AGAMABERITA TERBARU

METERAI KELIMA: “BERAPA LAMA LAGI?”

Jiwa-Jiwa di Bawah Mezbah: Ketika Kesetiaan, Penderitaan dan Keadilan Allah Bertemu. Wahyu 6:9–11

Oleh: Pdm. Nasaretsa Frederik George Mailangkay

FORUM ADIL – Setelah empat meterai pertama dibuka dan Yohanes melihat rangkaian penglihatan tentang kuda putih, kuda merah, kuda hitam dan kuda pucat, suasana penglihatan berubah.

Pada meterai kelima, perhatian Yohanes tidak lagi terutama diarahkan kepada pergolakan di bumi. Ia dibawa melihat sebuah realitas surgawi: jiwa-jiwa mereka yang telah dibunuh karena firman Allah dan karena kesaksian iman yang mereka pertahankan.

Mereka berada di bawah mezbah dan berseru kepada Allah dengan sebuah pertanyaan yang sederhana, tetapi sangat dalam: “Berapa lama lagi?”

Meterai Kelima Dibuka

“Dan ketika Anak Domba itu membuka meterai yang kelima, aku melihat di bawah mezbah jiwa-jiwa mereka yang telah dibunuh oleh karena firman Allah dan oleh karena kesaksian yang mereka miliki.” — Wahyu 6:9

Meterai kelima memperlihatkan sesuatu yang berbeda dari empat meterai sebelumnya.

Jika sebelumnya Yohanes melihat para penunggang kuda dan berbagai bentuk penderitaan di bumi, kini ia melihat orang-orang yang telah kehilangan nyawa karena kesetiaan mereka kepada Allah.

Mereka bukan digambarkan sebagai orang-orang yang gagal. Sebaliknya, mereka adalah saksi yang tetap mempertahankan firman dan kesaksian iman mereka sampai akhir.

Dari Kekacauan Bumi ke Realitas Surga

Perubahan suasana ini penting dalam memahami rangkaian Wahyu 6.

Penderitaan yang terjadi di bumi bukanlah seluruh cerita. Yohanes diperlihatkan bahwa di balik sejarah manusia terdapat realitas surgawi, tempat Allah mengetahui apa yang terjadi kepada umat-Nya.

Kematian para saksi tidak berarti mereka dilupakan.

Justru di dalam penglihatan Yohanes, mereka berada dalam perhatian Allah.

Siapakah Jiwa-Jiwa di Bawah Mezbah?

Wahyu 6:9 menyebut mereka sebagai orang-orang yang telah dibunuh karena firman Allah dan karena kesaksian yang mereka miliki.

Identitas mereka terutama terlihat dari kesetiaan mereka.

Mereka telah membayar harga yang sangat mahal untuk mempertahankan iman. Namun kematian tidak menghapus nilai kesaksian mereka.

Mezbah Surgawi

Yohanes melihat jiwa-jiwa tersebut berada “di bawah mezbah”.

Gambaran mezbah memiliki hubungan kuat dengan bahasa pengorbanan dalam Perjanjian Lama. Dalam konteks penglihatan Wahyu, gambaran ini dapat dibaca sebagai simbol bahwa kehidupan dan darah para saksi tidak dianggap sia-sia di hadapan Allah.

Apa yang tampak sebagai kekalahan di bumi memperoleh perspektif berbeda di hadapan Allah.

Kematian yang Tidak Dianggap Sia-Sia

Bagi manusia, kematian dapat terlihat sebagai akhir.

Namun Wahyu memperlihatkan perspektif yang berbeda. Mereka yang mati karena kesetiaan kepada Allah tetap berada dalam perhatian-Nya.

Kesaksian mereka tidak hilang.

Mereka tidak dilupakan.

“Berapa Lama Lagi?”

“Dan mereka berseru dengan suara nyaring, katanya: ‘Berapa lama lagi, ya Penguasa yang kudus dan benar, Engkau tidak menghakimi dan tidak membalaskan darah kami kepada mereka yang diam di bumi?’” — Wahyu 6:10

Pertanyaan “berapa lama lagi?” memperlihatkan kerinduan akan keadilan.

Mereka tidak mempertanyakan apakah Allah ada. Mereka justru memanggil-Nya sebagai Penguasa yang kudus dan benar.

Yang mereka nantikan adalah saat ketika keadilan Allah dinyatakan.

Allah Disebut Kudus dan Benar

Di tengah penderitaan, para martir tetap mengakui karakter Allah.

Mereka menyebut-Nya kudus dan benar. Ini menunjukkan bahwa seruan mereka bukan sekadar luapan kemarahan, tetapi seruan kepada Hakim yang mereka percaya memiliki keadilan sempurna.

“Sampai Genap Jumlah”

Jawaban yang mereka terima bukan berupa tanggal atau angka tertentu.

“Dan kepada mereka masing-masing diberikan sebuah jubah putih, dan kepada mereka dikatakan, bahwa mereka harus beristirahat sedikit waktu lagi sampai genap jumlah kawan-kawan pelayan dan saudara-saudara mereka, yang akan dibunuh sama seperti mereka.” — Wahyu 6:11

Frasa “sampai genap jumlah” menunjukkan bahwa ada batas dan waktu yang berada dalam pengetahuan Allah.

Alkitab tidak menyebut berapa jumlah tersebut. Karena itu, angka tertentu tidak dapat ditetapkan dari ayat ini.

Yang ditekankan adalah bahwa sejarah penderitaan para saksi tetap berada dalam pengetahuan Allah.

Kedaulatan Allah atas Waktu

Para martir diminta untuk “beristirahat sedikit waktu lagi”.

Bagi manusia, penantian dapat terasa sangat panjang. Namun dalam penglihatan Wahyu, waktu tidak berada di luar kendali Allah.

Ada waktu untuk penderitaan dan ada waktu bagi keadilan dinyatakan.

Jubah Putih Diberikan kepada Mereka

Kepada masing-masing diberikan jubah putih.

Dalam kitab Wahyu, jubah putih berkaitan dengan gambaran kemurnian, kehormatan dan kemenangan. Gambaran serupa kembali muncul dalam Wahyu 7:14 ketika orang-orang yang keluar dari kesusahan besar digambarkan mengenakan jubah yang telah dicuci dalam darah Anak Domba.

Para martir yang mengalami penderitaan justru menerima kehormatan dalam penglihatan surgawi.

Penderitaan Bukan Tanda Allah Meninggalkan Umat-Nya

Wahyu 6:9–11 tidak menjanjikan bahwa orang percaya akan selalu terbebas dari penderitaan.

Sebaliknya, bagian ini menunjukkan bahwa ada orang-orang yang tetap setia sekalipun harus menghadapi kematian.

Namun penderitaan mereka tidak berarti Allah meninggalkan mereka.

Justru Yohanes diperlihatkan bahwa Allah mengetahui kesaksian mereka dan memperhatikan seruan mereka.

Keadilan Allah dan Pembalasan

Seruan para martir juga berbicara mengenai keadilan.

Alkitab tidak menyerahkan pembalasan kepada manusia. Rasul Paulus menulis:

“Pembalasan itu adalah hak-Ku. Akulah yang akan menuntut pembalasan.” — Roma 12:19

Karena itu, penglihatan ini tidak dapat dijadikan alasan untuk membalas secara pribadi.

Penghakiman terakhir berada di tangan Allah.

Allah Tidak Melupakan Darah Para Saksi

“Berapa lama lagi?” menjadi salah satu seruan paling kuat dalam meterai kelima.

Mereka menunggu, tetapi mereka tidak dilupakan.

Di dalam penglihatan Yohanes, suara para martir sampai kepada Allah. Mereka menerima jubah putih dan diminta menunggu sampai waktunya genap.

Ada sebuah pesan penting di sini: kesetiaan yang dibayar dengan penderitaan tetap memiliki tempat dalam perhatian Allah.

Dari Meterai Kelima Menuju Meterai Keenam

Setelah penglihatan tentang jiwa-jiwa para martir, rangkaian Wahyu bergerak menuju meterai keenam.

Wahyu 6:12 mulai menggambarkan gempa bumi yang dahsyat, matahari menjadi hitam, bulan menjadi merah seperti darah dan berbagai tanda kosmis lainnya.

Jika meterai kelima memperlihatkan seruan para martir akan keadilan, meterai keenam membawa pembaca semakin dekat kepada gambaran penghakiman yang dahsyat.

Di tengah seluruh rangkaian tersebut, satu hal tetap menjadi pusat perhatian: Allah tidak kehilangan kendali atas sejarah.

Allah melihat. Allah mengetahui. Allah tetap berdaulat. Dan pada waktunya, keadilan-Nya akan dinyatakan.

BERSAMBUNG — SERI 8

METERAI KEENAM: “HARI BESAR MURKA ITU TELAH TIBA”

Wahyu 6:12–17 — Gempa Bumi Dahsyat, Matahari Menjadi Hitam, Bulan Menjadi Darah dan Ketakutan Manusia Menghadapi Hari Penghakiman.

Pdm. Nasaretsa Frederik George Mailangkay

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button