SERIAL PENDALAMAN KITAB WAHYU — SERI 4: Damai Diambil dari Bumi
Wahyu 6:3–4 — Ketika Kuda Merah Muncul dan Pedang Menguasai Dunia

Oleh: Pdm. Nasaretsa Frederik George Mailangkay
MANADO, Forum Adil – Setelah meterai pertama dibuka dan Yohanes melihat seekor kuda putih dengan seorang penunggang yang maju sebagai pemenang, penglihatan berikutnya membawa suasana yang jauh lebih mengerikan.
Meterai kedua dibuka.
Kali ini bukan kemenangan yang menjadi sorotan, melainkan hilangnya damai dari bumi.
Yohanes kembali mendengar suara dari salah satu makhluk hidup:
“Marilah!”
(Wahyu 6:3)
Kemudian muncul seekor kuda dengan warna merah padam.
“Dan keluarlah seekor kuda lain, yaitu seekor kuda merah padam, dan orang yang menungganginya dikaruniakan kuasa untuk mengambil damai sejahtera dari atas bumi, sehingga mereka saling membunuh; dan kepadanya dikaruniakan sebilah pedang yang besar.”
(Wahyu 6:4)
Jika meterai pertama memperlihatkan penaklukan, maka meterai kedua memperlihatkan akibat yang jauh lebih mengerikan: damai diambil dari bumi dan manusia berbalik melawan sesamanya.
1. Meterai Kedua Dibuka

“Dan ketika Anak Domba itu membuka meterai yang kedua, aku mendengar makhluk yang kedua berkata: ‘Marilah!’”
(Wahyu 6:3)
Sekali lagi, pusat dari rangkaian ini adalah Anak Domba.
Sama seperti meterai pertama, meterai kedua tidak terbuka secara acak. Anak Domba membuka meterai tersebut, kemudian Yohanes menerima penglihatan berikutnya.
Hal ini mengingatkan bahwa rangkaian penglihatan dalam Wahyu 6 merupakan kelanjutan dari Wahyu 5, ketika Anak Domba dinyatakan layak mengambil gulungan kitab.
Kemudian muncullah kuda merah padam.
Suasana yang sebelumnya menggambarkan penaklukan kini berubah menjadi gambaran konflik dan pertumpahan darah.
2. Kuda Merah Padam: Gambaran Hilangnya Damai

“Dan keluarlah seekor kuda lain, yaitu seekor kuda merah padam…”
(Wahyu 6:4)
Warna merah padam atau merah menyala dalam gambaran ini sering dikaitkan dengan darah, kekerasan, peperangan dan pertumpahan darah.
Namun yang paling penting bukan hanya warna kudanya.
Teks memberikan penjelasan yang sangat jelas mengenai apa yang terjadi ketika penunggangnya muncul:
damai sejahtera diambil dari bumi.
Ini adalah perubahan yang sangat serius.
Manusia yang sebelumnya hidup dalam keadaan damai digambarkan masuk ke dalam situasi ketika mereka saling membunuh.
Dengan demikian, kuda merah menjadi gambaran kuat mengenai pecahnya perdamaian dan berkembangnya kekerasan.
3. Damai Diambil dari Bumi

“…dikaruniakan kuasa untuk mengambil damai sejahtera dari atas bumi…”
(Wahyu 6:4)
Kalimat ini merupakan inti dari meterai kedua.
Bukan sekadar perang yang muncul, tetapi damai diambil dari bumi.
Ketika damai hilang, konflik dapat berkembang menjadi permusuhan, kekerasan dan pembunuhan.
Manusia yang seharusnya hidup berdampingan akhirnya saling berhadapan.
Gambaran ini membuat meterai kedua terasa lebih dekat dengan realitas kehidupan manusia: ketika perdamaian runtuh, yang pertama kali menjadi korban bukan hanya kekuatan militer atau pemerintahan, tetapi manusia biasa.
Keluarga, masyarakat dan bangsa dapat mengalami dampaknya.
4. Pedang Besar Diberikan kepada Penunggangnya

“…dan kepadanya dikaruniakan sebilah pedang yang besar.”
(Wahyu 6:4)
Pedang menjadi simbol yang sangat kuat dalam penglihatan ini.
Bukan pedang kecil, melainkan pedang yang besar.
Gambaran tersebut memperkuat pesan tentang konflik yang luas dan kekerasan yang serius.
Namun sekali lagi, Yohanes tidak sedang memberikan peta politik dunia atau menyebut nama bangsa tertentu.
Ia sedang menggambarkan sebuah kondisi: damai hilang dan kekerasan menguasai manusia.
Karena itu, kita perlu berhati-hati untuk tidak menjadikan ayat ini sebagai alat untuk menunjuk secara sembarangan kepada negara, pemimpin atau konflik tertentu sebagai penggenapan pasti.
5. Manusia Saling Membunuh

“…sehingga mereka saling membunuh…”
(Wahyu 6:4)
Kalimat ini pendek, tetapi sangat tajam.
Perang tidak hanya berarti dua kekuatan yang berhadapan. Perang dapat membuat manusia kehilangan rasa kemanusiaannya terhadap sesama.
Ketika damai dicabut, manusia yang seharusnya menjadi saudara dapat berubah menjadi lawan.
Inilah salah satu sisi paling mengerikan dari meterai kedua.
Musuh bukan lagi sekadar ancaman dari luar. Manusia mulai saling menghancurkan.
Pesan ini sejalan dengan peringatan Yesus mengenai peperangan dan kabar-kabar tentang perang.
“Kamu akan mendengar deru perang atau kabar-kabar tentang perang. Namun berawas-awaslah jangan kamu gelisah; sebab semuanya itu harus terjadi, tetapi itu belum kesudahannya.”
(Matius 24:6)
Yesus kemudian melanjutkan:
“Sebab bangsa akan bangkit melawan bangsa, dan kerajaan melawan kerajaan.”
(Matius 24:7)
6. Peperangan Bukan Berarti Dunia Berjalan Tanpa Kendali

Satu hal penting tidak boleh dilewatkan.
Dalam Wahyu 6:4 disebutkan bahwa kepada penunggang tersebut “dikaruniakan kuasa.”
Artinya, teks tetap menempatkan peristiwa tersebut dalam rangkaian yang berada di bawah otoritas ilahi.
Hal ini bukan berarti Allah menjadi sumber kejahatan atau manusia kehilangan tanggung jawab moral atas tindakannya.
Sebaliknya, Wahyu memperlihatkan bahwa bahkan ketika dunia memasuki masa kekacauan, sejarah manusia tidak berada di luar pengetahuan dan kedaulatan Allah.
Allah tetap berada di atas takhta.
Kebenaran tersebut sudah ditegaskan dalam Wahyu 4 dan 5.
Sebelum Yohanes melihat kuda-kuda keluar, ia terlebih dahulu melihat takhta Allah dan Anak Domba yang layak.
Karena itu, pembaca Wahyu tidak seharusnya hanya melihat kekacauan bumi, tetapi juga mengingat siapa yang tetap berkuasa di atas segala sesuatu.
7. Peringatan bagi Dunia yang Mengejar Kekuasaan
Meterai kedua juga memberikan peringatan keras terhadap manusia yang menjadikan kekuasaan sebagai tujuan utama.
Ketika ambisi, kebencian dan kepentingan mengalahkan nilai kemanusiaan, perdamaian dapat runtuh dengan cepat.
Karena itu, pesan Wahyu tidak hanya berbicara mengenai masa depan. Ia juga menjadi cermin bagi manusia pada masa kini.
Paulus mengingatkan:
“Sedapat-dapatnya, kalau hal itu bergantung padamu, hiduplah dalam perdamaian dengan semua orang!”
(Roma 12:18)
Perdamaian bukan sesuatu yang boleh dianggap biasa.
Ia harus dijaga.
8. Dari Kuda Merah Menuju Meterai Ketiga
Meterai kedua belum mengakhiri rangkaian penglihatan.
Setelah penaklukan pada meterai pertama dan hilangnya damai pada meterai kedua, Yohanes kemudian melihat meterai ketiga dibuka.
Kali ini muncul seekor kuda hitam.
Dan bersama kemunculannya, perhatian beralih dari peperangan kepada sesuatu yang tidak kalah mengerikan:
kelangkaan dan krisis pangan.
“Dan ketika Anak Domba itu membuka meterai yang ketiga, aku mendengar makhluk yang ketiga berkata: ‘Marilah!’ Maka aku melihat: sesungguhnya, ada seekor kuda hitam…”
(Wahyu 6:5)
Jika meterai kedua menggambarkan hilangnya damai, maka meterai ketiga membawa kita kepada pertanyaan berikutnya:
Apa yang terjadi kepada manusia ketika perang mulai menghancurkan sumber kehidupan dan makanan menjadi sesuatu yang sulit diperoleh?
Di situlah penglihatan Yohanes berlanjut kepada Meterai Ketiga.
BERSAMBUNG — SERI 5
Kuda Hitam dan Krisis Pangan
Wahyu 6:5–6 — Ketika Timbangan Menentukan Harga Makanan
Setelah damai diambil dari bumi dan manusia saling membunuh, meterai ketiga dibuka. Yohanes melihat seekor kuda hitam dengan penunggang yang memegang timbangan. Apa makna timbangan, harga gandum dan jelai dalam penglihatan tersebut?
Oleh: Pdm. Nasaretsa Frederik George Mailangkay.



