Waspada Ulkus Diabetikum, Luka Kecil di Kaki Penderita Diabetes Bisa Berujung Amputasi
Neuropati dan gangguan aliran darah membuat luka sulit sembuh. Deteksi dini dan perawatan kaki setiap hari menjadi kunci mencegah komplikasi mematikan.

FORUM ADIL – Banyak penderita diabetes menganggap luka kecil di kaki sebagai masalah sepele. Padahal, luka tersebut bisa berkembang menjadi ulkus diabetikum, salah satu komplikasi paling serius dari diabetes melitus yang menjadi penyebab utama amputasi kaki non-trauma di dunia.
Ulkus diabetikum atau diabetic foot ulcer merupakan luka terbuka yang umumnya muncul pada telapak kaki, tumit, atau ujung jari akibat kerusakan saraf dan gangguan sirkulasi darah yang dipicu kadar gula darah tinggi dalam jangka panjang.
Data berbagai penelitian menunjukkan sekitar 15–25 persen penyandang diabetes akan mengalami ulkus kaki selama hidupnya. Secara global, prevalensinya diperkirakan mencapai 6,3 persen, sementara sekitar 85 persen kasus amputasi kaki non-trauma pada penderita diabetes diawali oleh ulkus diabetikum.
Lebih mengkhawatirkan lagi, sejumlah studi menyebut angka kematian dalam lima tahun setelah munculnya ulkus diabetikum dapat mencapai sekitar 50 persen, terutama akibat infeksi berat dan komplikasi penyakit pembuluh darah.
Mengapa Luka Sulit Sembuh?
Penyebab utama ulkus diabetikum adalah neuropati diabetik, yaitu kerusakan saraf akibat tingginya kadar gula darah yang berlangsung lama.
Neuropati menyebabkan kaki kehilangan sensasi nyeri sehingga penderita sering tidak menyadari adanya luka, lecet, atau tekanan berlebihan dari sepatu. Selain itu, kerusakan saraf membuat kulit menjadi kering dan mudah pecah-pecah.
Komplikasi ini sering diperparah oleh penyakit arteri perifer, yaitu penyempitan pembuluh darah yang mengurangi aliran oksigen dan nutrisi ke jaringan kaki sehingga proses penyembuhan luka berlangsung sangat lambat.
Trauma ringan seperti tertusuk benda tajam, penggunaan sepatu yang sempit, kapalan, hingga infeksi bakteri dapat memperburuk kondisi dan menyebabkan luka semakin dalam.
Gejala yang Perlu Diwaspadai
Penderita diabetes harus segera memeriksakan diri apabila menemukan:
- Luka terbuka pada telapak kaki atau jari kaki.
- Luka yang tidak sembuh selama beberapa hari.
- Kemerahan, bengkak, atau terasa hangat.
- Keluar cairan atau nanah disertai bau tidak sedap.
- Kulit kering, pecah-pecah, atau kapalan tebal.
- Warna kulit berubah menjadi kehitaman sebagai tanda gangren.
Pada banyak kasus, penderita justru tidak merasakan nyeri meskipun luka sudah cukup dalam karena kerusakan saraf.
Penanganan Harus Cepat
Penanganan ulkus diabetikum membutuhkan kerja sama berbagai tenaga kesehatan.
Terapi meliputi pengendalian gula darah secara ketat, pembersihan jaringan mati (debridement), penggunaan balutan luka modern, pemberian antibiotik jika terdapat infeksi, hingga mengurangi tekanan pada kaki dengan alas kaki khusus (off-loading).
Pada pasien dengan gangguan aliran darah berat, tindakan revaskularisasi untuk memperbaiki sirkulasi dapat menjadi pilihan. Namun, bila infeksi telah meluas dan jaringan tidak dapat diselamatkan, amputasi terkadang menjadi langkah terakhir untuk menyelamatkan nyawa pasien.
Pencegahan Lebih Baik daripada Mengobati
Dokter menegaskan bahwa sebagian besar ulkus diabetikum sebenarnya dapat dicegah melalui perawatan kaki yang sederhana tetapi dilakukan secara rutin.
Langkah pencegahan yang dianjurkan meliputi memeriksa kaki setiap hari, mencuci kaki menggunakan air hangat suam-suam kuku dan mengeringkannya terutama di sela-sela jari, menggunakan sepatu yang nyaman dan sesuai ukuran, tidak berjalan tanpa alas kaki, memotong kuku dengan benar, menjaga kadar gula darah tetap terkontrol, berhenti merokok, serta melakukan pemeriksaan kaki secara berkala ke tenaga kesehatan.
Dengan deteksi dini dan pengendalian diabetes yang baik, risiko amputasi akibat ulkus diabetikum dapat ditekan secara signifikan. Karena itu, setiap luka sekecil apa pun pada kaki penderita diabetes sebaiknya tidak diabaikan dan segera mendapatkan penanganan medis.



