejumlah kebutuhan pokok relatif tidak mengalami perubahan berarti. Beras masih bertahan pada kisaran Rp15.850–Rp17.050 per kilogram, sedangkan daging sapi sekitar Rp153.750 per kilogram.
Harga daging ayam ras tercatat sekitar Rp35.600 per kilogram, lebih rendah dibanding rata-rata nasional. Demikian pula minyak goreng curah yang masih berada di kisaran Rp17.400 per liter, lebih murah dibanding harga nasional sekitar Rp20.500 per liter.
Sementara itu, daging babi, yang menjadi salah satu komoditas penting bagi masyarakat Sulawesi Utara, masih diperdagangkan stabil pada kisaran Rp85.000–Rp100.000 per kilogram.
Perbandingan Harga Sulut dan Nasional
| Komoditas | Sulawesi Utara | Nasional |
|---|---|---|
| Beras | Rp15.850/kg | Rp16.350/kg |
| Beras Super I | Rp17.050/kg | Rp17.650/kg |
| Bawang Merah | Rp53.250/kg | Rp44.550/kg |
| Bawang Putih | Rp56.750/kg | Rp44.050/kg |
| Cabai Merah | Rp29.400/kg | Rp48.650/kg |
| Cabai Rawit Merah | Rp60.750/kg | Rp58.150/kg |
| Daging Sapi | Rp153.750/kg | Rp150.500/kg |
| Daging Ayam Ras | Rp35.600/kg | Rp38.350/kg |
| Telur Ayam Ras | Rp29.400/kg | Rp29.000/kg |
| Minyak Goreng Curah | Rp17.400/liter | Rp20.500/liter |
| Gula Pasir | Rp18.650/kg | Rp20.400/kg |
| Daging Babi | Rp85.000–Rp100.000/kg | Tidak dipantau nasional |
Baca juga: Harga Daging Babi di Sulut Bertahan Rp85 Ribu–Rp100 Ribu per Kilogram, Kebutuhan Pokok Lain Relatif Stabil
https://forumadil.com/2026/07/14/harga-daging-babi-di-sulut-bertahan-rp85-ribu-rp100-ribu-per-kilogram-kebutuhan-pokok-lain-relatif-stabil/
Daya Beli Tetap Menjadi Perhatian
Stabilnya harga sebagian besar kebutuhan pokok menjadi kabar positif bagi masyarakat. Namun, tingginya harga bawang putih dan bawang merah masih menjadi beban tersendiri, terutama bagi rumah tangga dan pelaku usaha kuliner yang menggunakan kedua komoditas tersebut setiap hari.
Pemerintah daerah diharapkan terus memperkuat pengawasan distribusi dan menjaga ketersediaan stok agar selisih harga dengan rata-rata nasional dapat ditekan. Upaya tersebut dinilai penting untuk menjaga stabilitas inflasi pangan sekaligus mempertahankan daya beli masyarakat Sulawesi Utara.
Sumber: PIHPS Bank Indonesia (acuan data hingga 17 Juli 2026) dan pemantauan harga pangan Sulawesi Utara.



