Menyusuri Keindahan Pantai Batu Pinagut, Permata Pesisir Utara Sulawesi yang Ramah Keluarga
Pantai eksotis di jantung Boroko ini menawarkan pasir luas, ombak tenang, nilai sejarah Kerajaan Kaidipang, hingga panorama senja yang memikat para pelancong lintas Trans-Sulawesi.

BOROKO — Di pesisir utara Kabupaten Bolaang Mongondow Utara (Bolmut), Sulawesi Utara, terbentang sebuah destinasi wisata pantai yang semakin dikenal para pelancong lokal maupun pengguna jalur Trans-Sulawesi: Pantai Batu Pinagut, atau yang akrab disebut masyarakat sebagai Pantai Boroko.
Pantai ini menawarkan kombinasi panorama alam yang tenang, akses yang mudah, serta nilai sejarah budaya yang masih melekat kuat di tengah kehidupan masyarakat pesisir Kaidipang.
Hamparan pasirnya yang panjang dan landai menjadi daya tarik utama bagi wisatawan keluarga. Berbeda dengan sejumlah pantai berbatu karang tajam di wilayah lain, area bermain di Pantai Batu Pinagut relatif aman bagi anak-anak untuk bermain pasir maupun menikmati air laut yang cenderung tenang.
Di beberapa sudut pantai, bongkahan batu besar yang estetik berdiri alami menghiasi garis pesisir. Formasi batu inilah yang kemudian dipercaya menjadi asal-usul nama “Pinagut”, yang dalam bahasa lokal berarti “yang dicabut”.
Saat sore hari, suasana pantai berubah menjadi lebih hidup. Banyak pengunjung memanfaatkan lokasi ini untuk bersantai, menikmati kuliner sederhana di sekitar kawasan pantai, hingga menunggu panorama matahari terbenam yang perlahan tenggelam di ufuk Laut Sulawesi.
Strategis di Jalur Trans-Sulawesi
Salah satu keunggulan Pantai Batu Pinagut adalah aksesibilitasnya yang sangat mudah dijangkau. Lokasinya berada dekat pusat Kota Boroko, Kecamatan Kaidipang, serta hanya sekitar 25 meter hingga 1 kilometer dari jalur utama Trans-Sulawesi.
Dari kawasan Kantor Bupati Bolaang Mongondow Utara, jarak menuju pantai hanya sekitar 2,3 kilometer dengan waktu tempuh kurang lebih enam menit berkendara.
Sementara bagi wisatawan luar daerah, perjalanan dapat ditempuh dari Bandar Udara Bolaang Mongondow di Lolak dengan jarak sekitar 122 kilometer atau sekitar tiga jam perjalanan darat menyusuri pesisir utara Sulawesi.
Adapun dari Bandar Udara Internasional Sam Ratulangi Manado, jarak menuju Pantai Batu Pinagut mencapai sekitar 291 kilometer dengan estimasi perjalanan darat sekitar tujuh jam empat puluh menit melalui jalur Trans-Sulawesi.
Secara astronomis, kawasan utama pantai ini berada di koordinat 0.9202904 Lintang Utara dan 123.269432 Bujur Timur.
Menyimpan Jejak Sejarah Kerajaan Kaidipang

Tidak hanya menawarkan wisata alam, Pantai Batu Pinagut juga menyimpan jejak sejarah dan budaya yang cukup penting bagi masyarakat Bolaang Mongondow Utara.
Di sekitar kawasan pantai terdapat situs pekuburan keramat kuno yang berkaitan dengan sejarah Kerajaan Kaidipang serta proses penyebaran Islam di wilayah pesisir utara Sulawesi.
Nilai historis ini membuat kawasan Batu Pinagut bukan sekadar tempat rekreasi, tetapi juga menjadi bagian dari identitas budaya masyarakat Boroko dan Kaidipang.
Pemerintah daerah pun menjadikan kawasan ini sebagai pusat berbagai agenda tahunan seperti Festival Pesona Pantai Batu Pinagut dan Bolmut Expo yang rutin menarik perhatian masyarakat maupun wisatawan regional.
Tantangan Kebersihan dan Potensi Masa Depan
Di balik pesonanya, Pantai Batu Pinagut masih menghadapi tantangan pengelolaan kebersihan kawasan wisata.
Beberapa area pantai masih dipenuhi sampah kayu dan ranting yang terbawa ombak laut, serta sampah plastik rumah tangga dari aktivitas pengunjung maupun aliran sungai sekitar.
Meski demikian, potensi pengembangan wisata pantai ini dinilai sangat besar. Dengan peningkatan pengelolaan kebersihan, penambahan fasilitas tempat sampah, serta edukasi kesadaran lingkungan bagi pengunjung, Pantai Batu Pinagut berpeluang berkembang menjadi destinasi wisata keluarga unggulan di pesisir utara Sulawesi.
Keindahan alamnya yang masih terbuka, akses yang mudah, serta nilai sejarah yang melekat menjadikan Pantai Batu Pinagut sebagai salah satu destinasi yang layak masuk daftar perjalanan wisata di Sulawesi Utara.
Bagi para pelintas Trans-Sulawesi, tempat ini bukan hanya sekadar titik persinggahan, melainkan ruang untuk menikmati tenangnya pesisir Boroko sambil menyaksikan wajah alami utara Sulawesi yang masih terjaga.

“Pantai eksotis di jantung Boroko ini menawarkan pasir luas, ombak tenang, nilai sejarah Kerajaan Kaidipang, hingga panorama senja yang memikat para pelancong lintas Trans-Sulawesi”.
FORUM ADIL | Joe
Editor: Hendra Lumempouw



