AGAMABERITA TERBARU

Keberhasilan Iblis dan Manusia yang Merusak Gereja: Ketika Kesombongan Menghancurkan Kesatuan Tubuh Kristus

Perpecahan Gereja Tidak Selalu Datang dari Luar

Dalam Alkitab, Iblis memang digambarkan sebagai penipu dan perusak. Namun firman Tuhan juga menunjukkan bahwa perpecahan sering kali lahir dari dalam hati manusia sendiri—dari kesombongan, ambisi, iri hati, dan keinginan untuk menang sendiri.

Rasul Paulus pernah menegur jemaat karena perselisihan yang muncul bukan hanya akibat serangan dari luar, tetapi juga karena kedagingan manusia. Hal ini menunjukkan bahwa ancaman terbesar bagi gereja terkadang bukan berasal dari dunia, melainkan dari hati yang tidak lagi hidup dalam kasih dan kerendahan hati.

“Sebab jika di antara kamu ada iri hati dan perselisihan bukankah hal itu menunjukkan bahwa kamu manusia duniawi dan bahwa kamu hidup secara manusiawi?”
— 1 Korintus 3:3

Yesus Berdoa Supaya Umat-Nya Menjadi Satu

Dalam Yohanes 17, Yesus Kristus berdoa agar umat-Nya menjadi satu. Doa itu memperlihatkan betapa pentingnya kesatuan dalam tubuh Kristus.

Yesus mengetahui bahwa kesatuan sangat rapuh jika manusia mulai dikuasai ego, kepentingan pribadi, dan keinginan untuk dihormati. Karena itu, tubuh Kristus sering kali terluka bukan karena tekanan dari luar, tetapi karena retak dari dalam.

“Dan Aku telah memberikan kepada mereka kemuliaan, yang Engkau berikan kepada-Ku, supaya mereka menjadi satu, sama seperti Kita adalah satu.”
— Yohanes 17:22

Ketika Ambisi Manusia Dipakai untuk Memecah Belah

Alkitab menjelaskan bahwa Iblis bekerja melalui tipu daya. Namun sering kali ia memakai ambisi manusia—keinginan untuk berkuasa, diakui, dan dihormati—untuk menciptakan perpecahan.

Yesus Kristus sendiri mengajarkan bahwa kepemimpinan dalam Kerajaan Allah berbeda dengan pola dunia. Kepemimpinan bukan tentang siapa yang paling besar, melainkan siapa yang paling melayani.

Ketika prinsip ini dibalik, gereja menjadi mudah retak. Pelayanan berubah menjadi ajang persaingan, dan akhirnya lahirlah pertikaian, keributan, bahkan perpecahan dalam tubuh Kristus.

“Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu.”
— Matius 20:26

Dampak Perpecahan dalam Tubuh Kristus

Perpecahan meninggalkan luka yang dalam bagi gereja dan pelayanan. Banyak hamba Tuhan terluka, hubungan antar jemaat rusak, dan fokus pelayanan bergeser dari Kristus kepada kepentingan manusia.

Akibatnya, gereja kehilangan damai sejahtera dan kesaksiannya di tengah dunia menjadi lemah.

Padahal tubuh Kristus tidak dipanggil untuk saling mengalahkan, melainkan untuk saling membangun.

“Karena itu nasihatilah seorang akan yang lain dan saling membangunlah kamu seperti yang memang kamu lakukan.”
— 1 Tesalonika 5:11

Jalan Pemulihan Gereja dan Pelayanan

Kesatuan gereja dapat dipulihkan ketika umat Tuhan kembali kepada nilai-nilai yang diajarkan Kristus.

1. Kerendahan Hati Memulihkan Kesatuan

Kesombongan melahirkan perpecahan, tetapi kerendahan hati membuka jalan bagi perdamaian dan persatuan.

“Hendaklah kamu selalu rendah hati, lemah lembut, dan sabar. Tunjukkanlah kasihmu dalam hal saling membantu.”
— Efesus 4:2

2. Pengampunan Menyembuhkan Luka

Luka dalam pelayanan tidak akan pulih tanpa pengampunan. Kasih Kristus mengajarkan untuk saling mengampuni dan memulihkan hubungan yang rusak.

“Sabarlah kamu seorang terhadap yang lain, dan ampunilah seorang akan yang lain apabila yang seorang menaruh dendam terhadap yang lain.”
— Kolose 3:13

3. Fokus Kembali Kepada Kristus

Pelayanan akan dimurnikan kembali jika pusatnya bukan manusia, melainkan Yesus Kristus sebagai kepala gereja.

“Dia adalah kepala tubuh, yaitu jemaat.”
— Kolose 1:18

Pemulihan Dimulai dari Hati yang Kembali kepada Kristus

Pada akhirnya, semua ini mengingatkan bahwa tanpa kasih dan kerendahan hati, pelayanan dapat kehilangan maknanya.

Yesus Kristus tidak pernah mengajarkan untuk mengejar posisi tertinggi, melainkan memiliki hati yang mau melayani. Karena itu, pemulihan gereja bukan dimulai dari sistem atau struktur semata, tetapi dari hati yang kembali tunduk kepada Tuhan.

Hati yang mau mengampuni, merendahkan diri, dan mengutamakan kesatuan di atas kepentingan pribadi akan membawa pemulihan bagi tubuh Kristus.

Sebab pada akhirnya, pemulihan selalu dimulai dari hati yang kembali kepada Kristus, Sang Empunya pelayanan dan gereja-Nya.

Ayat Penutup

“Dan segala sesuatu yang kamu lakukan dengan perkataan atau perbuatan, lakukanlah semuanya itu dalam nama Tuhan Yesus.”
— Kolose 3:17

Penulis: Pdm. Reza Nasarethsa Mailangkay

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button