Harga Cengkih Tembus Rp118 Ribu, Kopra Mulai Bangkit: Komoditas Andalan Sulut Kembali Bergairah
Kenaikan harga cengkih dan stabilnya pala memberi angin segar bagi petani Sulawesi Utara, sementara kopra perlahan pulih setelah sempat tertekan pasar global pada awal 2026.

MANADO, 21 Mei 2026 — Pergerakan harga komoditas perkebunan di Sulawesi Utara mulai menunjukkan tren positif pada Mei 2026. Sejumlah komoditas unggulan seperti cengkih, kopra, dan pala mengalami penguatan harga di tingkat gudang dan pengumpul besar di Manado.
Kondisi ini menjadi kabar baik bagi petani di sentra-sentra produksi seperti Minahasa, Bolaang Mongondow, Kepulauan Sangihe, hingga wilayah Sitaro yang selama beberapa bulan terakhir menghadapi tekanan harga akibat fluktuasi pasar ekspor dan lemahnya daya beli industri pengolahan.
Komoditas yang paling mencolok mengalami penguatan adalah cengkih. Harga cengkih kering kualitas gagang bersih kini bertahan tinggi di kisaran Rp117 ribu hingga Rp118 ribu per kilogram. Stabilnya harga ini dinilai menjadi sinyal mulai pulihnya permintaan industri rokok kretek nasional serta meningkatnya kebutuhan bahan baku minyak atsiri.
Selain bunga utama, bagian turunan seperti gagang cengkih juga masih memiliki nilai ekonomi. Di tingkat pengumpul, gagang cengkih kering diperdagangkan pada kisaran Rp32 ribu hingga Rp50 ribu per kilogram, tergantung kualitas dan tingkat kekeringan.
Sementara itu, minyak atsiri cengkih atau crude clove oil tercatat berada pada kisaran Rp150 ribu hingga Rp180 ribu per kilogram. Harga minyak sangat dipengaruhi kadar eugenol yang menjadi komponen utama dalam industri farmasi, kosmetik, hingga bahan baku antiseptik.
Di sektor kelapa, harga kopra mulai bergerak naik meski belum sepenuhnya pulih. Setelah sempat jatuh hingga Rp15 ribu per kilogram pada awal 2026 akibat melimpahnya stok global dan perlambatan ekspor, kini harga kopra gudang kualitas ekspor mulai merangkak ke angka Rp17.300 per kilogram.
Untuk kopra harian di tingkat petani, harga masih berada di kisaran Rp14.500 hingga Rp15.500 per kilogram tergantung kualitas penjemuran dan kadar air.
Kondisi ini menunjukkan adanya fase pemulihan bertahap di pasar kelapa Sulawesi Utara yang selama bertahun-tahun menjadi salah satu penopang ekonomi masyarakat pesisir dan pedesaan.
Turunan lain seperti bungkil kopra atau copra meal juga tetap memiliki pasar tersendiri sebagai bahan baku pakan ternak. Harga saat ini berkisar Rp2.500 hingga Rp3.000 per kilogram dalam pembelian partai besar.
Sedangkan minyak kelapa mentah atau crude coconut oil (CNO) diperdagangkan di tingkat pabrik pengolahan pada kisaran Rp22 ribu hingga Rp24 ribu per kilogram.
Di sisi lain, komoditas pala asal Sulawesi Utara masih menunjukkan stabilitas harga yang relatif kuat. Pasokan pala dari wilayah Kepulauan Sitaro, terutama Siau, Tagulandang, dan Biaro, tetap diminati pasar rempah nasional maupun ekspor.
Harga biji pala kering kualitas super saat ini berada di kisaran Rp95 ribu hingga Rp105 ribu per kilogram. Untuk kualitas menengah atau pala pecah dan keriput, harga berkisar Rp70 ribu hingga Rp80 ribu per kilogram.
Bagian paling mahal dari komoditas ini masih dipegang fuli pala atau bunga pala, yakni lapisan merah yang menyelimuti biji pala. Di pasar pengumpul Manado, fuli pala dihargai antara Rp205 ribu hingga Rp220 ribu per kilogram tergantung tingkat kekeringan dan keutuhan bentuknya.
Tak hanya untuk ekspor rempah, buah pala juga menjadi bahan baku industri makanan khas daerah. Daging buah pala basah yang biasa digunakan untuk manisan dibeli dari petani dengan harga Rp5 ribu hingga Rp7 ribu per kilogram.
Namun setelah diolah menjadi manisan pala khas Manado, nilai jualnya meningkat tajam hingga mencapai Rp65 ribu sampai Rp80 ribu per kilogram di pusat oleh-oleh dan toko produk UMKM.
Pelaku usaha rempah menilai tren harga komoditas perkebunan Sulawesi Utara saat ini cukup menjanjikan menjelang pertengahan tahun. Meski demikian, mereka mengingatkan bahwa harga masih sangat sensitif terhadap kondisi ekspor, nilai tukar rupiah, serta permintaan industri nasional.
Di lapangan, harga di tingkat petani umumnya sedikit lebih rendah dibanding harga gudang di Manado karena adanya biaya transportasi, distribusi, dan margin tengkulak dari daerah produksi menuju pusat perdagangan.
Meski begitu, pergerakan harga Mei 2026 dinilai memberi optimisme baru bagi sektor perkebunan rakyat yang selama ini menjadi tulang punggung ekonomi ribuan keluarga di Sulawesi Utara.



