AGAMABERITA TERBARU

SERIAL PENDALAMAN KITAB WAHYU

Sebelum Meterai Dibuka, Yohanes Diperlihatkan Kedaulatan Allah atas Seluruh Sejarah

Takhta yang Tetap Berdiri di Surga

Oleh: Pdm. Nasaretsa Frederik George Mailangkay

FORUMADIL – Sebelum Rasul Yohanes diperlihatkan pembukaan tujuh meterai dan rangkaian peristiwa yang berkaitan dengan penghakiman pada akhir zaman, ia terlebih dahulu menerima sebuah penglihatan tentang surga, sebuah pintu yang terbuka, dan takhta Allah yang berdiri kokoh.

Penglihatan tersebut dicatat dalam Wahyu 4:1–11.

“Kemudian dari pada itu aku melihat: sesungguhnya, sebuah pintu terbuka di sorga dan suara yang dahulu yang telah kudengar, berkata kepadaku seperti bunyi sangkakala, katanya: Naiklah ke mari dan Aku akan menunjukkan kepadamu apa yang harus terjadi sesudah ini.”
(Wahyu 4:1)

Penglihatan ini menjadi bagian penting untuk memahami rangkaian peristiwa yang akan muncul dalam pasal-pasal berikutnya.

Yohanes tidak langsung diperlihatkan peperangan, kelaparan, kematian, atau kehancuran. Ia justru terlebih dahulu diperlihatkan takhta Allah.

Pesannya sangat kuat: sebelum manusia melihat apa yang terjadi di bumi, Yohanes diperlihatkan siapa yang berkuasa dari surga.

Pintu Surga Terbuka

Yohanes melihat sebuah pintu terbuka di surga. Kemudian ia mendengar suara seperti bunyi sangkakala yang memanggilnya untuk naik dan melihat apa yang akan terjadi sesudahnya.

“Segera aku dikuasai oleh Roh dan lihatlah, sebuah takhta terdiri di sorga, dan di takhta itu duduk Seorang.”
(Wahyu 4:2)

Pintu yang terbuka menjadi awal dari penglihatan surgawi Yohanes. Ia diarahkan untuk melihat sesuatu yang jauh lebih besar daripada keadaan dunia: takhta Allah.

Penglihatan ini memberikan perspektif penting bagi pembaca Kitab Wahyu. Berbagai peristiwa akhir zaman tidak berdiri sendiri dan bukan pula rangkaian kekacauan yang berlangsung tanpa kendali. Di balik semuanya terdapat Allah yang tetap memegang kedaulatan.

Takhta Allah Tetap Berdiri

Pusat penglihatan Yohanes adalah takhta.

“Dan Dia yang duduk di takhta itu nampaknya bagaikan permata yaspis dan permata sardis; dan suatu pelangi melingkungi takhta itu gilang-gemilang bagaikan zamrud rupanya.”
(Wahyu 4:3)

Takhta merupakan gambaran pemerintahan dan otoritas. Allah digambarkan sebagai Dia yang duduk di atas takhta, menunjukkan bahwa pemerintahan-Nya tidak terguncangkan oleh perubahan dunia.

Di sekeliling takhta tampak kemuliaan yang digambarkan melalui permata yaspis, sardis dan pelangi seperti zamrud.

Gambaran tersebut membawa pembaca kepada suasana kemuliaan dan keagungan Allah. Pelangi juga mengingatkan pada kesetiaan Allah terhadap perjanjian-Nya.

Di tengah berbagai nubuat tentang penghakiman, ada satu kepastian yang tidak berubah: Allah tetap berdaulat.

24 Tua-Tua di Sekeliling Takhta

Yohanes kemudian melihat dua puluh empat takhta yang mengelilingi takhta Allah.

“Dan sekeliling takhta itu ada dua puluh empat takhta, dan di takhta-takhta itu duduk dua puluh empat tua-tua, yang memakai pakaian putih dan mahkota emas di kepala mereka.”
(Wahyu 4:4)

Identitas dua puluh empat tua-tua menjadi salah satu bagian yang memiliki beragam penafsiran. Sebagian penafsir memahaminya sebagai gambaran umat Allah yang telah menang, sementara yang lain menghubungkannya dengan representasi kepemimpinan umat Allah.

Namun, apa pun penafsiran mengenai identitas mereka, teks menunjukkan satu hal yang jelas: mereka berada di sekitar takhta dan menyembah Allah.

Pakaian putih dan mahkota emas menggambarkan kehormatan dan kemenangan. Tetapi mahkota tersebut bukan untuk menjadi pusat kemuliaan diri.

Pada waktunya, mahkota itu justru diletakkan di hadapan Allah.

Kilat, Guruh dan Tujuh Obor yang Menyala

Dari takhta itu keluar kilat, bunyi guruh dan suara-suara.

“Dan dari takhta itu keluar kilat dan bunyi guruh yang menderu. Dan tujuh obor menyala-nyala di hadapan takhta itu: itulah ketujuh Roh Allah.”
(Wahyu 4:5)

Gambaran kilat dan guruh menghadirkan suasana kedahsyatan dan keagungan di sekitar takhta Allah.

Yohanes juga melihat tujuh obor yang menyala di hadapan takhta dan menyebutnya sebagai “ketujuh Roh Allah.”

Dalam tradisi penafsiran Kristen, angka tujuh sering dipahami sebagai gambaran kepenuhan atau kesempurnaan. Karena itu, gambaran tersebut kerap dikaitkan dengan kepenuhan karya Roh Allah.

Seluruh gambaran ini kembali menegaskan bahwa takhta Allah adalah pusat kekudusan, kemuliaan dan kuasa.

Empat Makhluk Hidup dan Pujian Tanpa Henti

Di sekitar takhta Yohanes melihat empat makhluk hidup.

“Dan di hadapan takhta itu ada sesuatu bagaikan lautan kaca, seperti kristal.”
(Wahyu 4:6)

Keempat makhluk hidup tersebut penuh dengan mata di sebelah muka dan belakang. Mereka memiliki rupa seperti singa, anak lembu, manusia, dan burung nasar.

Berbagai penafsiran telah diberikan terhadap simbol-simbol tersebut. Mata yang banyak, misalnya, sering dipahami sebagai gambaran pengamatan yang luas. Sementara rupa keempat makhluk hidup tersebut juga telah ditafsirkan dalam berbagai cara oleh para penafsir Alkitab.

Namun ada satu hal yang sangat jelas dari teks: mereka tidak berhenti menyembah Allah.

“Kudus, kudus, kuduslah Tuhan Allah, Yang Mahakuasa, yang sudah ada dan yang ada dan yang akan datang.”
(Wahyu 4:8)

Siang dan malam mereka terus memuliakan Allah.

Ini menunjukkan bahwa pusat kehidupan surgawi bukanlah kekuasaan makhluk, melainkan penyembahan kepada Sang Pencipta.

Mahkota Diletakkan di Hadapan Allah

Puncak penglihatan tersebut terlihat ketika dua puluh empat tua-tua tersungkur di hadapan Allah.

“Maka tersungkurlah kedua puluh empat tua-tua itu di hadapan Dia yang duduk di atas takhta itu, dan mereka menyembah Dia yang hidup sampai selama-lamanya. Dan mereka melemparkan mahkotanya di hadapan takhta itu.”
(Wahyu 4:10)

Mahkota yang sebelumnya mereka kenakan kini diletakkan di hadapan takhta.

Tindakan tersebut menggambarkan penyerahan dan pengakuan bahwa segala kehormatan pada akhirnya berasal dari Allah.

Mereka kemudian menyatakan:

“Ya Tuhan dan Allah kami, Engkau layak menerima puji-pujian dan hormat dan kuasa; sebab Engkau telah menciptakan segala sesuatu; dan oleh karena kehendak-Mu semuanya itu ada dan diciptakan.”
(Wahyu 4:11)

Allah dinyatakan layak menerima pujian, hormat dan kuasa karena Dialah Pencipta segala sesuatu.

Sebelum Meterai Dibuka, Takhta Sudah Berdiri

Wahyu 4 memberikan fondasi penting sebelum pembaca memasuki Wahyu 5 dan Wahyu 6.

Sebelum gulungan kitab diambil.
Sebelum tujuh meterai dibuka.
Sebelum penunggang kuda muncul.
Sebelum peperangan, kelaparan dan kematian digambarkan.

Yohanes terlebih dahulu melihat takhta Allah.

Ini menjadi pesan penting bagi orang percaya: jangan melihat nubuat akhir zaman hanya dari sisi bencana dan penghakiman. Lihatlah terlebih dahulu siapa yang berada di atas takhta.

Kerajaan dunia dapat berubah. Kekuasaan manusia dapat naik dan turun. Keadaan bumi dapat mengalami pergolakan.

Namun takhta Allah tetap berdiri.

Dan dari takhta itulah rangkaian peristiwa dalam Kitab Wahyu akan bergerak menuju penggenapan rencana Allah.

Karena itu, Wahyu 4 bukan sekadar gambaran tentang surga. Pasal ini adalah sebuah pengingat bahwa di tengah dunia yang penuh ketidakpastian, Allah tetap memegang kendali.

Bersambung

Seri Berikutnya:

Siapakah yang Layak Membuka Tujuh Meterai?

Wahyu 5:1–14 dan Munculnya Anak Domba yang Layak Membuka Gulungan Kitab

Setelah diperlihatkan takhta Allah, Yohanes melihat sebuah gulungan kitab yang dimeteraikan dengan tujuh meterai.

Kemudian terdengar pertanyaan yang menentukan:

“Siapakah yang layak membuka gulungan kitab itu dan membuka meterai-meterainya?”

Tidak seorang pun ditemukan layak.

Sampai akhirnya Yohanes melihat Anak Domba.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button