Sejarah Israel: Dari Tanah Perjanjian hingga Negara Modern
Perjalanan lebih dari tiga milenium yang membentuk salah satu negara paling berpengaruh dan kontroversial di dunia

MANADO – Nama Israel hampir setiap hari menghiasi pemberitaan dunia. Konflik di Timur Tengah, hubungan dengan Palestina, perang regional, hingga pengaruhnya dalam politik global membuat negara ini menjadi salah satu perhatian utama masyarakat internasional.
Namun, untuk memahami situasi Israel saat ini, perlu melihat perjalanan sejarah panjang yang telah berlangsung selama ribuan tahun. Sejarah Israel tidak hanya berkaitan dengan politik modern, tetapi juga berakar pada tradisi keagamaan, kerajaan kuno, perpindahan penduduk, hingga pergolakan geopolitik yang membentuk kawasan Timur Tengah saat ini.
Awal Mula Bangsa Israel
Menurut tradisi Yahudi dan catatan dalam Alkitab, asal-usul bangsa Israel bermula dari Nabi Ibrahim (Abraham) yang diyakini menerima panggilan Tuhan untuk meninggalkan tanah kelahirannya di Mesopotamia menuju tanah Kanaan.
Garis keturunan tersebut diteruskan melalui Ishak dan kemudian Yakub. Dalam tradisi Alkitab, Yakub memperoleh nama baru, yaitu Israel, yang kemudian menjadi identitas bagi keturunannya.
Dari Yakub lahir dua belas putra yang dikenal sebagai leluhur Dua Belas Suku Israel, yang menjadi fondasi terbentuknya bangsa Israel kuno.
Perbudakan di Mesir dan Peristiwa Eksodus
Kisah penting berikutnya adalah perpindahan keluarga Yakub ke Mesir akibat bencana kelaparan di tanah Kanaan.
Dalam perkembangannya, keturunan mereka bertambah banyak dan kemudian hidup dalam perbudakan di bawah kekuasaan Firaun.
Tradisi Yahudi menyebut Nabi Musa sebagai pemimpin yang membebaskan bangsa Israel dari Mesir melalui peristiwa yang dikenal sebagai Eksodus. Dalam perjalanan menuju Tanah Perjanjian, Musa menerima hukum Taurat yang menjadi dasar kehidupan keagamaan dan sosial bangsa Israel.
Setelah puluhan tahun mengembara di padang gurun, bangsa Israel akhirnya memasuki tanah Kanaan di bawah kepemimpinan Yosua.
Masa Keemasan Kerajaan Israel
Sekitar abad ke-10 sebelum Masehi, Raja Daud berhasil mempersatukan suku-suku Israel dan menjadikan Yerusalem sebagai pusat pemerintahan.
Putranya, Raja Salomo atau Sulaiman, melanjutkan pembangunan kerajaan dan mendirikan Bait Suci Pertama yang menjadi pusat ibadah bangsa Yahudi.
Periode Daud dan Salomo sering dianggap sebagai masa keemasan Israel kuno.
Namun setelah wafatnya Salomo, kerajaan terpecah menjadi dua bagian, yaitu Kerajaan Israel di utara dan Kerajaan Yehuda di selatan.
Perpecahan tersebut melemahkan kekuatan politik bangsa Israel hingga akhirnya wilayah mereka ditaklukkan oleh kekaisaran-kekaisaran besar seperti Asyur dan Babilonia.
Pada tahun 586 SM, Babilonia menghancurkan Yerusalem dan Bait Suci Pertama, sekaligus mengakhiri Kerajaan Yehuda.
Dari Persia hingga Romawi
Setelah masa Babilonia, wilayah Israel silih berganti dikuasai berbagai kekuatan dunia, mulai dari Persia, Yunani, hingga Romawi.
Pada masa Romawi, bangsa Yahudi beberapa kali melakukan pemberontakan. Salah satu peristiwa paling menentukan terjadi pada tahun 70 M ketika pasukan Romawi menghancurkan Bait Suci Kedua di Yerusalem.
Peristiwa tersebut menjadi awal dari penyebaran besar-besaran masyarakat Yahudi ke berbagai wilayah dunia yang dikenal sebagai Diaspora Yahudi.
Selama hampir dua ribu tahun berikutnya, komunitas Yahudi hidup tersebar di Eropa, Afrika Utara, Timur Tengah, hingga Asia.
Munculnya Zionisme dan Deklarasi Balfour
Memasuki abad ke-19, muncul gerakan nasionalisme Yahudi yang dikenal sebagai Zionisme.
Gerakan ini bertujuan membangun kembali tanah air bagi bangsa Yahudi di wilayah Palestina, yang saat itu masih menjadi bagian dari Kekaisaran Ottoman.
Setelah Perang Dunia I, wilayah Palestina berada di bawah pemerintahan Inggris.
Tahun 1917 menjadi titik penting ketika pemerintah Inggris mengeluarkan Deklarasi Balfour, yang menyatakan dukungan terhadap pembentukan tanah air nasional bagi bangsa Yahudi di Palestina.
Dukungan tersebut mendorong gelombang migrasi Yahudi dalam jumlah besar ke Palestina dan memicu meningkatnya ketegangan dengan masyarakat Arab setempat.
Lahirnya Negara Israel Modern
Setelah Perang Dunia II dan tragedi Holocaust yang menewaskan jutaan orang Yahudi di Eropa, tekanan internasional untuk membentuk negara Yahudi semakin besar.
Pada tahun 1947, Perserikatan Bangsa-Bangsa mengusulkan pembagian Palestina menjadi dua negara, yakni negara Yahudi dan negara Arab.
Rencana tersebut diterima oleh pemimpin Yahudi, tetapi ditolak oleh sebagian besar negara Arab.
Pada 14 Mei 1948, David Ben-Gurion memproklamasikan berdirinya Negara Israel modern.
Deklarasi tersebut segera memicu perang antara Israel dan negara-negara Arab tetangganya.
Konflik yang Belum Berakhir
Sejak berdirinya, Israel terlibat dalam berbagai konflik besar yang mengubah peta politik Timur Tengah.
Beberapa di antaranya adalah:
- Perang Arab–Israel 1948
- Perang Enam Hari
- Perang Yom Kippur
Meski berhasil menjalin perdamaian dengan Mesir dan Yordania, konflik antara Israel dan Palestina hingga kini masih menjadi salah satu persoalan internasional yang paling sulit diselesaikan.
Perselisihan mengenai wilayah, keamanan, status Yerusalem, serta hak-hak rakyat Palestina terus menjadi sumber ketegangan yang mempengaruhi stabilitas kawasan Timur Tengah.
Israel dalam Perspektif Abad ke-21
Saat ini, Israel dikenal sebagai salah satu negara dengan kemajuan teknologi, militer, dan inovasi yang sangat pesat.
Di sisi lain, negara tersebut tetap berada di pusat berbagai perdebatan global terkait konflik, hak asasi manusia, diplomasi internasional, dan masa depan perdamaian Timur Tengah.
Perjalanan sejarah Israel menunjukkan bagaimana sebuah bangsa yang pernah mengalami diaspora selama berabad-abad mampu membangun negara modern, namun juga menghadapi tantangan politik dan keamanan yang masih berlangsung hingga hari ini.
Editor: Icad
Penulis: Pdm. Reza Nasarethza Mailangkay
Majalah Forum Adil – Edisi Sejarah Dunia & Geopolitik dan Rohani Kristen



