Sulawesi Utara Catat Deflasi Pangan, Mitigasi Inflasi Diperkuat Hadapi Ancaman El Niño
Deflasi pangan pada Mei 2026 menjadi kabar baik bagi masyarakat Sulawesi Utara. Namun pemerintah daerah, petani, peternak, dan pelaku pasar diminta tetap waspada terhadap potensi kenaikan harga pangan akibat El Niño yang diperkirakan memuncak pada semester kedua tahun ini.

MANADO – Di tengah fluktuasi harga pangan nasional, Sulawesi Utara mencatat capaian positif dengan terjadinya deflasi sebesar 0,61 persen pada Mei 2026. Penurunan harga sejumlah komoditas pangan, terutama cabai rawit, bawang merah, dan beberapa jenis ikan, menjadi faktor utama yang mendorong deflasi tersebut.
Kelompok makanan, minuman, dan tembakau tercatat mengalami deflasi sekitar 2,28 persen. Meski demikian, pemerintah daerah bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) tetap memperkuat berbagai langkah antisipasi guna menjaga stabilitas harga pangan hingga akhir tahun.
Inflasi tahunan (year on year/yoy) Sulawesi Utara pada Mei 2026 berada di kisaran 2,33 persen, masih dalam kategori terkendali meskipun sedikit lebih tinggi dibanding rata-rata nasional yang berada di level sekitar 2,03 persen.
El Niño Jadi Tantangan Berikutnya
Memasuki pertengahan tahun 2026, perhatian pemerintah mulai tertuju pada dampak fenomena El Niño yang diperkirakan mencapai puncaknya pada periode Juli hingga September.
Fenomena cuaca tersebut berpotensi menyebabkan musim kemarau lebih panjang dan kekeringan di sejumlah sentra pertanian. Jika tidak diantisipasi dengan baik, produksi cabai, bawang, jagung, hingga tanaman pangan lainnya dapat mengalami penurunan sehingga berisiko memicu kenaikan harga.
Selain sektor pertanian, dampak El Niño juga dapat dirasakan peternak melalui potensi kenaikan harga pakan ternak yang sebagian besar berbahan baku jagung.
Strategi Pengendalian Inflasi Pangan
Untuk menjaga stabilitas harga, Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara bersama Bank Indonesia, Bulog, dan pemerintah kabupaten/kota terus menjalankan sejumlah program pengendalian inflasi.
Salah satu langkah yang rutin dilakukan adalah Gerakan Pangan Murah (GPM), yakni penjualan bahan pokok kepada masyarakat dengan harga di bawah pasar guna menjaga daya beli masyarakat.
Selain itu, operasi pasar dan pasar murah juga terus digelar, terutama untuk komoditas strategis seperti beras SPHP, minyak goreng, telur ayam, dan daging.
Pemerintah juga mengoptimalkan program Fasilitasi Distribusi Pangan (FDP) dengan membantu distribusi bahan pangan dari daerah yang surplus menuju daerah yang mengalami kekurangan pasokan.
Di sektor produksi, dukungan terhadap petani terus diperkuat melalui penyediaan bibit unggul, pupuk bersubsidi, bantuan alat dan mesin pertanian, serta perbaikan sarana irigasi.
Peran Strategis Petani dan Peternak Lokal
Keberhasilan menjaga stabilitas harga pangan di Sulawesi Utara tidak terlepas dari peran petani dan peternak lokal.
Petani di berbagai daerah seperti Minahasa, Minahasa Selatan, Minahasa Utara, Bolaang Mongondow, hingga Kepulauan Sangihe terus meningkatkan produksi padi, jagung, cabai, tomat, dan komoditas hortikultura lainnya.
Di sektor peternakan, kontribusi peternak ayam, babi, dan sapi lokal menjadi faktor penting yang membuat harga protein hewani di Sulawesi Utara relatif lebih stabil dibanding sejumlah daerah lain.
Produksi lokal yang kuat membantu mengurangi ketergantungan pasokan dari luar daerah sekaligus mempersingkat rantai distribusi yang sering menjadi penyebab kenaikan harga.
Program regenerasi petani dan dukungan terhadap petani milenial juga mulai menunjukkan hasil positif melalui pemanfaatan teknologi pertanian modern dan praktik pertanian yang lebih adaptif terhadap perubahan iklim.
Peran Masyarakat Menjaga Stabilitas Harga
Selain pemerintah dan pelaku usaha pangan, masyarakat juga memiliki peran penting dalam menjaga stabilitas harga.
Masyarakat diimbau untuk berbelanja sesuai kebutuhan, memanfaatkan program pasar murah, serta mengutamakan produk lokal yang tersedia di pasar tradisional maupun sentra pertanian.
Diversifikasi konsumsi juga menjadi langkah penting untuk mengurangi tekanan terhadap komoditas tertentu yang mengalami lonjakan harga. Ketika harga cabai atau bawang meningkat, masyarakat dapat memanfaatkan komoditas alternatif yang lebih tersedia.
Pemanfaatan pekarangan rumah untuk menanam cabai, tomat, sayuran, maupun tanaman pangan sederhana juga dapat menjadi solusi jangka panjang dalam memperkuat ketahanan pangan keluarga.
Kolaborasi Jadi Kunci
Pengendalian inflasi pangan bukan hanya tugas pemerintah, tetapi memerlukan kolaborasi seluruh pihak mulai dari petani, peternak, pelaku usaha, hingga konsumen.
Dengan produksi lokal yang kuat, distribusi yang lancar, serta pola konsumsi yang bijak, Sulawesi Utara memiliki peluang besar untuk mempertahankan stabilitas harga pangan sekaligus menjaga inflasi tetap berada dalam rentang yang sehat.
Meski ancaman El Niño masih membayangi beberapa bulan ke depan, berbagai langkah mitigasi yang telah disiapkan diharapkan mampu menjaga pasokan pangan dan melindungi daya beli masyarakat hingga akhir tahun 2026.



