Harga Rica di Pasar Bersehati Terbelah Dua, Gorontalo Rp140–175 Ribu, Makassar Rp100–120 Ribu
Hasil pantauan 9 September 2026 menunjukkan perbedaan harga cukup lebar berdasarkan asal pasokan. Pemerintah Sulut sebelumnya telah menyiapkan opsi pasokan dari luar daerah untuk meredam gejolak harga cabai.

MANADO — Harga cabai rawit atau rica di Pasar Bersehati, Manado, menunjukkan perbedaan cukup mencolok berdasarkan asal pasokan.
Hasil pantauan lapangan pada Rabu, 9 September 2026, menunjukkan rica yang disebut pedagang berasal dari Gorontalo berada pada kisaran Rp140.000 hingga Rp175.000 per kilogram. Sementara rica yang disebut berasal dari Makassar berada pada kisaran Rp100.000 hingga Rp120.000 per kilogram.
Perbedaan tersebut memperlihatkan bahwa harga rica di tingkat pasar tidak berada pada satu angka yang seragam. Asal pasokan menjadi salah satu faktor yang terlihat memengaruhi harga di tingkat pedagang.
Rica Gorontalo Lebih Mahal
Berdasarkan pantauan tersebut, harga tertinggi rica Gorontalo mencapai Rp175.000 per kilogram.
Sementara itu, rica Makassar berada pada kisaran maksimal Rp120.000 per kilogram.
Dengan membandingkan harga tertinggi dari kedua jenis pasokan, terdapat selisih sekitar Rp55.000 per kilogram.
| Jenis Rica Berdasarkan Asal | Harga |
|---|---|
| Rica Gorontalo | Rp140.000–Rp175.000/kg |
| Rica Makassar | Rp100.000–Rp120.000/kg |
Angka tersebut merupakan hasil pantauan lapangan di Pasar Bersehati, bukan harga resmi tunggal untuk seluruh pedagang di pasar tersebut.
Perbedaan harga antarpedagang maupun antarasal komoditas dapat dipengaruhi berbagai faktor, antara lain harga di daerah asal, volume pasokan, biaya transportasi, kualitas barang, distribusi dan margin perdagangan.
Data PIHPS Juga Menunjukkan Harga Rica Manado Tinggi
Sebagai pembanding, data Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS) Bank Indonesia yang diperbarui untuk 7 September 2026 mencatat rata-rata harga cabai rawit di Manado sebesar Rp147.500 per kilogram.
Pada pasar yang menjadi sampel PIHPS, harga cabai rawit di Bersehati tercatat Rp150.000 per kilogram, sedangkan di Karombasan Rp145.000 per kilogram.
Artinya, hasil pantauan lapangan pada 9 September menunjukkan bahwa pada sejumlah lapak, terutama rica yang disebut berasal dari Gorontalo, harga dapat berada di atas angka rata-rata PIHPS tersebut.
Hal ini penting karena angka PIHPS merupakan rata-rata hasil survei, sehingga tidak selalu menggambarkan harga setiap pedagang atau setiap jenis pasokan yang tersedia di pasar.
Pemerintah Sulut Sudah Siapkan Opsi Pasokan dari Luar Daerah
Lonjakan harga cabai sebenarnya sudah mendapat perhatian Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara.
Dalam Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi pada 7 September 2026, Gubernur Sulut Yulius Selvanus meminta jajaran pemerintah daerah bergerak cepat untuk menjaga ketersediaan pasokan dan stabilitas harga cabai.
Pemprov Sulut juga menyiapkan opsi membuka akses pasokan dari luar daerah apabila produksi dan pasokan lokal tidak mencukupi. Pemerintah menyatakan langkah tersebut perlu dilakukan sebelum gejolak harga semakin tinggi.
Instruksi tersebut menjadi penting jika melihat kondisi di Pasar Bersehati saat ini.
Sebab, hasil pantauan menunjukkan terdapat pasokan dengan harga yang relatif lebih rendah, yakni rica yang disebut berasal dari Makassar dengan harga Rp100.000–Rp120.000 per kilogram.
Perbedaan Harga Membuka Pertanyaan soal Rantai Pasok
Perbedaan harga antara rica Gorontalo dan Makassar di Bersehati menjadi informasi penting untuk melihat persoalan dari sisi distribusi.
Jika pasokan dari luar daerah dapat masuk dengan harga yang lebih rendah, pemerintah dapat menelusuri apakah tambahan pasokan tersebut memungkinkan digunakan sebagai salah satu instrumen untuk menambah ketersediaan komoditas di Sulawesi Utara.
Namun, kebijakan tersebut tentu membutuhkan perhitungan menyeluruh, mulai dari harga di daerah asal, ongkos angkut, volume pasokan, distribusi ke pasar hingga harga di tingkat konsumen.
Yang paling penting, tambahan pasokan tidak hanya tersedia di tingkat distributor, tetapi benar-benar sampai ke pasar tradisional dengan harga yang dapat membantu menekan harga konsumen.
Jangan Sampai Harga Tinggi Menjadi Normal Baru
Harga rica merupakan salah satu persoalan penting bagi masyarakat Sulawesi Utara karena cabai menjadi komoditas yang sangat umum digunakan dalam konsumsi rumah tangga.
Ketika harga bertahan pada level Rp140.000 hingga Rp175.000 per kilogram, tekanan terhadap pengeluaran rumah tangga akan semakin terasa.
Apalagi, pemerintah daerah juga menghadapi potensi gangguan produksi dan pasokan akibat kondisi cuaca. Pemprov Sulut sendiri telah mengingatkan pentingnya mengantisipasi dampak perubahan cuaca terhadap produksi pangan dan distribusi cabai.
Karena itu, pengendalian harga perlu dilakukan sejak pasokan masih dapat diatur, bukan setelah harga semakin sulit dijangkau masyarakat.
Menjelang Natal, Waktu Pemerintah Tidak Banyak
Dari 9 September hingga 25 Desember 2026, tersisa 107 hari. Jika hari ini turut dihitung, menjadi 108 hari menuju Natal.
Periode tersebut seharusnya cukup bagi pemerintah untuk melakukan pemetaan produksi, memastikan stok, memperbaiki distribusi dan menyiapkan pasokan alternatif.
Terlebih lagi, memasuki periode akhir tahun, kebutuhan masyarakat terhadap sejumlah komoditas pangan berpotensi meningkat.
Karena itu, perkembangan harga rica di Pasar Bersehati dalam beberapa pekan ke depan akan menjadi salah satu indikator penting untuk melihat sejauh mana langkah pengendalian harga yang telah disiapkan pemerintah benar-benar bekerja.
Bagi konsumen, ukuran keberhasilan kebijakan tersebut sederhana: pasokan tersedia dan harga rica mulai kembali terjangkau.
Baca Juga
Harga Kebutuhan Pokok Manado 8 September: Rica Mendekati Rp200 Ribu, Jauh di Atas Harga Nasional



