BERITA TERBARUSULUT

Harga Pangan Akhir Juni 2026: Cabai Sulut Sentuh Rp80 Ribu, Beras Nasional Masih Bertahan di Atas HET

Fluktuasi harga kelompok "Barito" masih menjadi perhatian masyarakat Sulawesi Utara. Sementara itu, secara nasional harga beras belum kembali ke tingkat Harga Eceran Tertinggi (HET), meski sejumlah komoditas hortikultura mulai menunjukkan tren penurunan.

MANADO – Pergerakan harga bahan pokok di penghujung Juni 2026 masih menjadi perhatian masyarakat. Berdasarkan pantauan harga pangan nasional dan kondisi di sejumlah pasar tradisional Sulawesi Utara hingga 27–28 Juni 2026, harga beras nasional masih bertahan di atas Harga Eceran Tertinggi (HET), sedangkan harga cabai dan bawang mulai menunjukkan tren yang lebih stabil.

Di tingkat nasional, rata-rata harga beras kualitas medium masih berada pada kisaran Rp16.100–Rp16.300 per kilogram. Angka tersebut masih berada di atas HET yang ditetapkan pemerintah. Beras premium juga bertahan di kisaran Rp17.600 per kilogram, mencerminkan pasokan yang mulai membaik namun belum sepenuhnya menekan harga di tingkat konsumen.

Sementara itu, harga komoditas hortikultura perlahan mengalami penyesuaian. Bawang merah rata-rata nasional berada di kisaran Rp50.950 per kilogram, sedangkan cabai rawit merah masih menjadi komoditas termahal dengan harga sekitar Rp69.750 per kilogram. Cabai merah keriting dan cabai merah besar diperdagangkan di kisaran Rp53 ribuan per kilogram.

Di Sulawesi Utara, dinamika harga memiliki karakteristik tersendiri. Kelompok komoditas yang dikenal masyarakat sebagai “Barito”—yakni bawang, rica (cabai), dan tomat—masih mengalami perubahan harga yang cukup cepat mengikuti kondisi pasokan dari sentra produksi.

Harga cabai rawit (rica) di sejumlah pasar tradisional, termasuk Pasar Bersehati Manado, berada pada kisaran Rp60.000 hingga Rp80.000 per kilogram, tergantung kualitas dan ketersediaan pasokan. Pedagang menyebut pasokan dari daerah pemasok seperti Gorontalo dan sebagian wilayah Sulawesi Selatan belum sepenuhnya stabil sehingga harga masih mudah berfluktuasi.

Berbeda dengan cabai rawit, harga cabai merah keriting berada di kisaran Rp45.000–Rp50.000 per kilogram. Bawang merah diperdagangkan pada kisaran harga yang sama, sedangkan tomat mulai turun menjadi sekitar Rp20.000–Rp22.000 per kilogram setelah sempat mengalami kenaikan pada awal bulan.

Untuk kebutuhan pokok lainnya, harga beras premium di Sulawesi Utara relatif sejalan dengan rata-rata nasional, yakni sekitar Rp16.000–Rp16.500 per kilogram. Beras SPHP Bulog dijual sesuai ketentuan pemerintah, yakni Rp62.500 per kemasan lima kilogram.

Komoditas protein hewani juga relatif stabil. Daging ayam ras dijual pada kisaran Rp35.000–Rp39.000 per kilogram, sedangkan telur ayam ras mencapai sekitar Rp33.000 per kilogram atau Rp60.000–Rp70.000 per baki. Harga telur di Sulawesi Utara tercatat masih lebih tinggi dibandingkan rata-rata nasional.

Menariknya, harga daging sapi di Sulawesi Utara justru lebih rendah dibandingkan rata-rata nasional. Jika secara nasional harga daging sapi kualitas I mendekati Rp149 ribu per kilogram, di Sulut harga masih berada pada kisaran Rp130.000–Rp135.000 per kilogram.

Untuk kebutuhan rumah tangga lainnya, minyak goreng MinyaKita diperdagangkan sekitar Rp18.000 per liter, sementara gula pasir bertahan di kisaran Rp20.000 per kilogram.

Pengamat ekonomi menilai tren penurunan harga sejumlah komoditas hortikultura merupakan sinyal positif memasuki musim panen di beberapa daerah. Namun, stabilitas pasokan dan kelancaran distribusi tetap menjadi faktor penting untuk menjaga harga pangan, khususnya di wilayah kepulauan seperti Sulawesi Utara yang masih bergantung pada pasokan antardaerah untuk beberapa komoditas.

Dengan kondisi tersebut, masyarakat diharapkan tetap bijak dalam berbelanja, sementara pemerintah terus memperkuat distribusi dan menjaga ketersediaan stok guna mengendalikan inflasi pangan pada semester kedua 2026.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button