SMKN 2 Manado Jadi Model Nasional, Dr. Ivan Kaunang: Budaya Bukan Seremoni, Tapi Fondasi Pendidikan
Pakar sejarah Sulut soroti integrasi budaya dan karakter sebagai kekuatan daya saing global siswa vokasi

MANADO – Di tengah derasnya arus digitalisasi yang kerap mengikis nilai-nilai lokal, SMKN 2 Manado justru tampil sebagai contoh berbeda di tingkat nasional. Sekolah vokasi ini dinilai berhasil menempatkan budaya sebagai fondasi pendidikan, bukan sekadar pelengkap seremoni tahunan.
Apresiasi tersebut disampaikan oleh Dr. Ivan R. B. Kaunang, pakar sejarah dan budayawan Sulawesi Utara, saat menanggapi peringatan Hari Kartini yang dipadukan dengan Program Indonesia ASRI di sekolah tersebut, Selasa (21/4/2026).
Dalam kegiatan itu, siswa tidak hanya mengenakan kebaya dalam upacara, tetapi juga terlibat dalam kerja bakti massal, pelatihan Tari Maengket, Musik Masamper, hingga pameran karya Desain Komunikasi Visual (DKV) edisi Kartini.
Budaya sebagai Fondasi, Bukan Pelengkap

Menurut Dr. Ivan, persiapan Hardiknas yang menampilkan budaya tarian Maengket dan Masamper yang dilakukan SMKN 2 Manado mencerminkan kesadaran mendalam akan pentingnya budaya sebagai basis pembentukan karakter generasi muda.
“SMKN 2 Manado dapat dikatakan sebagai sekolah yang tahu menghargai dan menempatkan budaya pada tempatnya. Tidak banyak sekolah yang seperti ini,” tegasnya.
Ia menilai, di tengah era milenial yang serba digital, pijakan budaya lokal justru menjadi modal penting agar lulusan mampu bersaing secara global tanpa kehilangan identitas.

Lima Pilar Pendidikan Karakter Terintegrasi
Lebih lanjut, Dr. Ivan menggarisbawahi bahwa kekuatan SMKN 2 Manado terletak pada integrasi lima aspek pendidikan karakter dalam satu rangkaian kegiatan nyata.
Pertama, sehat jasmani, tercermin dari kerja bakti dan aktivitas fisik dalam latihan tari.
Kedua, sehat rohani, melalui penghayatan nilai religius dalam Masamper serta refleksi perjuangan Kartini.
Ketiga, kecerdasan intelektual, terlihat dari kreativitas siswa DKV yang memproduksi karya bernilai ekonomi.
Keempat, kecerdasan emosional dan sosial, melalui kolaborasi lintas peran antar siswa.
Kelima, kepribadian kebangsaan, melalui kebanggaan terhadap budaya nasional dan lokal.
“Ini pendidikan karakter yang konkret, bukan teori di atas kertas. Anak-anak mengalami langsung, dan itu yang akan melekat,” jelasnya.
“Kekuatan Lokal yang Mengglobal” Jadi Kunci
Dr. Ivan juga menyoroti pentingnya konsep “kekuatan lokal yang mengglobal” dalam menghadapi persaingan dunia kerja.
Menurutnya, lulusan vokasi tidak cukup hanya memiliki keterampilan teknis, tetapi harus memiliki identitas budaya yang kuat sebagai nilai tambah.
“Di industri global seperti perhotelan atau kapal pesiar, kemampuan menjelaskan filosofi di balik Maengket atau makna spiritual Masamper menjadi soft power yang tidak bisa digantikan mesin,” paparnya.
Sekolah sebagai Rumah Budaya
Ia mendorong agar sekolah-sekolah lain menjadikan budaya sebagai bagian inti pendidikan, bukan sekadar simbolik.
“Sekolah harus menjadi rumah budaya. Tempat generasi muda menemukan jati dirinya sebelum bersaing di dunia global,” pesannya.
Komitmen Sekolah: Vokasi Kuat, Budaya Mengakar

Menanggapi apresiasi tersebut, Kepala SMKN 2 Manado, Tineke Lesar, menyampaikan bahwa pengakuan ini menjadi motivasi untuk terus memperkuat arah pendidikan sekolah.
“Ini membuktikan bahwa jalur yang kami tempuh sudah tepat: vokasi harus kuat, budaya harus mengakar,” ujarnya.
Ke depan, pihak sekolah berencana mewajibkan Maengket dan Masamper sebagai kegiatan ekstrakurikuler bagi siswa.



