BERITA TERBARUKESEHATAN

Leukemia Anak di Sulawesi Utara Jadi Alarm Layanan Kesehatan Indonesia Timur

Di Ruang Estella RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado, puluhan anak menjalani pertarungan panjang melawan leukemia. Sebagian datang dari pulau-pulau terpencil di Sulawesi Utara dan Maluku Utara. Di balik kemoterapi, transfusi darah, dan jarum infus, ada keluarga yang mempertaruhkan tabungan, pekerjaan, bahkan ketahanan mental demi satu harapan: anak mereka sembuh.

Pagi belum terlalu ramai di lantai perawatan anak RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou, Manado. Aroma antiseptik bercampur suara pelan televisi anak-anak memenuhi lorong Ruang Estella. Di salah satu sudut ruangan, seorang anak laki-laki berusia sekitar empat tahun duduk diam di atas tempat tidur. Kepalanya mulai kehilangan rambut akibat kemoterapi. Selang infus menempel di tangan kecilnya.

Ibunya duduk di samping ranjang sambil menggenggam buku doa yang mulai lusuh.

Sudah hampir delapan bulan mereka tinggal bolak-balik antara kampung halaman dan Manado.

“Awalnya kami kira cuma kurang darah,” kata sang ibu pelan.

Tak ada yang langsung menyangka anak itu mengidap leukemia—kanker darah yang menjadi salah satu penyakit paling ditakuti pada anak-anak. Gejalanya memang sering menipu: demam berulang, pucat, tubuh lemas, mimisan, atau lebam di kulit. Banyak keluarga baru mengetahui penyakit itu setelah kondisi anak memburuk.

Di Sulawesi Utara, hampir seluruh kasus leukemia anak bermuara ke Ruang Estella RSUP Kandou. Tempat itu bukan sekadar ruang rawat biasa. Ia telah menjadi titik harapan bagi keluarga dari berbagai penjuru Indonesia Timur.

Kanker Anak yang Paling Banyak Ditemukan

Di dunia medis, leukemia merupakan kanker anak yang paling umum. Jenis yang paling banyak ditemukan adalah Leukemia Limfoblastik Akut (LLA) atau Acute Lymphoblastic Leukemia (ALL). Penyakit ini menyerang sumsum tulang—pabrik pembentuk darah dalam tubuh manusia.

Penelitian Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi menunjukkan pola kasus leukemia anak di Manado tidak jauh berbeda dengan tren nasional maupun global. Mayoritas pasien merupakan anak usia balita hingga awal sekolah dasar. Anak laki-laki sedikit lebih banyak dibanding perempuan.

Dokter spesialis anak subspesialis hematologi-onkologi menjelaskan bahwa leukemia pada anak sebenarnya memiliki peluang sembuh yang tinggi bila ditemukan lebih dini dan menjalani terapi lengkap.

Namun persoalannya tidak sesederhana teori medis.

“Banyak pasien datang sudah dalam kondisi berat,” ujar seorang tenaga medis yang terlibat dalam pelayanan kanker anak.

Di daerah kepulauan, keterlambatan diagnosis masih menjadi masalah besar. Gejala awal leukemia kerap dianggap sekadar infeksi biasa atau kurang gizi. Ada anak yang berbulan-bulan hanya diberi vitamin sebelum akhirnya dirujuk ke Manado.

Saat tiba di rumah sakit rujukan, sebagian pasien sudah mengalami penurunan trombosit berat, anemia serius, atau infeksi berat akibat daya tahan tubuh yang turun drastis.

Semua Jalan Menuju Estella

Bagi pasien kanker anak di Sulawesi Utara, nama “Estella” sudah sangat dikenal. Ruangan itu menjadi pusat penanganan kanker anak terbesar di wilayah ini.

Pasien datang dari:

  • Minahasa,
  • Bolaang Mongondow,
  • Kepulauan Sangihe,
  • Talaud,
  • Sitaro,
  • bahkan dari Maluku Utara.

Sebagian keluarga harus menempuh perjalanan laut berjam-jam sebelum mencapai Manado.

Ada yang naik kapal malam sambil membawa anak dalam kondisi demam tinggi. Ada yang harus mengumpulkan ongkos transportasi dari keluarga besar. Ada pula yang akhirnya tinggal berbulan-bulan di rumah singgah karena terapi tidak mungkin dilakukan pulang-pergi.

Leukemia bukan penyakit yang selesai dalam satu operasi atau satu kali rawat inap.

Pengobatan bisa berlangsung dua hingga tiga tahun.

Pada fase awal, pasien harus menjalani kemoterapi intensif untuk menghancurkan sel kanker. Setelah itu masih ada fase lanjutan, kontrol rutin, pemeriksaan sumsum tulang, transfusi darah, hingga pengawasan ketat terhadap infeksi.

Bagi anak-anak, proses itu berarti:

  • jarum suntik berulang,
  • obat keras,
  • mual,
  • rambut rontok,
  • sariawan berat,
  • hingga tubuh lemah berkepanjangan.

Bagi orang tua, itu berarti hidup berubah total.

Ketika Ibu Menjadi Perawat Sepanjang Waktu

Di Ruang Estella, sebagian besar pendamping pasien adalah ibu.

Mereka tidur di kursi lipat, menjaga infus, membersihkan muntah anak, menunggu hasil laboratorium, sekaligus mencoba tetap tegar di depan anak-anak yang ketakutan.

Penelitian lokal dari Universitas Sam Ratulangi pernah menemukan bahwa banyak ibu pasien leukemia anak mengalami tekanan psikologis serius. Sebagian mengalami depresi ringan hingga sedang akibat beban panjang selama pengobatan.

Tekanan itu datang dari banyak arah:

  • rasa takut kehilangan anak,
  • kelelahan fisik,
  • biaya hidup di kota,
  • hingga kehilangan pekerjaan.

Tidak sedikit ayah pasien akhirnya bekerja sendiri di kampung sementara ibu tinggal di Manado mendampingi anak selama terapi.

Kondisi itu menciptakan “keluarga terpisah” yang berlangsung berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun.

“Kadang kami bingung harus beli makan atau bayar transport,” kata seorang orang tua pasien.

BPJS memang menanggung sebagian besar biaya pengobatan medis. Namun biaya nonmedis sering menjadi persoalan besar:

  • ongkos kapal,
  • sewa kamar,
  • makan pendamping,
  • susu anak,
  • hingga kebutuhan sehari-hari selama tinggal di kota.

Pertarungan yang Tidak Selalu Terlihat

Banyak orang mengira perjuangan pasien kanker hanya terjadi di ruang operasi atau ruang kemoterapi.

Padahal ada pertarungan lain yang tidak terlihat:

  • mencari donor darah,
  • menunggu trombosit,
  • mencegah infeksi,
  • memastikan anak tidak putus obat,
  • hingga menjaga kondisi psikologis keluarga.

Pasien leukemia sangat bergantung pada transfusi darah dan trombosit. Saat kondisi darah turun drastis, transfusi menjadi penyelamat utama.

Di sinilah solidaritas sosial sering bekerja.

Komunitas pendamping kanker anak di Manado kerap membantu keluarga pasien:

  • menyediakan rumah singgah,
  • bantuan logistik,
  • pendampingan psikologis,
  • hingga terapi bermain untuk anak-anak.

Di sela kemoterapi, beberapa relawan datang membawa buku gambar, mainan, atau badut hiburan sederhana.

Bagi anak-anak itu, tawa kecil di ruang rawat kadang menjadi obat yang sama pentingnya dengan infus kemoterapi.

Harapan Baru dari Layanan Kanker Anak

Dibanding satu dekade lalu, pelayanan kanker anak di Sulawesi Utara sebenarnya berkembang cukup signifikan.

RSUP Kandou kini telah memiliki sistem layanan kanker yang lebih terintegrasi:

  • dokter subspesialis hematologi-onkologi anak,
  • kemoterapi terstandar,
  • pemeriksaan laboratorium berkala,
  • hingga dukungan jejaring layanan kanker nasional.

Layanan ini juga terhubung dengan program pengampuan kanker nasional yang dikembangkan Kementerian Kesehatan bersama rumah sakit pusat kanker nasional.

Perkembangan itu penting karena leukemia anak bukan lagi penyakit yang otomatis berarti kematian.

Dengan terapi yang tepat dan disiplin pengobatan, banyak pasien dapat mencapai remisi bahkan sembuh total.

Namun keberhasilan itu sangat bergantung pada satu hal penting:
pengobatan tidak boleh terputus.

Tantangan Besar Indonesia Timur

Di atas kertas, sistem pelayanan kanker anak di Sulawesi Utara sudah jauh lebih baik dibanding masa lalu.

Tetapi tantangan geografis Indonesia Timur tetap menjadi persoalan besar.

Bagi keluarga di kota, kontrol rutin mungkin hanya soal kendaraan dan waktu. Namun bagi pasien kepulauan, kontrol berarti:

  • menyeberang laut,
  • mencari tiket kapal,
  • menginap,
  • dan mengeluarkan biaya tambahan.

Situasi itu membuat akses kesehatan tidak pernah benar-benar setara.

Anak-anak di pulau terluar harus berjuang lebih keras hanya untuk memperoleh layanan yang sama.

Di sinilah negara diuji:
apakah sistem kesehatan nasional benar-benar mampu menjangkau seluruh wilayah kepulauan secara adil?

Menjaga Harapan Tetap Hidup

Menjelang siang, aktivitas di Ruang Estella mulai ramai. Perawat datang membawa obat. Seorang anak menangis saat selang infus diperiksa. Di sudut lain, seorang ibu mencoba membujuk anaknya makan.

Di tempat seperti inilah, harapan sering diuji setiap hari.

Leukemia pada anak bukan hanya kisah tentang kanker darah. Ia adalah cerita tentang keluarga yang bertahan dalam ketidakpastian panjang. Tentang ibu yang tidak tidur semalaman. Tentang ayah yang bekerja jauh dari rumah. Tentang anak-anak yang kehilangan masa bermain karena harus mengenal ruang kemoterapi sejak dini.

Namun di balik semua itu, ada satu hal yang tetap hidup:
harapan untuk sembuh.

Dan selama harapan itu masih ada, Ruang Estella akan terus menjadi tempat di mana banyak keluarga memilih untuk bertahan melawan rasa takut—hari demi hari.

Box Data — Leukemia Anak di Sulawesi Utara

Jenis Terbanyak

  • Leukemia Limfoblastik Akut (LLA/ALL)

Kelompok Usia Rentan

  • 1–5 tahun

Pusat Penanganan Utama

  • Ruang Estella RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado

Terapi Utama

  • Kemoterapi
  • Transfusi darah/trombosit
  • Pemeriksaan sumsum tulang
  • Terapi suportif

Lama Pengobatan

  • 2–3 tahun

Tantangan Terbesar

  • Diagnosis terlambat
  • Akses kepulauan
  • Beban ekonomi keluarga
  • Risiko putus terapi

Penopang Utama Pembiayaan

  • BPJS Kesehatan

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button