BERITA TERBARUSEJARAH & BUDAYA

14 Februari 1946: Revolusi yang Terlupakan dari Timur?

Ketika Jawa dikenang lewat 10 November, Manado pun memiliki 14 Februari—hari ketika Merah Putih direbut dengan keberanian.

FORUMADIL, Manado – Ketika Surabaya dikenang sebagai Kota Pahlawan, Manado sesungguhnya juga pernah merebut Merah Putih dari tangan kolonial.

10 November 1945 – Hari Pahlawan (Surabaya)

Pertempuran besar antara arek-arek Surabaya melawan pasukan Inggris dan Belanda.
Tokoh sentralnya: Bung Tomo.

Peristiwa ini menjadi simbol perlawanan terbuka dan heroik yang kemudian ditetapkan sebagai Hari Pahlawan nasional.

Surabaya dikenal sebagai “Kota Pahlawan” karena pertempuran berdarah mempertahankan kemerdekaan.

Berikut beberapa hari bersejarah lainnya di Jawa yang bisa dijadikan pembanding naratif:

24 Maret 1946 – Bandung Lautan Api

Warga dan pejuang membakar kota Bandung bagian selatan agar tidak jatuh ke tangan Sekutu dan NICA.

Makna sejarah:
Lebih baik membumihanguskan kota sendiri daripada kembali dijajah.

Kini, “Bandung Lautan Api” menjadi simbol pengorbanan total dalam revolusi.

1 Maret 1949 – Serangan Umum Yogyakarta

Pasukan TNI merebut Yogyakarta selama enam jam untuk menunjukkan kepada dunia bahwa Republik Indonesia masih ada.

Tokoh penting: Suharto (saat itu Letkol).

Serangan ini berdampak diplomatik besar terhadap pengakuan internasional.

11 Maret 1966 – Supersemar

Jakarta

Penandatanganan Surat Perintah Sebelas Maret oleh Sukarno yang memberi mandat kepada Suharto.

Peristiwa ini menjadi titik balik politik nasional dan awal Orde Baru.

28 Oktober 1928 – Sumpah Pemuda

Jakarta

Deklarasi satu tanah air, satu bangsa, satu bahasa: Indonesia.
Momentum konsolidasi nasional sebelum kemerdekaan.

Perbandingan dengan 14 Februari 1946 – Manado

Peristiwa: Merah Putih Manado

Jika Surabaya punya 10 November, Bandung punya 24 Maret, Yogyakarta punya 1 Maret, maka Manado memiliki 14 Februari 1946 — momentum perebutan markas KNIL dan pengibaran Merah Putih di Teling.

Perbedaannya bukan pada kadar heroisme, melainkan pada arus narasi sejarah nasional yang lebih banyak berpusat di Jawa.

Namun lima bulan setelahnya, di 14 Februari 1946, di Manado, sebuah gerakan senyap terjadi. Markas KNIL di Teling direbut. Perwira Belanda dilucuti. Tahanan politik dibebaskan. Bendera Merah Putih dikibarkan.

Peristiwa ini dikenal sebagai Peristiwa Merah Putih Manado.

Dan ia bukan mitos lokal.

Konfirmasi dalam Arsip Belanda

Dalam laporan militer Belanda yang tersimpan di Nationaal Archief Den Haag (laporan NICA wilayah Celebes awal 1946), disebutkan adanya “opstand van inheemse KNIL-militairen in Menado”—pemberontakan prajurit pribumi KNIL di Manado.

Laporan itu mencatat:

  • Pengambilalihan gudang senjata.
  • Penahanan perwira Belanda oleh anak buahnya sendiri.
  • Gangguan serius terhadap kontrol militer kolonial di Minahasa.

Dalam perspektif kolonial, ini disebut sebagai “pemberontakan internal”.
Dalam perspektif Republik, ini adalah keberanian memilih bangsa sendiri.

Sumber Belanda justru memperkuat fakta bahwa 14 Februari bukan sekadar simbolik, melainkan peristiwa militer nyata yang mengguncang struktur kolonial di Sulawesi Utara.

Para Tokoh di Balik Gerakan

Ch Taulu

Perwira KNIL berdarah Minahasa yang memimpin gerakan rahasia untuk mendukung Republik Indonesia. Ia menjadi motor penggerak pemberontakan terhadap komando Belanda di Manado.

Gerakan tersebut juga tidak bisa dilepaskan dari pengaruh politik dan kepemimpinan Sam Ratulangi, Gubernur Sulawesi pertama yang sebelumnya ditangkap dan diasingkan Belanda. Spirit perlawanan Ratulangi membentuk kesadaran politik di wilayah ini.

Dalam catatan sejarah lokal dan militer, sejumlah prajurit pribumi KNIL di Minahasa memang membangun simpul pro-Republik yang kemudian meletus dalam aksi 14 Februari 1946.

Artinya, revolusi di Manado bukan reaksi spontan. Ia bagian dari dinamika nasional mempertahankan kemerdekaan.

Robert Wolter Mongisidi

Tokoh muda pejuang asal Sulawesi yang kemudian dikenal luas dalam perjuangan di wilayah Indonesia Timur. (Meski basis perjuangannya banyak di Makassar, semangat gerakan di Sulawesi saling terhubung dalam fase revolusi ini).

Perwira dan Prajurit Lokal KNIL Pro-Republik

Sejumlah tentara pribumi dalam struktur KNIL yang secara diam-diam telah menyatakan dukungan kepada Republik dan ikut melucuti senjata Belanda.

Kronologi Per Jam (Ringkasan Rekonstruksi Sejarah)

🕖 13 Februari 1946 – Malam Hari

  • Pertemuan rahasia digelar oleh kelompok pro-Republik.
  • Disepakati penyerbuan markas KNIL di Teling, Manado.
  • Strategi: serangan cepat dan pelucutan senjata tanpa perlawanan besar.

🕛 Dini Hari – 14 Februari 1946

  • Pasukan bergerak menuju markas militer Belanda di Teling.
  • Penangkapan sejumlah perwira Belanda dilakukan secara taktis.
  • Gudang senjata dikuasai.

🕘 Pagi Hari

  • Tahanan politik yang pro-Republik dibebaskan.
  • Bendera Belanda diturunkan.
  • Bendera Merah Putih dikibarkan sebagai simbol kekuasaan Republik Indonesia.

🕛 Siang Hari

  • Manado dinyatakan berada di bawah kendali pejuang pro-Republik.
  • Informasi menyebar cepat ke wilayah sekitar Minahasa.

Dampak Peristiwa

  1. Membuktikan bahwa wilayah Indonesia Timur aktif dalam Revolusi Kemerdekaan.
  2. Mematahkan narasi bahwa perjuangan hanya terpusat di Jawa.
  3. Menjadi simbol kebangkitan nasionalisme di Sulawesi Utara.
  4. Menginspirasi gerakan serupa di wilayah lain di Indonesia Timur.

Artinya, revolusi di Manado bukan reaksi spontan. Ia bagian dari dinamika nasional mempertahankan kemerdekaan.

Sejajar dengan Peristiwa di Jawa

Jika 24 Maret 1946 di Bandung dikenang sebagai “Bandung Lautan Api”, dan 1 Maret 1949 di Yogyakarta dikenang sebagai Serangan Umum, maka 14 Februari 1946 memiliki elemen yang setara:

  • Perebutan kendali militer
  • Pengibaran Merah Putih
  • Risiko pengadilan dan hukuman mati
  • Dampak strategis terhadap struktur kolonial

Perbedaannya hanya satu: legitimasi formal negara.

Mengapa Layak Diakui?

Secara akademik, suatu peristiwa layak ditetapkan sebagai hari perjuangan jika memenuhi unsur:

  1. Memiliki dampak langsung terhadap struktur kekuasaan kolonial.
  2. Melibatkan risiko kolektif terhadap pelaku.
  3. Mengandung simbol nasional (Merah Putih).
  4. Terdokumentasi dalam arsip primer, termasuk sumber lawan (Belanda).

14 Februari 1946 memenuhi keempat unsur tersebut.

Pengakuan resmi bukan sekadar seremoni. Ia adalah koreksi historiografi agar revolusi Indonesia tidak hanya dibaca dari Jawa.

Penutup: Mengoreksi Pusat Sejarah

Indonesia bukan hanya Jawa.
Revolusi bukan hanya Surabaya.

Sulawesi Utara memiliki 14 Februari 1946 — hari ketika prajurit pribumi memilih Republik, dan Merah Putih dikibarkan di tanah Minahasa.

Jika Surabaya adalah Kota Pahlawan, maka Manado adalah Kota Merah Putih yang menunggu pengakuan.

Sejarah tidak boleh sentralistis.

Dan keadilan sejarah adalah bagian dari keadilan nasional.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button