AGAMABERITA TERBARU

Siapakah yang Layak Membuka Tujuh Meterai?

Oleh: Pdm. Nasaretsa Frederik George Mailangkay

MANADO, Forum Adil – Setelah Rasul Yohanes diperlihatkan takhta Allah yang berdiri kokoh di surga dalam Wahyu 4, penglihatannya berlanjut kepada sebuah gulungan kitab yang berada di tangan kanan Dia yang duduk di atas takhta.

Gulungan itu tertutup rapat dengan tujuh meterai. Kemudian terdengar suara seorang malaikat yang kuat:

“Siapakah yang layak membuka gulungan kitab itu dan membuka meterai-meterainya?”
(Wahyu 5:2)

Pertanyaan tersebut menjadi salah satu titik penting dalam rangkaian penglihatan Kitab Wahyu. Sebab, tidak seorang pun ditemukan layak untuk membuka gulungan itu.

Yohanes bahkan menangis karena tidak ada seorang pun di surga, di bumi maupun di bawah bumi yang dapat membuka gulungan kitab tersebut atau melihat isinya.

Namun tangisan itu tidak berlangsung selamanya. Salah seorang tua-tua berkata kepadanya:

“Jangan menangis! Sesungguhnya, singa dari suku Yehuda, yaitu tunas Daud, telah menang, sehingga Ia dapat membuka gulungan kitab itu dan membuka ketujuh meterainya.”
(Wahyu 5:5)

Yohanes kemudian melihat sosok yang disebut sebagai Singa dari suku Yehuda. Tetapi yang dilihatnya bukan seekor singa. Ia melihat Anak Domba seperti telah disembelih.

Singa dari Suku Yehuda dan Anak Domba yang Disembelih

“Maka aku melihat di tengah-tengah takhta dan keempat makhluk itu dan di tengah-tengah tua-tua itu berdiri seekor Anak Domba seperti telah disembelih.”
(Wahyu 5:6)

Gambaran ini menjadi salah satu bagian paling kuat dalam penglihatan Yohanes. Ia mendengar tentang Singa, tetapi melihat Anak Domba.

Singa menggambarkan kemenangan dan otoritas, sedangkan Anak Domba mengingatkan pada pengorbanan. Di dalam penglihatan tersebut, kemenangan Kristus tidak dipisahkan dari pengorbanan-Nya.

Kristus adalah Sang Pemenang, tetapi kemenangan itu ditampilkan melalui Anak Domba yang telah disembelih.

Kemudian Anak Domba itu maju dan mengambil gulungan kitab dari tangan Dia yang duduk di atas takhta.

“Lalu datanglah Anak Domba itu dan menerima gulungan kitab itu dari tangan Dia yang duduk di atas takhta itu.”
(Wahyu 5:7)

Dengan tindakan tersebut, Anak Domba dinyatakan layak membuka meterai-meterai. Setelah itu, suasana di surga berubah menjadi penyembahan besar-besaran.

1. Makhluk Hidup dan 24 Penatua Menyembah Anak Domba

“Ketika Ia mengambil gulungan kitab itu, tersungkurlah keempat makhluk hidup dan kedua puluh empat tua-tua itu di hadapan Anak Domba.”
(Wahyu 5:8)

Keempat makhluk hidup dan dua puluh empat tua-tua tersungkur di hadapan Anak Domba. Mereka memegang kecapi dan cawan emas yang disebut sebagai doa orang-orang kudus.

Gambaran ini memperlihatkan bahwa Anak Domba bukan sekadar tokoh yang mengambil gulungan kitab. Ia menjadi pusat penyembahan di hadapan takhta.

Doa umat Tuhan juga hadir dalam gambaran surgawi tersebut. Tidak ada kemuliaan manusia yang ditempatkan lebih tinggi daripada Anak Domba.

2. Nyanyian Baru: Anak Domba yang Layak

Setelah tersungkur menyembah, keempat makhluk hidup dan kedua puluh empat tua-tua menyanyikan nyanyian baru.

“Engkau layak menerima gulungan kitab itu dan membuka meterai-meterainya; karena Engkau telah disembelih dan dengan darah-Mu Engkau telah membeli mereka bagi Allah dari tiap-tiap suku dan bahasa dan kaum dan bangsa.”
(Wahyu 5:9)

Inilah alasan yang dinyatakan dalam teks mengenai kelayakan Anak Domba. Ia telah disembelih dan melalui darah-Nya menebus manusia bagi Allah.

Karya Kristus menjangkau manusia dari berbagai suku, bahasa, kaum dan bangsa.

Karena itu, kelayakan Anak Domba bukan didasarkan pada kekuatan politik, kekayaan, pengaruh duniawi atau kekuasaan manusia. Kelayakan-Nya berkaitan dengan karya penebusan yang telah dilakukan-Nya.

Mereka kemudian menyatakan bahwa orang-orang yang ditebus itu telah dijadikan suatu kerajaan dan menjadi imam bagi Allah.

“Dan Engkau telah membuat mereka menjadi suatu kerajaan, dan menjadi imam-imam bagi Allah kita, dan mereka akan memerintah sebagai raja di bumi.”
(Wahyu 5:10)

3. Jutaan Malaikat Bergabung dalam Pujian

Penyembahan tidak berhenti pada makhluk hidup dan kedua puluh empat tua-tua.

Yohanes kemudian melihat dan mendengar suara banyak malaikat yang mengelilingi takhta.

“Maka aku melihat dan mendengar suara banyak malaikat sekeliling takhta, makhluk-makhluk dan tua-tua itu; jumlah mereka berlaksa-laksa dan beribu-ribu laksa.”
(Wahyu 5:11)

Mereka kemudian berseru dengan suara yang kuat:

“Anak Domba yang disembelih itu layak untuk menerima kuasa, dan kekayaan, dan hikmat, dan kekuatan, dan hormat, dan kemuliaan, dan puji-pujian!”
(Wahyu 5:12)

Pujian tersebut menunjukkan keluasan penghormatan yang diberikan kepada Anak Domba. Kuasa, kekayaan, hikmat, kekuatan, hormat, kemuliaan dan puji-pujian diarahkan kepada-Nya.

Gambaran ini semakin menegaskan bahwa Anak Domba bukan figur yang berada di pinggir penglihatan Yohanes. Anak Domba berada di pusat penyembahan surgawi.

4. Segala Ciptaan Menyembah

Penglihatan Yohanes kemudian semakin luas. Pujian tidak hanya datang dari makhluk-makhluk surgawi. Ia mendengar seluruh ciptaan.

“Dan aku mendengar semua makhluk yang di sorga dan yang di bumi dan yang di bawah bumi dan yang di laut dan semua yang ada di dalamnya, berkata: ‘Bagi Dia yang duduk di atas takhta dan bagi Anak Domba, adalah puji-pujian dan hormat dan kemuliaan dan kuasa sampai selama-lamanya!’”
(Wahyu 5:13)

Dari surga hingga bumi, dari laut hingga seluruh ciptaan, semuanya digambarkan memberikan penghormatan kepada Dia yang duduk di atas takhta dan kepada Anak Domba.

Gambaran tersebut membawa pembaca kepada sebuah pengakuan universal: Allah dan Anak Domba menjadi pusat pujian seluruh ciptaan.

Dengan demikian, penglihatan Wahyu 5 tidak hanya berbicara mengenai sebuah gulungan kitab. Pasal ini memperlihatkan siapa yang berada di pusat rencana Allah: Anak Domba yang telah menang melalui pengorbanan-Nya.

5. Pujian dan Kemuliaan untuk Selama-lamanya

Penglihatan tersebut mencapai puncaknya ketika seluruh pujian diarahkan kepada Dia yang duduk di atas takhta dan kepada Anak Domba.

“Bagi Dia yang duduk di atas takhta dan bagi Anak Domba, adalah puji-pujian dan hormat dan kemuliaan dan kuasa sampai selama-lamanya!”
(Wahyu 5:13)

Keempat makhluk hidup kemudian menjawab, “Amin.” Kedua puluh empat tua-tua kembali tersungkur dan menyembah.

“Maka tersungkurlah keempat makhluk itu dan kedua puluh empat tua-tua itu dan mereka menyembah.”
(Wahyu 5:14)

Penglihatan tersebut ditutup dengan penyembahan. Bukan ketakutan, bukan kekacauan, dan bukan manusia yang menjadi pusat, tetapi Allah yang duduk di atas takhta dan Anak Domba.

Dari Takhta Menuju Meterai Pertama

Wahyu 4 dan Wahyu 5 menjadi fondasi penting sebelum pembaca memasuki Wahyu 6.

Dalam Wahyu 4, Yohanes melihat takhta Allah. Dalam Wahyu 5, Yohanes melihat Anak Domba yang layak mengambil gulungan kitab. Dan dalam Wahyu 6, meterai pertama mulai dibuka.

Urutan ini penting.

Sebelum pembaca melihat penunggang kuda, peperangan, kelaparan dan kematian, pembaca terlebih dahulu diperlihatkan bahwa gulungan kitab berada dalam tangan Allah dan kemudian diambil oleh Anak Domba yang dinyatakan layak.

Karena itu, rangkaian peristiwa dalam Kitab Wahyu tidak digambarkan sebagai sejarah yang berjalan tanpa kendali. Ada takhta, ada otoritas, dan ada Anak Domba yang layak.

Pertanyaan yang semula membuat Yohanes menangis akhirnya mendapatkan jawaban:

Siapakah yang layak membuka tujuh meterai?

Yesus Kristus, Sang Anak Domba.

Ia telah menang. Ia telah disembelih. Ia telah menebus manusia bagi Allah. Dan kini Ia menerima gulungan kitab tersebut.

Setelah itu, satu per satu meterai mulai dibuka.

Ketika meterai pertama dibuka, Yohanes melihat seekor kuda putih dan seorang penunggang yang maju sebagai pemenang.

Namun siapa sebenarnya penunggang tersebut? Apakah ia membawa kemenangan yang sesungguhnya, atau justru menjadi awal dari rangkaian penaklukan dan penderitaan yang akan semakin besar?

Jawabannya akan membawa kita ke bagian berikutnya.

BERSAMBUNG — SERI 3

Meterai Pertama Dibuka: Awal Penaklukan Dunia

Wahyu 6:1–2

Ketika Anak Domba membuka meterai pertama, Yohanes melihat seekor kuda putih dan seorang penunggang yang menerima mahkota. Apa makna penunggang tersebut dalam rangkaian penglihatan akhir zaman?

Oleh: Pdm. Nasaretsa Frederik George Mailangkay.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button