BERITA TERBARUKESEHATAN

Penyakit Ginjal Kronis Mengintai Sulawesi Utara, Ribuan Warga Berisiko Tanpa Menyadarinya

Sulut termasuk provinsi dengan prevalensi penyakit ginjal kronis tertinggi di Indonesia. Dokter mengingatkan bahwa banyak penderita baru terdiagnosis saat ginjal sudah mengalami kerusakan berat.

MANADO – Penyakit ginjal kronis (PGK) kini menjadi salah satu ancaman kesehatan yang patut mendapat perhatian serius di Sulawesi Utara. Meski tidak selalu menimbulkan gejala pada tahap awal, penyakit ini dapat berujung pada gagal ginjal, kebutuhan cuci darah seumur hidup, hingga kematian apabila tidak ditangani secara dini.

Data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018 menunjukkan prevalensi penyakit ginjal kronis di Indonesia mencapai 0,38 persen atau sekitar 713 ribu jiwa. Sulawesi Utara termasuk salah satu provinsi dengan prevalensi tertinggi di Indonesia berdasarkan diagnosis dokter.

Kementerian Kesehatan mencatat bahwa tren penyakit ginjal kronis terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir, seiring meningkatnya kasus hipertensi, diabetes melitus, obesitas, serta pola hidup tidak sehat.

Para ahli kesehatan menyebut penyakit ginjal sebagai “silent disease” atau penyakit yang berkembang diam-diam. Banyak penderita tidak menyadari fungsi ginjalnya telah menurun hingga lebih dari 50 persen karena gejala pada stadium awal sering kali tidak terasa. Baru ketika muncul pembengkakan tubuh, penurunan volume urine, sesak napas, atau kelelahan berat, pasien mencari pertolongan medis.

Di Sulawesi Utara, faktor risiko terbesar yang berkontribusi terhadap penyakit ginjal kronis adalah hipertensi dan diabetes melitus. Kedua penyakit tersebut dapat merusak pembuluh darah halus di dalam ginjal secara perlahan selama bertahun-tahun.

Kondisi ini menjadi perhatian karena pasien yang telah memasuki stadium akhir umumnya membutuhkan terapi pengganti ginjal berupa hemodialisis atau cuci darah secara rutin. Penelitian yang dilakukan terhadap pasien hemodialisis di RSUP Prof. Dr. R.D. Kandou Manado juga menunjukkan bahwa pasien gagal ginjal sering memiliki penyakit penyerta yang meningkatkan risiko kematian.

Ancaman yang Sering Datang Terlambat

Berbeda dengan penyakit infeksi yang gejalanya muncul secara cepat, kerusakan ginjal berlangsung perlahan dan dapat berlangsung bertahun-tahun tanpa disadari.

Gejala yang perlu diwaspadai antara lain:

  • Kaki dan wajah membengkak.
  • Tekanan darah tinggi yang sulit dikontrol.
  • Mudah lelah dan lemas.
  • Penurunan jumlah urine.
  • Perubahan warna urine.
  • Mual dan kehilangan nafsu makan.
  • Sesak napas akibat penumpukan cairan dalam tubuh.

Dokter juga mengingatkan masyarakat agar tidak mengonsumsi obat-obatan tertentu secara berlebihan tanpa pengawasan tenaga kesehatan, terutama obat pereda nyeri dan suplemen yang tidak jelas kandungannya. Kebiasaan tersebut dapat memperberat kerja ginjal dalam jangka panjang.

Pencegahan Lebih Murah daripada Cuci Darah

Biaya pengobatan gagal ginjal merupakan salah satu beban terbesar dalam sistem pembiayaan kesehatan nasional. Karena itu, pencegahan dan deteksi dini menjadi langkah paling efektif.

Masyarakat dianjurkan untuk:

  • Mengontrol tekanan darah secara rutin.
  • Mengendalikan kadar gula darah.
  • Mengurangi konsumsi garam berlebihan.
  • Berhenti merokok.
  • Berolahraga secara teratur.
  • Memperbanyak konsumsi buah dan sayur.
  • Melakukan pemeriksaan fungsi ginjal secara berkala, terutama bagi penderita hipertensi dan diabetes.

Warning untuk Sulawesi Utara

Dengan jumlah penduduk Sulawesi Utara yang mencapai sekitar 2,6 juta jiwa, ribuan warga diperkirakan hidup dengan gangguan fungsi ginjal dalam berbagai stadium. Sebagian mungkin belum terdiagnosis karena belum pernah menjalani pemeriksaan kesehatan secara khusus.

Karena itu, penyakit ginjal kronis tidak boleh lagi dipandang sebagai masalah kesehatan individu semata, melainkan sebagai persoalan kesehatan masyarakat yang memerlukan perhatian serius. Tanpa upaya pencegahan dan deteksi dini yang lebih masif, jumlah pasien yang membutuhkan cuci darah berpotensi terus meningkat dari tahun ke tahun.

“Saat ginjal mulai terasa sakit, sering kali kerusakannya sudah terlambat. Karena itu, pemeriksaan dini jauh lebih penting daripada menunggu gejala muncul.”

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button