BERITA TERBARULENSA FORUMADIL

Laklak Bali: Jajanan Tradisional Pulau Dewata yang Legit, Gurih, dan Tetap Diburu Wisatawan

Kuliner Tradisional yang Masih Bertahan di Tengah Tren Modern

Di balik ramainya destinasi wisata Bali, tersimpan banyak warisan kuliner tradisional yang tetap bertahan hingga sekarang. Salah satu yang paling dikenal masyarakat lokal adalah Laklak Bali atau Jaje Laklak, jajanan pasar khas Bali yang memiliki rasa sederhana namun kaya aroma tradisi.

Sekilas, Laklak terlihat mirip serabi khas Jawa. Bentuknya kecil bulat dengan permukaan berpori. Namun, Laklak Bali memiliki ciri khas tersendiri, mulai dari warna hijaunya yang alami, aroma pandan yang kuat, hingga perpaduan kelapa parut dan gula merah cair yang menjadi pelengkap utamanya.

Kuliner ini masih mudah ditemukan di pasar tradisional Bali, terutama pada pagi hari. Banyak wisatawan juga mulai memburu Laklak karena dianggap sebagai salah satu jajanan autentik Pulau Dewata.

Mengandalkan Bahan Sederhana dari Dapur Tradisional

Salah satu alasan Laklak tetap populer adalah karena bahan pembuatannya sangat sederhana dan mudah ditemukan.

Bahan Dasar Laklak Bali:

  • Tepung beras
  • Santan kelapa
  • Air daun pandan atau daun suji
  • Sedikit garam
  • Baking powder atau pengembang

Sementara untuk pelengkapnya biasanya menggunakan:

  • Kelapa parut kukus
  • Gula merah atau gula aren cair

Warna hijau pada Laklak berasal dari pandan atau daun suji alami. Selain memberi warna khas, bahan alami ini juga menghasilkan aroma harum yang menjadi identitas utama Laklak Bali.

Cara Membuat Laklak Bali Tradisional

Meski terlihat sederhana, proses pembuatan Laklak membutuhkan teknik tertentu agar teksturnya lembut di dalam namun tetap sedikit renyah di bagian luar.

Tahapan Membuat Laklak:

  1. Tepung beras dicampur santan, air pandan, garam, dan sedikit baking powder hingga menjadi adonan cair.
  2. Adonan kemudian didiamkan beberapa saat agar lebih mengembang.
  3. Cetakan kecil dipanaskan terlebih dahulu, biasanya menggunakan cetakan tanah liat atau cetakan logam mini.
  4. Adonan dituangkan ke dalam cetakan lalu ditutup hingga matang.
  5. Setelah matang, Laklak ditaburi kelapa parut dan disiram gula merah cair.

Secara tradisional, Laklak dimasak di atas tungku kayu bakar. Cara ini menghasilkan aroma asap khas atau yang dikenal masyarakat Bali sebagai aroma “sangit”, yang justru menjadi daya tarik tersendiri.

Cita Rasa yang Membuat Laklak Tetap Dicari

Laklak memiliki tekstur unik. Bagian bawahnya sedikit garing karena proses pemanggangan, sedangkan bagian tengahnya lembut dan empuk.

Rasa gurih santan berpadu dengan manis legit gula aren menciptakan kombinasi rasa yang sederhana namun sangat khas. Kelapa parut di atasnya juga memberi sensasi tekstur tambahan yang membuat Laklak semakin nikmat disantap hangat.

Tak heran jika jajanan ini masih menjadi favorit masyarakat lokal hingga wisatawan yang ingin menikmati kuliner tradisional Bali.

Tidak Sekadar Jajanan Pasar

Bagi masyarakat Bali, Laklak bukan hanya makanan ringan biasa. Dalam budaya Hindu Bali, Laklak juga sering digunakan sebagai bagian dari sarana upacara atau banten.

Keberadaan Laklak dalam tradisi adat membuat kue ini memiliki nilai budaya yang kuat. Karena itu, banyak keluarga di Bali masih mempertahankan resep turun-temurun agar cita rasa aslinya tidak hilang.

Mulai Hadir dengan Variasi Modern

Perkembangan zaman membuat Laklak kini hadir dalam berbagai inovasi. Ada Laklak kelor, Laklak cokelat, hingga topping modern seperti keju dan susu.

Namun demikian, Laklak tradisional dengan gula merah dan kelapa parut tetap menjadi yang paling dicari. Banyak penikmat kuliner justru menganggap rasa asli Laklak sebagai simbol kesederhanaan kuliner Bali yang sulit tergantikan.

Menjaga Warisan Kuliner Nusantara

Laklak Bali menjadi bukti bahwa makanan tradisional tetap mampu bertahan di tengah gempuran kuliner modern. Dengan bahan sederhana, proses tradisional, dan rasa autentik, jajanan ini terus hidup dari generasi ke generasi.

Lebih dari sekadar kue basah, Laklak adalah bagian dari identitas budaya Bali yang hingga kini masih menghangatkan pagi masyarakat Pulau Dewata.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button