BERITA TERBARUPENDIDIKAN

Dipercaya Tampil di Hardiknas Tingkat Provinsi, SMKN 2 Manado Angkat Maengket dan Masamper sebagai Simbol Pendidikan Berbasis Budaya

Latihan intensif dilakukan, siswa dibina untuk tampil membawa identitas Sulawesi Utara di panggung peringatan Hardiknas

MANADO – Menjelang peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) yang diperingati setiap 2 Mei, SMK Negeri 2 Manado terus mematangkan persiapan untuk tampil dalam rangkaian kegiatan tingkat Provinsi Sulawesi Utara.

Sekolah yang beralamat di Jl. Pomurow, Tikala Baru, Kecamatan Tikala, Kota Manado ini menjadi salah satu yang dipercaya mengisi acara, dengan mengusung konsep budaya lokal melalui seni Maengket Minahasa dan Masamper khas Sangihe–Talaud.

Pantauan di lokasi latihan, para siswa tampak serius mengikuti pembinaan yang dipimpin langsung oleh bapak Cakra, Wakil Kepala sekolah bidang kesiswaan (Wakasis). Mereka berlatih tidak hanya dari sisi vokal dan kekompakan, tetapi juga penghayatan makna dari setiap syair yang dibawakan.

Masamper sendiri merupakan tradisi tarian dan bernyanyi berkelompok yang sarat nilai-nilai kebersamaan, persaudaraan, serta pesan moral yang telah diwariskan secara turun-temurun di Minahasa dan wilayah Sangihe-Talaud.

Di tengah arus pendidikan modern yang kerap menitikberatkan pada capaian akademik, pendekatan yang diambil SMKN 2 Manado ini menjadi penegasan bahwa pendidikan tidak boleh tercerabut dari akar budaya.

Kepala SMK Negeri 2 Manado, Tineke Lesar, S.Pd., M.Pd., menegaskan bahwa keikutsertaan sekolah dalam perayaan Hardiknas bukan sekadar tampil di panggung, melainkan membawa pesan yang lebih dalam.

“Kami ingin menunjukkan bahwa pendidikan tidak boleh lepas dari budaya. Maengket dan Masamper ini bukan hanya seni, tetapi sarana membentuk karakter, kebersamaan, dan identitas siswa,” ujarnya.

Lebih lanjut, penampilan ini diharapkan menjadi representasi generasi muda Sulawesi Utara yang tidak hanya memiliki keterampilan, tetapi juga memahami nilai-nilai lokal sebagai bagian dari jati diri dan kearifan lokal.

Mengangkat Maengket dan Masamper sebagai bagian utama penampilan, SMKN 2 Manado ingin menghadirkan pesan bahwa modernisasi dan budaya tidak harus saling meniadakan, melainkan dapat berjalan beriringan.

Momentum Hardiknas pun menjadi ruang refleksi bahwa pendidikan tidak cukup hanya menghasilkan lulusan siap kerja, tetapi juga generasi yang berkarakter dan berakar pada budaya.

Jika pendidikan kehilangan budaya, maka yang tersisa hanyalah sistem tanpa identitas.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button