Anak Krakatau Kembali Aktif, 191 Gempa Low Frequency dan Hybrid Terekam Setelah Erupsi 25 Jam
Aktivitas vulkanik belum berhenti. Status tetap Level III Siaga, sementara Badan Geologi menyebut peluang letusan dalam beberapa periode ke depan masih tinggi.

LAMPUNG — Gunung Anak Krakatau di perairan Selat Sunda kembali menunjukkan aktivitas vulkanik yang signifikan hingga Senin, 7 September 2026. Setelah mengalami episode erupsi menerus selama sekitar 25 jam pada 4–6 September, gunungapi tersebut kembali memperlihatkan karakter erupsi strombolian.
Badan Geologi melalui Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) mencatat, selama periode 6–7 September 2026 terjadi 3 gempa erupsi, 9 gempa hembusan, 93 gempa Low Frequency, 98 gempa Hybrid/Fase Banyak, 4 gempa tremor menerus, dan 1 gempa vulkanik dangkal.
Dengan demikian, dalam periode tersebut terdapat 191 kejadian gempa Low Frequency dan Hybrid/Fase Banyak yang terekam. Data ini menunjukkan bahwa dinamika sistem vulkanik Anak Krakatau masih berlangsung setelah episode erupsi menerus berakhir.
Badan Geologi menyatakan energi aktivitas vulkanik yang tercermin dari nilai RSAM (Real-time Seismic Amplitude Measurement) mengalami peningkatan pada 5 September, kemudian kembali menurun pada 6 September.
Namun, penurunan RSAM tersebut belum berarti aktivitas Anak Krakatau telah berakhir.
Badan Geologi masih mempertahankan status aktivitas Gunung Anak Krakatau pada Level III (Siaga). Evaluasi hingga 7 September juga menyebut probabilitas terjadinya letusan dalam beberapa periode berikutnya masih tinggi.
Dari kegempaan menuju erupsi
Peningkatan aktivitas Anak Krakatau sebenarnya telah terlihat sejak Juni 2026.
Dalam periode 16 Juni hingga 2 Juli 2026, Badan Geologi mencatat 740 gempa hembusan, 247 gempa Low Frequency, 520 gempa Hybrid/Fase Banyak, 24 gempa harmonik dan 16 tremor menerus.
Pada periode yang sama tercatat dua gempa vulkanik dangkal dan tiga gempa vulkanik dalam.
Komposisi kegempaan tersebut menjadi salah satu indikator penting dalam membaca dinamika gunungapi. Peningkatan gempa hembusan, Low Frequency dan Hybrid/Fase Banyak menunjukkan adanya aktivitas fluida dan magma pada sistem vulkanik, terutama di bagian yang lebih dangkal.
Peningkatan tersebut kemudian diikuti erupsi pada 2 Juli 2026 dan mendorong kenaikan status Anak Krakatau dari Level II Waspada menjadi Level III Siaga.
Sehari kemudian, 3 Juli, kembali terjadi erupsi dengan amplitudo maksimum yang tercatat lebih besar dibanding erupsi sebelumnya.
Aktivitas kemudian terus berkembang hingga awal September.
Erupsi menerus selama 25 jam
Perubahan paling mencolok terjadi pada awal September.
Badan Geologi mencatat satu episode erupsi menerus mulai 4 September 2026 pukul 23.07 WIB dan berakhir pada 6 September 2026 pukul 00.04 WIB.
Episode tersebut berlangsung sekitar 25 jam.
Setelah episode erupsi menerus berakhir, Anak Krakatau kembali menunjukkan erupsi strombolian. Badan Geologi menilai kembalinya karakter strombolian untuk sementara dapat diinterpretasikan sebagai berakhirnya episode erupsi menerus yang cukup panjang.
Namun dinamika vulkanisme masih terus dipantau dan dievaluasi.
Deformasi juga menjadi perhatian
Selain kegempaan dan RSAM, Badan Geologi memantau perubahan deformasi melalui tiltmeter.
Data Stasiun Tanjung menunjukkan kecenderungan inflasi sejak awal Agustus 2026, sedangkan Stasiun Lava93 memperlihatkan pola relatif mendatar atau konstan.
Inflasi pada sebuah gunungapi tidak dengan sendirinya berarti akan terjadi letusan besar. Namun, apabila perubahan deformasi tersebut muncul bersamaan dengan peningkatan kegempaan dan aktivitas erupsi, data tersebut menjadi penting untuk membaca dinamika sistem magmatik.
Karena itu, kegempaan, RSAM, deformasi, aktivitas permukaan dan perubahan morfologi harus dibaca secara bersamaan.
Apakah pola 2026 sama dengan 2018?
Pertanyaan ini menjadi penting karena Anak Krakatau pernah mengalami peristiwa tragis pada 22 Desember 2018 ketika sebagian tubuh gunung longsor ke laut dan memicu tsunami di Selat Sunda.
Namun, berdasarkan data yang tersedia hingga 7 September 2026, belum tepat menyimpulkan bahwa Anak Krakatau sedang memasuki kembali pola yang sama seperti 2018.
Pada 2018, aktivitas vulkanik telah berlangsung sejak 29 Juni dan terus berkembang. Badan Geologi mencatat peningkatan gempa tremor, hembusan dan Low Frequency sejak 18–19 Juni sebelum erupsi dimulai. Aktivitas kemudian berlangsung berbulan-bulan dan disertai perubahan morfologi tubuh gunung.
Pada 22 Desember 2018, sebagian tubuh Anak Krakatau mengalami longsoran ke laut dan peristiwa tersebut berkaitan dengan tsunami di kawasan Selat Sunda.
Kondisi 2026 memiliki perbedaan penting.
Tubuh Anak Krakatau yang terbentuk kembali setelah peristiwa 2018 menurut Badan Geologi masih relatif kecil dan belum dinilai berpotensi mengalami keruntuhan dalam skala yang dapat memicu tsunami.
Meski demikian, perubahan morfologi tetap dipantau secara intensif.
Bukan berarti risiko boleh diabaikan
Perbedaan dengan 2018 tidak berarti aktivitas Anak Krakatau saat ini dapat dianggap biasa.
Justru rangkaian aktivitas sejak Juni hingga September menunjukkan adanya perubahan nyata:
kegempaan meningkat → erupsi Juli → aktivitas magmatik berlanjut → erupsi menerus selama sekitar 25 jam → kembali ke erupsi strombolian.
Rangkaian tersebut menunjukkan sistem vulkanik Anak Krakatau masih aktif.
Badan Geologi memperkirakan probabilitas letusan dalam beberapa periode berikutnya masih tinggi. Ancaman erupsi yang perlu diwaspadai antara lain lontaran batu pijar, hujan abu lebat dan, apabila erupsi menerus kembali terjadi, potensi aliran lava.
Radius 3 kilometer masih berlaku
Dengan status Level III Siaga, masyarakat, wisatawan maupun pengunjung tidak diperbolehkan memasuki wilayah dalam radius 3 kilometer dari pusat aktivitas Anak Krakatau.
Masyarakat yang terdampak abu vulkanik juga dianjurkan mengurangi aktivitas di luar rumah atau menggunakan masker ketika beraktivitas di luar.
Sementara bagi masyarakat di wilayah pantai Banten dan Lampung, Badan Geologi mengimbau agar tetap tenang dan tidak mempercayai isu-isu mengenai tsunami yang tidak bersumber dari informasi resmi.
Pemantauan terhadap Anak Krakatau tetap menjadi hal penting karena gunungapi ini berada di tengah Selat Sunda dan memiliki sejarah perubahan morfologi yang sangat dinamis.
Sampai 7 September 2026, gambaran yang paling tepat bukanlah “Anak Krakatau akan mengulangi tsunami 2018”, melainkan bahwa gunungapi tersebut masih berada dalam fase aktivitas tinggi dan kemungkinan erupsi susulan masih terbuka.
Karena itu, perkembangan kegempaan, RSAM, deformasi dan perubahan morfologi menjadi empat indikator utama yang perlu terus diperhatikan dalam beberapa hari dan pekan mendatang.



