BERITA TERBARUPENDIDIKAN

Apa Itu Tes Kemampuan Akademik (TKA) dan Mengapa Diterapkan di Sekolah

Tes Kemampuan Akademik lahir dari perubahan arah kebijakan asesmen nasional. Pemerintah menekankan pemetaan kemampuan siswa, bukan lagi sekadar kelulusan.

Ditulis Oleh: Peter Karl Bart Assa, ST, M.Sc., Ph.D,

FORUMADIL, Manado —Tes Kemampuan Akademik (TKA) mulai diperkenalkan sebagai bagian dari pembaruan sistem asesmen pendidikan nasional. Meski namanya kian sering terdengar di sekolah-sekolah, tidak sedikit orang tua dan masyarakat yang masih memandang TKA sebagai “ujian baru” atau bahkan pengganti ujian kelulusan. Pandangan itu keliru.

TKA sejatinya bukan ujian kelulusan, melainkan instrumen pemetaan kemampuan akademik individu peserta didik, terutama pada dua fondasi utama pembelajaran: literasi membaca dan numerasi matematika. Tes ini dirancang untuk menjawab satu pertanyaan mendasar dalam dunia pendidikan: sejauh mana kemampuan akademik siswa secara riil, terukur, dan dapat dibandingkan secara nasional.

Awal Mula TKA: Pergeseran Paradigma Asesmen

TKA lahir dari perubahan besar dalam kebijakan pendidikan nasional pasca penghapusan Ujian Nasional (UN). Pemerintah menilai UN terlalu menitikberatkan hasil akhir dan kelulusan, sementara proses belajar serta pemetaan kemampuan siswa justru kurang tergambar secara utuh.

Sebagai gantinya, pemerintah memperkenalkan Asesmen Nasional yang berfokus pada mutu satuan pendidikan. Namun asesmen tersebut belum memberikan gambaran kemampuan akademik individu siswa secara personal. Di sinilah TKA mengambil peran.

TKA dirancang untuk mengisi ruang yang sebelumnya kosong: asesmen individual yang objektif, terstandar, dan dapat dimanfaatkan siswa sebagai dokumen akademik lintas jenjang.

Makna TKA: Bukan Ujian, Tapi Cermin Akademik

Berbeda dengan ujian konvensional, TKA tidak dimaksudkan untuk melabeli siswa pintar atau tidak pintar. Tes ini berfungsi sebagai cermin akademik, yang memotret kemampuan literasi dan numerasi siswa berdasarkan standar nasional.

Makna penting TKA terletak pada pendekatannya yang berbasis penalaran. Soal-soal TKA tidak menekankan hafalan, melainkan kemampuan memahami teks, menafsirkan informasi, memecahkan masalah, serta menggunakan logika matematis dalam konteks kehidupan sehari-hari.

Dengan pendekatan ini, TKA diharapkan mampu menggambarkan kesiapan akademik siswa secara lebih jujur dan mendalam.

Fungsi TKA bagi Siswa, Sekolah, dan Pemerintah

Bagi siswa, hasil TKA diberikan dalam bentuk Sertifikat Hasil Tes Kemampuan Akademik (SHTKA) yang diterbitkan secara nasional. Sertifikat ini dapat dimanfaatkan sebagai dokumen pendukung saat melanjutkan pendidikan ke jenjang berikutnya, sesuai kebijakan sekolah penerima.

Bagi sekolah dan guru, TKA menjadi bahan refleksi untuk mengevaluasi efektivitas pembelajaran, khususnya pada penguatan literasi dan numerasi. Data TKA dapat menunjukkan area mana yang perlu diperbaiki, bukan sekadar mengejar nilai.

Sementara bagi pemerintah daerah dan pusat, TKA berfungsi sebagai instrumen pemetaan mutu pendidikan berbasis data. Hasilnya dapat digunakan untuk merancang intervensi kebijakan, peningkatan kapasitas guru, hingga penyempurnaan kurikulum.

Mengapa TKA Tidak Bersifat Wajib

Salah satu ciri penting TKA adalah keikutsertaannya bersifat sukarela dan memerlukan persetujuan orang tua. Kebijakan ini diambil untuk memastikan bahwa asesmen tidak berubah menjadi tekanan baru bagi siswa.

Pemerintah menekankan bahwa TKA bukan alat seleksi massal dan bukan pula syarat kelulusan. Prinsip yang diusung adalah perlindungan peserta didik dan kepentingan terbaik bagi anak, sejalan dengan pendekatan pendidikan yang humanis dan inklusif.

Tujuan Besar Sistem TKA

Secara sistemik, TKA memiliki tujuan jangka panjang: membangun ekosistem pendidikan yang berbasis data, adil, dan berorientasi pada peningkatan kualitas pembelajaran. Pemerintah ingin menggeser fokus pendidikan dari sekadar “lulus ujian” menuju “menguasai kompetensi dasar yang relevan”.

Literasi dan numerasi dipilih karena keduanya menjadi fondasi kemampuan belajar sepanjang hayat. Tanpa penguasaan dua kompetensi ini, siswa akan kesulitan mengikuti pembelajaran di jenjang lebih tinggi maupun menghadapi tantangan dunia kerja di masa depan.

Membaca Arah Baru Pendidikan

Dengan TKA, pemerintah berupaya menempatkan asesmen sebagai alat bantu pembelajaran, bukan sebagai momok. Keberhasilan sistem ini sangat bergantung pada pemahaman publik, kesiapan sekolah, serta dukungan orang tua dalam menciptakan lingkungan belajar yang sehat dan tanpa tekanan.

Tes Kemampuan Akademik pada akhirnya bukan tentang angka semata, melainkan tentang membaca kemampuan anak secara jujur, memetakan kebutuhan belajar, dan memperbaiki kualitas pendidikan secara berkelanjutan.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button